Kontrak Berakhir, Penerbangan ke Bawean Menunggu Lelang

0
1,368 views
Pesawat Airfast Indonesia saat melayani penerbangan perintis Surabaya-Bawean. (Foto: BG/Amn)

BeritaGresik.com – Setelah genap setahun menghiasi langit Bawean, pesawat milik PT Airfast Indonesia terpaksa untuk sementara berhenti melayani penerbangan dari bandara Juanda menuju Bandara Harun Thohir Bawean maupun sebaliknya.

Berhentinya penerbangan pesawat Airfast Indonesia tersebut dikarenakan kontraknya dengan Kementrian Perhubungan berakhir pada akhir tahun 2016 yang lalu, sesuai dengan tahun anggaran Kemenhub 2016.

“Sehingga sejak Januari hingga akhir Januari penerbangan reguler dari Bawean ataupun yang menuju bandara Harun Thohir berhenti,” kata Wahyu Siswoyo, kepala Unit Penyelenggara Bandara kelas III Tronojoyo Sumenep, Kamis (5/1/2017).

Seperti diketahui, bandara Harun Thohir Bawean berada di bawah naungan Unit Penyelenggara bandara kelas III Tronojoyo Sumenep, sebagai kepanjangan tangan Kementerian Perhubungan di Sumenep.

Dengan habisnya masa kontrak tersebut bukan hanya penerbangan dari bawean ke juanda saja yang terhenti, tapi juga penerbangan dari Sumenep ke Surabaya dan penerbanga dari Surabaya ke Karimun Jawa Semarang maupun sebaliknya.

Menurut Wahyu, saat ini pesawat Airfast Indonesia diparkir di Bandara Trunojoyo Sumenep. Selama parkir di sana, pesawat tersebut bukan lantas tidak bisa terbang ke Bawean, tetap bisa jika ada yang carter.

Wahyu menambahkan, paling cepat 21 hari kedepan hasil pelelangan kontrak untuk penerbangan selanjutnya sudah bisa selesai. “Sehingga penerbangan ke Pulau Bawean kembali lancar,” ujar Wahyu.

Selama ini, penerbangan pesawat Airfast ke pulau Bawean selama seminggu terjadi dua kali penerbangan, yakni Selasa dan Kamis. Penerbangan regular perdana dari Bawean dimulai pada 28 Januari 2016 dengan jumlah penumpang 11 orang.

Berdasarkan data statistik yang dihimpun www.beritagresik.com sejak Januari hingga akhir Desember 2016, sekitar 1.200 penumpang dari Bandara Harun Thohir Bawean tujuan Bandara Juanda Surabaya.

Sementara dari Juanda menuju Bawean hanya sekitar 1.000 penumpang, dengan jumlah frekuaensi penerbangan selama tahun 2016 sebanyak 99 kali. Baik yang terbang dari Juanda maupun dari Bawean.

Nurahli, seorang pengusaha asal Bawean yang tinggal di Surabaya, mengaku bahwa sudah belasan kali menggunakan penerbangan Airfast untuk pulang ke kampung halamannya di pulau Bawean.

Bahkan dia pernah hanya sendirian di dalam pesawat Airfast Indonesia dari Juanda Surabaya menuju Bawean karena teman-temannya yang telah dibelikan tiket  membatalkan untuk terbang ke Bawean.

Dia berharap ke depannya landasan pacu bandara Harun Thohir bisa lebih panjang, agar dapat dilalui oleh pesawat ukuran lebih besar seperti jenis ATR 72 yang bisa mengangkut sekitar 72 penumpang.

Pada 2017 ini direncanakan ada kemajuan penyelesaian pembebasan lahan, sehingga pada 2018 bisa dilakukan perpanjangan landasan. Lalu, pada 2019 bandara Harun Thohir dapat dilalui pesawat yang bisa mengangkut penumpang lebih banyak, dengan jadwal terbang setiap hari. (amn)