Ombak Tinggi, Warga Bawean Kembali Terisolasi

0
941 views
Perahu nelayan terombang ambing gelombang tinggi di Pelabuhan Gresik. (Foto; BG/Amn)

BeritaGresik.com – Sudah hampir sepekan ini tidak ada kapal yang melayani jalur penyeberangan dari Pelabuhan Gresik tujuan Pulau Bawean. Lumpuhnya layanan transportasi laut ini terjadi akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi di laut Jawa.

Hingga kini belum ada kepastian kapal di Pelabuhan Gresik beroperasi. Prakiraan cuaca pelayaran Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya, hari ini, Selasa (7/2/2017), menyatakan gelombang tinggi lebih dari 3 meter dapat terjadi di laut jawa bagian timur dan selatan Jawa Timur.

Persoalan ini kerap terjadi dan dirasakan warga kepulauan disaat kondisi cuaca tak menentu seperti sekarang ini. Apalagi spesifikasi batas keamanan berlayar kapal penyeberangan Gresik-Bawean hanya boleh untuk gelombang maksimal 2 meter.

Sementara ketinggian gelombang laut di peraian Pulau Bawean dan Gresik sering kali di atas 2 meter. Ketika itu terjadi, maka kapal penyeberangan tujuan Pulau Bawean tidak berlayar. Dampaknya, arus orang dan barang dari dan ke Pulau Bawean terhenti.

Saat ini, sudah ada ratusan orang di Pulau Bawean yang hendak ke Malaysia dan Singapura. “Tiketnya hangus dan terancam kehilangan pekerjaannya karena tak bisa segera kembali ke Malaysia maupun ke Singapur,” kata Ila, warga Tanjung Tambak.

Lain lagi yang dialami Himmatus Syarifah, Kepala Sekolah MTs Umma Sangkapura. Dia sudah hampir dua minggu tertahan di Gresik lantaran tidak ada kapal ke Bawean yang beroperasi. Karena itu, pemerintah diminta menyediakan kapal ukuran besar.

Himma menyangkan kurangnya antisipasi pemerintah terkait penyeberangan Gresik-Bawean. “Kejadian seperti ini kan sudah sering terjadi, mengapa tak ada solusi yang konkrit. Kasihan warga yang tertahan di Gresik maupun yang di Bawean,” ujarnya.

Edy Utomo, aktivis dari Lembaga Kajian Gresik Institute mengatakan, harusnya ada evaluasi terkait kapal rute Gresik-Bawean. Pemerintah, harus mulai mempertimbang kapal yang memeiliki spesifikasi bisa berlayar ketika gelombang laut di atas 2 meter.

“Bisa kita bayangkan bagaiman kalau ada orang sakit yang harus dirujuk ke Gresik. Sementara kapal terkendala cuaca buruk. Dan pelayanan kesehatan di Bawean juga masih minim. Terlalu mahal taruhannya bila tidak ada solusi yang konkrit,” ujarnya.

Edy menambahkan, kapal yang melayani warga Bawean harus aman agar keperluan masyarakat terpenuhi. Di sisi lain, layanan kesehatan juga harus memadai agar warga yang sakit saat cuaca buruk mendapatkan layanan kesehatan maksimal di Bawean. (amn)