Jalan Rusak Parah, Retribusi Truk Galian C Dipertanyakan

0
711 views
Jalan Pantura Gresik rusak. (Foto: BG/Amn)

BeritaGresik.com – Kerusakan jalan utama Pantura dari Kecamatan Manyar hingga Bungah sepanjang 11 kilometer sangat  menggangu aktifitas warga. Khususnya mereka yang sehari-hari melaui jalan raya itu.

“Sebelum jalan rusak parah, Manyar hingga Bungah bisa di tempuh tidak sampai lima belas menit. Tapi saat ini membutuhkan waktu hingga 40 menit,” ujar Hasan pemilik warung di Manyar, Kamis (15/12/2016).

Warga Protes

Parahnya kerusakan jalan nasional itu pun membuat warga setempat mulai kesal, karena jalan tak kunjung diperbaiki. Bahkan beredar kabar bahwa warga setempat berencana melakukan aksi demo protes.

Warga yang hendak melakukan aksi demo beranggapan kerusakan di Jalan Manyar hingga Bungah dipicu tingginya aktifitas truk yang mengangkut galian tanah urukan untuk pelabuhan internasional, kalimireng. 

Selain itu, warga akan demo karena banyak ketentuan yang dilanggar oleh truk yang melintas, seperti beroperasi di luar jam yang ditetapkan Pemda Gresik. Harusnya truk pengangkut tanah boleh beropersi setelah jam 8 pagi hingga jam 4 sore.

Kerap Makan Korban

Agus Budiono, seorang buruh pabrik mengatakan, bahwa selama setahun ini saja sudah terdapat sekitar 15 buruh pabrik yang meninggal karena bertabrakan dengan truk, saat hendak berangkat kerja maupun saat perjalanan  pulang kerja.

Retribusi Truk Galian C

Karcis retribusi truk galian C di Gresik. (Foto: BG)

Direktur Gresik Institute Akhmad Jidi menilai, respon pemerintah lambat untuk perbaikan jalan dari Manyar hingga Bungah. Padahal, truk yang mengangkut tanah urukan itu membeli karcis retribusi. “Di gresik itu saat ini terdapat 10 tempat penambangan,” ungkapnya.

Sesuai Perda Gresik No. 2 tahun 2011 dan Peraturan Bupati Gresik No. 34 tahun 2013, bahwa untuk truk ¾ atau (colt desel) saat mengangkut tanah urukan harus membeli karcis ke Dispenda seharga Rp 20.000.

“Sedangkan truk besar karcisnya Rp 50.000 sekali jalan. Jadi pendapatan daerah dari angkutan itu cukup tinggi,” tutur Direktur Gresik Institute.

Dia menjelaskan, jika dihitung rata-rata satu lokasi tambang bisa mengeluarkan  200 reate/truk. Rp 20.000 dikalikan 200 reate dan dikalikan lagi 10 tempat galian. Dalam satu hari bisa mencapai Rp 40 juta.

Dalam satu bulan mencapai Rp 1 miliar dua ratus. Jika satu tahun, ada Rp 14 milair pemasukan dari retrebusi angkutan galian C. Sementara angkutan galian untuk urukan yang melalui jalan Manyar hingga Bungah mulai ramai sejak lima tahun lalu.

“Mestinya jangan hanya mau menerima uang restribusi, tapi juga harus mau tanggung jawab untuk perbaikan jalannya,” tegas Jidi. (amn)