Peran Ahli Forensik Pada Kasus Pemerkosaan

No comment 1431 views

Pratikah Verdianti, mahasiswa Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Pratikah Verdianti, (Mahasiswa Magister Ilmu Forensik, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya)

INDONESIA merupakan salah satu negara dengan tingkat kejahatan yang cukup tinggi. Salah satu kasus kejahatan yang marak terjadi di tengah masyarakat, yakni kejahatan seksual, khususnya kasus pemerkosaan.

Tindak pemerkosaan termasuk dalam ketegori kejahatan serius dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Tindakan pemerkosaan ini dapat menyebabkan penderitaan fisik, sosial serta trauma psikologi pada korba dan juga keluarga.

Selain itu, pemerkosaan menyebabkan gangguan kesehatan seksual dan reproduksi terhadap korban, baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang. Lebih parah lagi, tindakan itu dapat memicu terjadinya kematian karena terinfeksi penyakit, bunuh diri, serta pembunuhan yang dilakukan pelaku.

Menurut hasil survei yang diberitakan di salah satu media massa pada 2016 silam, terdapat 93% kasus pemerkosaan di Indonesia dan dua pertiga korban permekosaan adalah perempuan berusia di bawah 18 tahun. Komnas Perempuan mencatat, kekerasan seksual di ranah personal pada Maret 2018 sebanyak 619 dan di ranah komunitas 669 kasus.

Peran forensik dalam kasus pemerkosaan

Pasal 285 KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) menyebutkan, barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.

Hal ini menuntut adanya tanda-tanda persetubuhan untuk menentukan apakah terjadi pemerkosaan atau tidak. Untuk itu, polisi akan meminta bantuan seorang ahli forensik yang dapat menentukan apakah telah terjadi kasus pemerkosaan atau tidak serta dapat mengungkap pelaku pemerkosaan.

Forensik itu sendiri dalam pengertian Bahasa Indonesia berarti bidang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan proses penegakan keadilan dalam pengadilan melalui proses penerapan ilmu atau sains. Ilmu Forensik berguna untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan bukti-bukti fisik yang ditemukan di tempat kejadian perkara dan dihadirkan dalam persidangan.

Pembuktian suatu kasus pemerkosaan dengan melakukan pemeriksaan TKP merupakan kunci keberhasilan untuk menggungkapkan suatu perkara pidana, serta bukti-bukti yang ada seperti cairan biologis pada tubuh korban atau di tempat kejadian perkara. Cairan biologis ini dapat berupa darah, air mani, cairan vagina dan bisa juga ditemukan rambut kemaluan.

Bukti-bukti tersebut yang nantinya akan diperiksa oleh seorang ahli forensik. Hasil dari pemeriksaan dapat dijadikan barang bukti yang sah sesuai pasal 183 KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) yang berbunyi, hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah serta keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Kemudian, dalam pasal 184 KUHAP disebutkan, alat bukti yang sah ialah: (a) keterangan saksi; (b) keterangan ahli; (c) surat; (d) petunjuk; (e) keterangan terdakwa.

Selain dari hasil pemeriksaan, seorang ahli forensik juga dapat memberikan keterangan sesuai dengan keilmuannya.
Indonesia merupakan negara hukum, sehungga dalam penyelesaian suatu tindak pidana tidak hanya satu pihak saja seperti polisi, jaksa, hakim dan penasihat hukum, melainkan melibatkan berbagai pihak dalam penyelesaiannya. Salah satunya adalah ahli forensik yang dapat membantu sesuai dengan bidang pengetahuannya untuk kepentingan peradilan. ()

No Response