Karyawan Pabrik Es di Kebomas Tuntut Sistem Gaji Bulanan

0
220 views
Puluhan karyawan es di Kebomas menggelar aksi demo di tempat perisahaannya bekerja. (Foto: BG/Kurniawan)

BeritaGresik.com – Puluhan karyawan perusahan es Aice Have An Ice Day menggelar aksi demo di depan pabrik yang terletak di Jalan Dr. Wahidin SH, Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Kamis (16/2/2017).

Para karyawan memprotes status kerja mereka yang diubah dari sistem gaji bulanan menjadi borongan. Mereka juga memprotes perusahaan lantaran selama ini gaji yang diberikan masih di bawah UMK (Upah Minimum Kabupaten) Gresik.

Dalam aksi itu, mereka berorasi sambil mengusung beberapa spanduk dan poster berisi tuntutan. Poster itu di antaranya bertuliskan “Pekerjakan kembali suadara kami”, “Save pekerja PT. Bintang Xueren”, “Tepati janji, hormati Disnaker”, “Hapus sistem borong, terapkan UMK Gresik 2017”, dan beberapa tuntutan lain.

Setidaknya ada enam tunyutan yang disampaikan para karyawan dalam aksi demo tersebut. Pertama, meminta sekretaris SBTK dipekerjakan kembali. Kedua, menghapus sistem borongan. Ketiga, menerapkan UMK Gresik.

Keempat, para karyawan menuntut diterapkan jam kerja sesuai UU 13 tahun 2003 tentang Ketenaga Kerjaan. Kelima, mendaftarkan karyawan ke BPJS. Terakhir, meminta agar karyawan yang di-PHK dipekerjakan kembali.

Fikri, salah satu pendemo menyatakan bahwa penghasilan para karyawan merosot total sejak sistem borongan diberlakukan. “Karyawan bekerja sistem bulanan saja dibayar di bawah UMK, apalagi kerja sistem borongan,” keluhnya.

Untuk sistem borongan, Fikri menjelaksan karyawan hanya diberi upah Rp 3.000 per satu box es yang dikirim. “Kalau saat bekerja sistem gaji bulanan karyawan bisa mendapatkan upah Rp 2,8 juta per bulan. Setelah sistem borongan, cuma mendapatkan upah rata-rata Rp 1,8 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Itu belum kepotong bensin dan lainnya,” cetusnya.

Tuntutan karyawan, kata Fikri, sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat dengan Disnakertrans Pemkab Gresik pada 18 Januari 2017, lalu. “Kami dipekerjakan selama 48 jam per minggu atau 9 jam per hari, masak kami cuma dapat upah Rp 2 juta per bulan,” pungkasnya. (wan)