AMP Extension page

Mengenal Sejarah Perjalanan Kabupaten Gresik

No comment 1943 views

Kegiatan bedah buku “Rekam Jejak DPRD Kabupaten Gresik”. (Foto: BG)

BeritaGresik.com – Setiap daerah di Tanah Air ini memiliki catatan tentang sejarah dan peradabannya masing-masing, termasuk salah satunya Kabupaten Gresik. Bahkan, sebelum menjadi kabupaten sendiri, Gresik merupakan bagian dari Kota Surabaya.

Sejarah tentang perjalanan daerah yang selama ini dikenal dengan sebutan Kota Santri dan Kota para Wali ini tergambar dalam sebuah buku yang diberi judul “Jejak Rekam DPRD Kabupaten Gresik: Catatan Kecil Perjalanan Kabupaten Gresik”.

Buku yang mengulas sejarah Kabupaten Gresik tersebut menjadi bahan diskusi menarik ketika dibedah oleh Komunitas Wartawan Gresik (KWG) bersama DPRD Kabupaten Gresik di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Gresik, akhir pekan lalu.

Peserta bedah buku di DPRD Kabupaten Gresik. (Foto: BG)

Tanpak hadir sebagai pembicara Abdul Abas, penulis buku dan Mochammad Toha, Kepala Diklat Kemenag Surabaya sekaligus pegiat sejarah di Gresik. Buku setebal 198 halaman itu lebih banyak membahas jejak histori Gresik sejak era Majapahit hingga berdirinya Pemerintah Kabupaten Gresik.

Salah satu yang menjadi sorotan dalam buku itu yakni Hari Ulang Tahun (HUT) Pemkab Gresik yang selama ini diperingati tiap 27 Februari. Dalam buku ini disebutkan jika Kabupaten Gresik ditetapkan pada 1 November 1974. Penetapan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38/1974.

Penulis buku Abdul Abas mengatakan, Gresik awalnya merupakan ibukota dari Kabupaten Surabaya. Status ini ditetapkan pada tanggal 8 Agustus 1950 di Yogyakarta oleh Presidn RI (Pemangku Jabatan Sementara), Assat.

“Ada perbedaan nama kabupaten, yaitu Surabaya dengan ibukota, yaitu Gresik. Dalam perkembangannya perbedaan tersebut secara psikologis dirasa kurang serasi, apalagi kegiatan pemerintahaan tingkat Kabupaten Surabaya sebagian besar berada di Gresik,” ujar Abbas.

Foto karya jurnalistik dipajang di DPRD Gresik. (Foto: BG)

Karena itu, menurut Abbas, waktu itu DPRD Kabupaten Surabaya mengusulkan agar nama Kabupaten Surabaya diubah menjadi Kabupaten Gresik. Gagasan mendapat dukungan dari Bupati, Gubernur hingga Presiden.

“Perubahan tersebut ditetapkan nelalui PP 38/1974. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya 1 November 1974. PP ini ditetapkan di Jakarta dan ditandatangani Presiden Soeharto,” terangnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik Nur Saidah mengapresiasi terbitnya buku itu. Menurut dia, bukti baru tanggal penetapan Kabupaten Gresik perlu ditelusuri, sehingga bisa meluruskan sejarah. Namun selama temuan itu belum dikaji secara mendalam dan diputuskan, HUT Pemkab Gresik tetap masih menggunakan tanggal yang lama.

Moch. Syafi’ AM, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik menambahkan, kegiatan ini bisa menjadi awal untuk memajukan kegiatan akademisi di Gresik. Apalagi Gresik memiliki banyak perguruan tinggi. Tapi, kegiatan akademisi masih sedikit.

“Semoga kegiatan ini memicu munculnya kegiatan-kegiatan akademisi di Gresik, khususnya di DPRD Kabupaten Gresik,” ujar politisi PKB tersebut.

Kepala Diklat Kementerian Agama Surabaya Mochammad Toha mengatakan, buku ini memang tidak luput dari kekurangan, tapi sudah layak mendapat apresiasi. Buku ini akan menambah khazanah literasi yang mengulas soal Gresik.

“Selama ini orang lebih suka pada bahasa tutur, padahal itu terbatas umur. Sedangkan buku bisa dinikmati hingga banyak generasi,” ujarnya.

Lebih lanjut ia berharap, kegiatan ini ditingkatkan oleh DPRD Gresik. “Agar DPRD tidak hanya berimage masalah politik dan pemerintahan saja, tapi juga menjadi wadah untuk peningkatan bidang akademis masyarakat Gresik,” pungkasnya.

Selain menggelar bedah buku, dalam acara ini juga diadakan diskusi foto media jurnalistik dan media sosial serta workshop fotografi yang diikuti pelajar tingkat SMA di Gresik. Selain itu juga dipajang foto-foto karya jurnalis yang tergabung dalam KWG. Para pengunujung tampak antusian menikmati pameran.

Ketua Panitia Bedah Buku KWG, Moch. Zaini memastikan akan menggelar kembali kegiatan-kegiatan serupa. Selain menjadi wadah baru untuk tukar informasi bersama masyarakat, kegiatan ini seringkali mengungkap fakta baru yang selama ini belum diketahui. (adv)

No Response