Jejak Suku Bawean di Negeri Seribu Satu Larangan

0
1,628 views
Banyak ruko sebelum perang di sekitar Jalan Kampong Kapor berubah menjadi rumah penginapan, juga dikenal sebagai pondok untuk orang Bawean. (Foto: Ghetto Singapre)

BeritaGresik.com – Suku Bawean (Boyanese) dikenal sebagai suku yang memiliki tradisi atau kebiasaan merantau. Suku ini bahkan termasuk salah satu suku minoritas yang sudah menjejakkan kakinya di Singapura sejak masa penjajahan.

Orang keturunan Bawean di Negeri Seribu Satu Larangan (sebutan lain Singapura) berasal dari Pulau Bawean, sebuah pulau kecil yang terletak sekitar 120 km di utara Surabaya atau Gresik, Jawa Timur, Indonesia. Pulau Bawean masuk dalam wilayah adminiatrasi Kabupaten Gresik.

Seperti dilansir laman Ghetto Singapore, penyebutan “Boyanese”¬†untuk¬†orang-orang keturunan Bawean di Singapura terjadi pada masa kolonial. Mereka menyebut orang-orang Baweanese dengan sebutan Boyanese.

Warga keturunan Bawean di Singapura pertama kali tercatat dalam sensus penduduk tahun 1849. Mereka diketahui sudah merantau dalam jumlah besar ke Negara Singapura sejak awal abad ke-19.

Sebuah peta dengan lingkaran merah menyoroti beberapa pondok Bawean di Singapura. (Foto: Laaobe)
Pernikahan orang Bawean di Pondok Kelompang Gubuk di tahun 1960-an. (Foto: Laaobe)

Ada dua faktor yang mendorong orang-orang Bawean saat itu merantau ke luar pulau. Pertama, orang Bawean memiliki tradisi merantau, utamanya bagi kaum laki-laki. Mereka meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan di luar negeri.

Faktor kedua adalah kebijakan perpajakan baru yang diterapka oleh Belanda. Sekitar tahun 1900, Belanda menerapkan pajak individu di wilayah mereka. Hal ini menyebabkan banyak orang Indonesia, termasuk Bawean, meninggalkan rumah untuk menghindari membayar pajak.

Perjalanan mereka ke Singapura juga dibantu oleh jasa angkutan kapal yang disediakan oleh dua perusahaan pelayaran, yaitu Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dan Singapura Heap Eng Moh Shipping Company.

Kakek Mr Lee Kuan Yew, Lee Hoon Leong, yang makamnya dapat ditemukan di Bukit Brown Cemetery, adalah Managing Director dari Heap Eng Moh Shipping Company.

Masjid Bawean di Kampong Kapor di Weld Road. Itu dibongkar pada tahun 1980-an. (Foto: Institut Studi Asia Tenggara)
Para imigran Bawean awalnya menetap di sekitar Kampong Boyan, yang terletak di tepi Rochor River, antara Jalan Besar dan Syed Alwi Road. (Foto: Arsip Nasional Singapura)

Awalnya, orang Bawean di Singapura banyak yang bekerja dalam pembangunan Race Course Serangoon Road di Farrer Park. Selanjutnya, banyak dari mereka yang tinggal sebagai pelatih kuda dan driver. Mereka juga menetap di daerah Kampong Kapor, di sebelah selatan Race Course tua.

Beberapa rumah perantau dari Bawean juga ditemukan di Kampung Boyan, yang terletak di tepi Rochor River antara Jalan Besar dan Jalan Syed Alwi. Sebagian besar pondok mereka ada di Kampong Kapor.

Pondok atau “ponthuk” dalam bahasa Bawean adalah sebuah rumah penginapan, yang memang disediakan bagi orang Bawean yang baru tiba di Singapura.

Pemondokan tersebut juga berperan sebagai lembaga sosial yang mirip dengan klan Cina. Orang Bawean bisa pergi ke pondok untuk mendapatkan rekomendasi peluang kerja atau kegiatan masyarakat.

Pondok atau rumah singgah terakhir orang Bawean di Singapura adalah Pondok Peranakan (keturunan) Gelam Club, yang awalnya terletak di 64 Klub Street. Sebuah ruko pra-perang besar yang disediakan sebagai rumah komunal untuk 200 imigran Bawean antara 1930-an dan 1960-an.

Bekas Pondok Peranakan Gelam Club. Di pondok ini, pasangan menikah biasanya berada di kamar tidur di lantai atas, sementara anak-anak dan orang dewasa yang belum menikah menempati lantai bawah. (Foto: Ghetto Singapore)
Ruko pra-perang ini bersama atas Weld Road dulu Pondok Kelompang Gubuk sampai 1997. (Foto: Ghetto Singapore)
Kelompok Kompang (Hadrah) dari Pondok Kelompang Gubuk di tahun 1950-an. (Foto: Laaobe)

Saat ini pondok itu sudak tidak ada lagi. Nanum semangat komunitas orang Bawean di Singapura tetap hidup dalam wadah Persatuan Bawean Singapura (PBS), sebuah perkumpulan keturunan Bawean di Singapura yang sering mengadakan kegiatan dan pertemuan untuk anggota. (as)