Ibu-ibu PKK dan PMM 79 Adakan Lomba di Desa Sumengko Gresik

Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang di Desa Sumengko, Gresik. (Foto: BG/AS)

BeritaGresik.com – Ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) bersama dengan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) kelompok 79 gelombang 5 Universitas Muhammadiyah Malang mengadakan sejumlah perlombaan di desa Sumengko, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik.

Ketua Kelompok 79 PMM Universitas Muhammadiyah Malang Nur Islakhun Nisa’ mengatakan, kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kreativitas warga setempat. Perlombaan berlangsung pada tanggal 29 sampai 30 Agustus 2020.

“Lomba tersebut meliputi lomba memasak, lomba fashion show dan lomba tartil Al-Qur’an. Sementara para peserta terdiri atas perwakilan dari seluruh RT yang ada di Desa Sumengko,” kata Nur kepada Berita Gresik, Rabu (2/9/2020).

Kegiatan yang diadakan di balai Desa Sumengko ini tetap menerapkan protokol kesehatan. Para peserta bahkan wajib menggunakan masker, mencuci tangan atau menggunakan handsanitizer, serta menjaga jarak.

Lebih lanjut Nur menjelaskan, tema untuk kategori lomba memasak kali ini adalah makanan atau jajanan tradisional. Lomba memasak ini diikuti oleh ibu-ibu perwakilan dari tiap RT yang ada di desa Sumengko.

“Peserta lomba memasak kali ini banyak yang menyuguhkan jajanan tradisional, seperti getuk lindri, lentre, kue tape, sawut singkong dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Tidak hanya itu, peserta lomba memasak juga ada yang menyuguhkan makanan tradisional berupa mini tumpeng yang di dalamnya berisikan nasi putih, abon dari jantung pisang, ikan asin oseng, dan peyek dari daun kelor.

Menurutnya, antusiasme warga Desa Sumengko dalam mengikuti lomba fashion show juga cukup tinggi. Itu terlihat dari banyaknya penonton yang memadati balai desa. Tema lomba fashion show adalah kemerdekaan dan Covid-19.

“Tiap RT mewakili satu sampai dua peserta untuk ikut dalam berpartisipasi. Kostum dan aksesoris yang digunakan peserta cukup unik, ada yang menggunkaan kebaya tempoe dulu, pakaian adat nusantara, pakaian dari daur ulang plastik, pakaian alat pelindung diri, dan masih banyak lagi,” papa Nur.

Sementara lomba tartil Al-Qur’an juga tak kalah menarik. Tiap RT mengirimkan pesertanya untuk dinilai oleh tim penguji. Peserta tartil Al-Qur’an kali ini banyak diikuti anak-anak. Tim penguji menilai lantunan ayat suci Al-Qur’an, bacaan tajwidnya, serta ketepatan makhrajnya. (as)

No Response