Tak Punya Biaya, Anak Penderita Hidrosefalus di Cerme Hanya Dirawat di Rumah

0
761 views
Arif, bocah penderita hidrosefalus, warga Cerme, Gresik. (BG/Wan)

BeritaGresik.com – Kondisi memprihatinkan dialami Muhammad Arif (11), warga Perumahan Cerme Bumi Apsari Blok II/16, Desa Ngabetan, Cerme, Gresik. Bocah ini divonis menderita hidrosefalus atau pembesaran kepala sejak baru lahir.

Di usianya yang masih sangat belia, putra dari pasangan Sujarwo (50) dan Sriati (45) itu harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Sehingga, Arif pun tidak bisa beraktivitas seperti anak-anak seusianya.

Saat ini, Arif tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya dibiarkan tergeletak di dalam rumah lantaran orang tuanya tidak punya biaya untuk berobat. Tubuhnya kurus kering dengan kepala membesar akibat kelebihan cairan dan hanya bisa tidur terlentang.

Saat ditemui di kediamannya, hanya ada Sriati, Arif, dan salah seorang putri Sriati. “Bapaknya masih kerja, mangkal becak motor di perumahan Bunder Gresik, kira-kira pulang jam 10 malam,” Kata Sriati, Rabu (4/1/2017).

Saat memasuki halaman rumahnya, terlihat beberapa buah becak mangkrak. Rumahnya terlihat kumuh meski berada di komplek perumahan. Saat itu, Arif hanya dibiarkan begitu saja tidur di atas kasur yang terletak di ruang tamu.

“Ini Arifnya tidur di sini, kalau tidur dalam kamar tidak mau soalnya tambah nangis karena panas. Kalau makan gak susah, apa saja mau dan kalau mandi kita mandikan di luar rumah. Cuma gak bisa lama, soalnya Arif suka pusing kalau kelamaan,” Kata Sriati.

Dia lantas menceritakan perihal sakit yang diderita putra ketiganya itu. Menurut Sriati, kondisi pembesaran kepala ini sudah sejak awal lahir. Ketika mengetahui adanya kelainan, dokter di rumah sakit langsung menyarankan untuk operasi dengan biaya Rp 50 juta.

“Kondisi Arif ini sudah sejak lahir di rumah sakit. Saat tahu kepalanya besar, kami diminta uang Rp 50 juta untuk operasi Arif, ya kami menolak karena tidak ada biaya segitu. Sementara ayah Arif cuma narik becak dengan penghasilan hanya Rp 50 ribu dalam sehari. Sedangkan saya hanya ibu rumah tangga, akhirnya kami bawa pulang saja Arif ke rumah,” cerita Sriati.

Setelah dibawa pulang, Arif hanya dirawat begitu saja sama seperti bayi pada umumnya. Padahal, kepala Arif kian membesar. Beberapa tetangga kemudian menyarankan untuk berobat alternatif, namun tidak membuahkan hasil.

“Pernah disarankan tetangga ke alternatif, tapi gak ada hasilnya. Saya hanya bisa pasrah, dan saya rawat seadanya,” terangnya.

Sriati mengatakan, jika beberapa perawat desa sempat menjenguk Arif dan memantau perkembangannya. Mamun mereka tidak bisa berbuat banyak dan hanya sekedar memantau perkembangan Arif.

“Beberapa perawat dari Puskesmas sempat ke sini, tapi ya hanya melihat lihat saja. Kalau bantuan dari pemerintah ya hanya setahun sekali, itu cuma mie instan, sembako dan lain-lain,” ungkap Sriati.

Ditanya perihal kepemilikan kartu miskin, BPJS, dan lain-lain, Sriati mengaku tidak punya dan tidak pernah di daftarkan. Ia cuma bisa berharap agar Arif cepat sembuh dan hidup layaknya anak-anak pada umumnya. (wan)