Haul Ke-6 KH. Anwari Faqih: Kiai Nyentrik Mendidik dengan Keteladanan

Almarhum KH. Anwari Faqih. (Foto: Istimewa)

KH. Anwari Faqih adalah sosok pendidik sejati. Tegas, teguh pendiriaan, namun tetap egaliter. Seorang pendobrak dan printis pendidikan yang bermodal keuletan, keberanian, tanggungjawab, keterpanggilan moral dan ketulusan.

Tidak tanggung-tanggung Kiai Berik-demikian masyarakat sekitar memanggilnya-bukan hanya mempelopori lahirnya sebuah sistem pendidikan Islam tradiosional (Pensantren) yg diberi nama Ummi Rotiah, namun pada saat yang hampir bersamaan juga membidani lahirnya pendidikan formal: Madrasah Tsanawiyah (MTs)-Madrasah Aliyah (MA) Himayatul Islam di sebuah perkampungan yang relatif terpencil, Desa Kebuntelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Bawean-Gresik (terkait profile beliau dan lika-liku kiprah perjuangan Kiai Anwari dalam merintis pendidikan formal bisa dibaca ulasan Dr. Ainul Yakin “KH. Anwari Faqih Bawen, Pendidik Visioner”, NuOnline, 17/3/2018).

Yang menarik diketengahkan disini adalah bagaimana kualitas keilmuan, kapasitas managerial, kepemimpinan, dan keteladan menjadi faktor kunci keberhasilan perjuangan yang ditempuh Kiai Anwari Faqih dalam merintis dan memajukan lembaga pendidikan formal di sebuah perkampungan terpencil–dimana pada masa itu masyarakatnya masih sangat alergi dengan sistem pendidikan non-Pesantren (formal) yang dianggapnya sebagai warisan kolonial.

Sanad Keilmuan
Jika dilihat dari sisi sanad atau jejaring Keilmuan dan Keulamaan, KH. Anwari Faqih adalah titisan dari Kiai pejuang. Kiai Anwari boleh dibilang masih termasuk murid generasi pertama Bawean yang berguru langsung kepada KH. Zaini Mun’im 1906–1976 (Pendiri & Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid, Painton, Probolinggo). Seperti kita tahu dan dicatat oleh sejarah bahwa KH. Zaini Mun’im termasuk salah satu Kiai di Jawa Timur yg diburu oleh Belanda akibat keberaniannya menentang dan menggalang kekuatan rakyat dalam rangka menumpas Penjajahan Kolonial.

Ponpes Nurul Jadid (yang menjadi induk dan tempat penggemblengan Anwari Muda) dikenal dan masyhur hingga saat ini sebagai Ponpes dengan kurikulum Modern–dimana tidak hanya mencetak kader Ulama dan pendidik, namun juga manager, birokrat, politisi, pengusaha, dan pegiat sosial kemasyarakatan keagamaan dengan spektrum yang sangat luas.

Bahkan, menurut penuturan Almarhum (Baca: Kiai Anwari) dalam banyak kesempatan, menjadi teman diskusi Kiai Zaini dan diminta terlibat aktif dalam proses-proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan pembangunan pesantren–baik dari sisi kelembagaan, maupun dalam hal rancang bangun insfrastruktur Ponpes Nurul Jadid di masa-masa awal (Penulis mendengar penuturan itu secara langsung dari Almarhum kurang lebih dibawal tahun 2013, saat tengah pulang kampung halaman).

Dalam hal ini, penempaan diri selama mondok di Nurul Jadid–Kiai Berik telah mendapatkan pengalaman berharga dan berguna dikemudian hari dengan bekal jam terbang di bidang managerial pendidikan, kepemimpinan, serta pengetahuan yang memadai berkat bimbingan langsung Pengasuh pertama Pondok Paiton atau Tanjung–orang populer memanggilnya.

Kiai Nyentrik
Figur almarhum adalah figur yang langka karena gaya mendidiknya yang unik dan nyetrik-setidaknya untuk ukuran Kiai Kampung. Ini bisa dilihat dari kebiasaan almarhum (berdasar penuturan masyarakat dan santri Senior) bahwa almarhum tidak senang menonjolkan formalisme dan atribut-atribut yg selama ini melekat dengan Kiai.

Dalam pergaulan sehari-hari dan kegiatan santai bersama masyarakat Kiai Berik acapkali tampil dengan stelan celana panjang dibandingkan sarung, dan unikny juga tanpa ikat di kepala (peci). Orang yang belum mengenal akan kesusahan mencermati saat ditengah kerumunan karena Kiai dengan empat anak itu nyaris tanpa pengenal atribut Ke-Kiai-an layanya Kiai kebayakan yg identik dengan Peci dan Sarung.

Mendidik dengan Keteladan
Menariknya lagi, pola transformasi pengetahuan yang diterapkannya berbanding terbalik pola-pola pengajaran konvensional yang menitik beratkan pada pola pengajaran yang satu arah (paradigma guru sebagai pusat pembelajaran) yang cenderung teoritik dan konseptual.

Disisi yang lain Kiai menghidari pola pengajaran yang dogmatis dan miskin diskurus. Hal ini bisa terlihat cara Kiai mengeksplorasi Khazanah Kitab Klasik (Kitab Kuning) senantiasa dikontekstualisasikan dengan pristiwa aktual kemasyarakatan. Kadang tidak jarang disisipi dengan bumbu-bumbu homur yang segar dan cerdas.

Suami dari Nyai Adifah itu rupa-rupanya lebih tertarik pada model pembelajaran yang lebih humanis, pensuasif, dan menempatkan santri dan siswa sebagai aktor dan subjek pembelajar–bukan sebagai objek.

Dalam hal ini, Kiai Anwari banyak mengarahkan santrinya dalam kerja-kerja lapangan dalam rangka edukasi dan internalisasi aspek-aspek sosisal keagamaan, maupun dalam bidang sosial kemasyarakatan.

Upaya beliau agar ilmu pengatahuan dan lembaga pendidikan tidak boleh berjarak dengan masyarakat sangat terlihat dari kegiatan-kegiatan yang dicanangkan beliau. Yang diantaranya; kerja bhakti, ta’ziah dan tahlilan bagi masyatakat sekitar yang meninggal, kerja bhakti kampung sekitar pondok, gotong-royongan santri dalam sentiap pembangunan pesantren, bersih-bersih lingkungan pondok, resik-resik kali, resik-resik lingkungan sekolah, serta kerja bhakti menambang pasir dan batu krikil kali untuk keperluan perbaikan jalan raya kampung yang seringkali mengalami kerusakan parah akibat curah hujan.

Hampir semua santri yang pernah dididik beliau langsung (khususny generasi saya), pasti pernah menerima penugasan–dalam istilah Bawean “Ngatak” ( mengkoordinir) semua perangkat yang diperlukan-mulai dari timba, cangkul, linggis, dan memobilisir santri/siswa kerja kompak-untuk keperluan kerja sosial diatas.

Semua kegiatan itu beliau contohkan langsung dengan istiqomah dilapangan. Otoritasnya sebagai Kiai tidak digunakan untuk berpangku tangan dan memerintah. Beliau melakukan pandampingan dengan terjun langsung memberikan contoh langsung (keteladan) sampai-sampai tidak terlihat ada sekat antara Kiai dan Santri.

Adalah pristiwa yang biasa saja, jika dalam banyak pristiwa, Kiai secara spontan mengeksekusi tetek bengik keperluan santri. Bahkan, urusan keperluan pemenuhan debit air santri untuk keperluan mandi dan nyuci santri sekalipun misalnya, beliau tidak segan-segan (biasanya dibersamai satri senior) membersihkan sumbatan saluran air dimulai dari hilir (ujung pipa)–berjalan kaki beberapa KM mengikut arah pipa hingga hulu (sumber mata air) untuk memastikan tidak ada sumbatan dan air betul-betul bersih dan alirannya deras.

Pada titik ini, hemat saya Sang pengasuh. Sang “Ibu Pengembala” (arti Pondok Umi Roti’ah)-KH. Anwari Faqih yang hari ini dipringati Haul-nya yang Ke-6 telah mengajarkan kita bersama bahwa pendidikan itu merupakan pendampingan akan proses-proses komunikasi kerja otak, spritual, dan emosional santri/siswa secara bersamaan-yang meniscayakan adanya pristiwa (studi lapangan): yang lain “Keteladan” itu sendiri.

Abdul Khalid Boyan (Alumni Umi Roti’ah, Tenaga Ahli Anggota DPR RI, tinggal di Jakarta)

No Response