Hearing Gagal Digelar, Pekerja Smelting Gresik Pertanyakan Keseriusan Dewan

0
163 views
Hearing DPRD Gresik dengan pekerja dan manajemen PT Smelting beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. BG/Kurniawan)

BeritaGresik.com – Hearing antara Komisi D DPRD Kabupaten Gresik dengan Serikat Pekerja (SP) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan manajemen PT Smelting yang diagendakan pada Jumat (17/3/2017) lalu kembali gagal digelar. Pertemuan itu rencananya akan membahas nasib 309 pekerja PT Smelting.

Hearing tersebut rencananya juga akan menindaklanjuti keputusan Banmus yang sebelumnya menggelar rapat dengan perwakilan karyawan PT Smelting, pihak manajemen Smelting dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada 28 Februari lalu.

Karena itu, SP FSPMI mempertanyakan keseriusan pihak Dewan. “Kami patut mempertanyakan kenapa hearing tersebut batal,” kata Ketua SP FSPMI PT Smelting, Zaenal Arifin didampingi Wakilnya Ali Rifa’i, kepada BeritaGresik.com Minggu (19/3/2017).

Sebelumnya, hearing yang diagendakan pada Senin (27/2/2017), juga gagal karena pihak manajemen PT Smelting yang diundang tidak hadir. “Makanya, waktu itu hearing yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Gresik, Solihudin memutuskan untuk kembali hearing dengan melibatkan manajemen PT Smelting,” ungkapnya.

Zainal menjelaskan, ada 309 karyawan PT Smelting, termasuk keluarga, sudah dua pekan ini menantikan hearing tersebut. Mereka berharap dihasilkan satu solusi dari pertemuan pihak terkait. “Namun, harapan itu tinggal harapan,” grutunya.

Wakil Ketua SP FSPMI PT Smelting Ali Rifa’i mengatakan, pihaknya sudah klarifikasi ke Komisi D terkait gagalnya hearing. “Saya tanya ke Pak Sudjono (Wakil Ketua Komisi D) soal nasib hearing. Ia mengaku hearing belum bisa dilakukan karena padatnya kegiatan DPRD,” terang Ali.

Seperti diketahui, belakangan ini jadwal anggota Dewan, khususnya Komisi D DPRD Gresik terbilang padat. Pada 2 Maret 2017, DPRD ada agenda kunjungan kerja ke Solo. Kemudian, pada 6-11 Maret 2017 DPRD ada agenda reses (serap aspirasi). Setelah itu, disusul Bimtek pada 13-16 Maret.

“Pihak manajemen Smelting tidak bersedia bertemu bersamaan dengan SP FSPMI. Karena itu, Komisi D mesti akan melakukan pertemuan dulu dengan pihak manajemen Smleting. Setelah itu, baru dengan perwakilan buruh,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Zaenal juga merespon pernyataan Plant Manager PT Smelting, Antonius Prayogo yang menyatakan produksi PT Smelting mencapai 85% setelah beroperasi kembali pada 1 Maret lalu. “Itu sangat tidak benar. Sebab, berdasarkan kalkulasi kami, produksi baru bisa 30-40%,” cetusnya.

Produksi seperti itu, terang Zaenal, tidak bisa normal. Jika biasanya dalam sehari bisa tiga kali casting atau cetak tembaga, namun sekarang hanya mampu satu kali casting. “Itupun sering masalah dan hasil casting banyak yang rusak,” ungkapnya.

Dia juga menyinggung pernyataan pihak PT Smelting yang menyatakan pabrik berhenti beroperasi karena bahan baku tidak ada. “Padahal justru sebaliknya, bahan baku dari PT Freeport Indonesia sangat butuh diolah. Bahan baku di Freeport melimpah hingga gudangnya overload,” pungkasnya.(wan)