Wakil Ketua MPR Dorong Pemerintah-Swasta Ambil Peran Bangun Wilayah Pesisir

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid. (Foto: Istimewa)

BeritaGresik.com – Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mendorong pemerintah pusat dan daerah, serta pihak swasta dan perguruan tinggi, juga badan-badan usaha untuk mengambil peran dalam rangka penguatan pembangunan di daerah pesisir atau wilayah kepulauan.

Menurut Jazil, Indonesia adalah negara maritim yang memiliki garis pantai sangat panjang hampir 81.000 km, hampir setara Benua Eropa dan 17.500 pulau.

“Ini adalah kekayaan yang luar biasa yang dimiliki oleh Indonesia, dan kekayaan ini sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” katanya dalam Webinar bertajuk “Revitalisasi Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia” yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Sains (STIS) Mambaul Falah Bawean bekerja sama dengan Universitas Mataram, NTB, Kamis (9/7/2020).

Dikatakan Jazil, Reformasi 1998 salah satunya bertujuan untuk menggeser pola pikir darat ke laut, menggeser cara pandang terhadap kebijakan pembangunan yang sebelumnya lebih bertumpu pada daratan menjadi bertumpu kepada laut. “Setelah Reformasi itu, lahirlah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),” ujarnya.

Menurutnya, lahirnya KKP dalam rangka menggeser orientasi pembangunan dari darat ke laut. Sebab, pesisir dan pulau-pulau kecil menjadi sentra sumber kemiskinan di Indonesia. Padahal semestinya laut, pesisir, pulau-pulau, justru menjadi kekuatan dalam membangun negara ini.

“Justru masyarakat nelayan, masyarakat pesisir, masyarakat pulau-pulau kecil, kalau kita ukur dari kemampuan IPM-nya (Indeks Pembangunan Manusia), saya melihatnya terbelakang. Meskipun, saya sendiri bangga menjadi anak pulau kecil,” kata pejabat asal Pulau Bawean, Gresik Jawa Timur ini.

Gus Jazil mengatakan, saat ini, sudah ada Peraturan tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, ada juga Undang-Undang Kelautan. Selain itu, Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan juga sedang dibahas DPR dan menjadi Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2020.

“Hemat saya, hal yang penting adalah adalah implementasinya. Masyarakat hukum adat harus dibina sehingga memiliki kemampuan untuk melahirkan sumber daya yang unggul di masing-masing daerah pesisir atau kepulauan,” tuturnya.

Karena itu, menurutnya, webinar ini akan menjadi bermakna jika ada tindak lanjut untuk pengembangan pulau-pulau kecil, sehingga masyarakat adat Bawean atau komunitas yang berkembang di Bawean memiliki pemberdayaan.

“Karena saya orang Bawean, tentu saya tahu betul bahwa tingkat ekonomi masyarakat Bawean, termasuk juga nelayan, kapasitas nelayan, keunggulan nelayan yang ada di Bawean itu belum memiliki keunggulan yang cukup untuk mampu mengelola sumber daya yang ada di pesisir Pulau Bawean,” jelasnya.

Jazil juga meminta Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Aryo Anggono yang juga menjadi pembicara dalam webinar tersebut untuk memasukan Bawean sebagai bagian dari pembangunan masyarakat pesisir. Dia mengaku sudah berinisiatif untuk menjadikan Bawean sebagai pulau yang dikenal memiliki potensi baik, potensi kelautan maupun potensi wisata.

Sejak 2018, Jazil bahkan telah meminta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) agar kegiatan pariwisata, Sail Bawean dimasukkan menjadi rute dari Sail Internasional sehingga Pulau Bawean dikenal.

“Saya berterima kasih kepada Kemenparekraf yang sejak 2018, Pulau Bawean telah dimasukkan dalam rute Sail Internasional sehingga Bawean mulai sedikit dikenal,” ungkapnya.

Sayangnya, pejabat daerah dan masyarakat setempat dinilai belum memahami bahwa kegiatan tersebut memiliki dampak terhadap pariwisata maupun promosi Pulau Bawean.

“Salah satu cara untuk mengembangkan dan memberdayakan masyarakat pesisir adalah meningkatkan sumber daya manusia untuk pengelolaan alam dan dan pesisir,” tuturnya.

Pembicara lain dalam webminar tersebut yakni Rektor Unisma Malang sekaligus Ketua Forum Rektor PTNU Prof Dr Maskuri dan Wakil Ketua I STIS Mambaul Falah Bawean Angky Soedrijanto. (as)

No Response