Waliyah Zainab: Tokoh Perempuan Penyiar Islam di Bawean

0
1,880 views

BeritaGresik.com – Tokoh Waliyah Zainab menurut cerita yang berkembang merupakan istri kedua dari Sunan Giri yang bernama Dewi Wardah. Beliau adalah putri Sunan Bungkul di Surabaya yang diperistri oleh Sunan Giri berkat penemuan buah Delima dalam sebuah sayembara.

Namun, Dewi Wardah merasa kurang bahagia menjadi istri kedua dari Sunan Giri. Karena tidak ingin di madu, Dewi Wardah memutuskan pergi berlayar ke arah utara menaiki “Sentong ” atau kelopak bunga kelapa, hingga akhirnya memilih menetap di Bawean sebagai penyiar Agama Islam.

Waliyah Zainab diperkirakan lebih awal datang ke Bawean di bandingkan dengan Maulana Umar Mas’ud. Selain karena kepentingan silaturrahmi, tujuan utama kedatangan Waliyah Zainab ke Pulau Bawean (Diponggo) yakni untuk menyiarkan Agama Islam.

Waliyah Zainab dipercaya memiliki banyak kelebihan, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat. Karena itu, masyarakat Diponggo memberinya gelar Waliullah Zainab. Bahkan, kono beliau dibantu para muridnya mampu membangun Masjid Diponggo hanya dalam waktu semalam.

Pewaris Ajaran Syeikh Siti Jenar

Dhiyauddin Qushwandhi dalam bukunya berjudul “Waliyah Zainab, Putri Pewaris Syeikh Siti Jenar: Sejarah Agama dan Peradaban Islam di Pulau Bawean” menuliskan bahwa Waliyah Zainab adalah generasi keempat penerus ajarah Syeikh Siti Jenar; “Manunggaling Kawulo Gusti”.

Sosok Waliyah Zainab ditengarai mempraktikkan ajaran Siti Jenar, sebab dia mendapat didikan langsung dari sang ayah, Sunan Duwur, dan kakeknya Sunan Sendang. Sunan Sendang adalah orang yang mengkodifikasikan ajaran Siti Jenar.

Naskah itu tidak berjudul, tetapi memuat apa yang disebut Sastro Cettho Wadiningrat (Ilmu Nyata Rahasia Kehidupan), atau disebut juga Ilmu Kabegjan (Ilmu Mencapai Kebahagian Sejati) yang semakna dengan Hikmah al-Islamiyah, dalam kajian tawawuf.

Kajian tasawuf sendiri memuat akidah-syari’ah, thariqah, haqiqah, dan ma’rifat. Syeikh Siti Jenar mengistilahkan catur wiworo werit (Empat Perjalanan yang Sempit) dalam menegaskan betapa empat jalan; syari’ah, thariqah, haqiqah, dan ma’rifah, bukanlah jalan yang gampang (werit).

Untuk itu, manusia mesti menanamkan keempat hal pokok itu secara sempurna. Barulah ia akan mencapai aqidah (keimanan) yang sempurna, sebab keimanan itu tidaklah hanya sekedar “percaya” an sich kepada Allah, melainkan kecintaan (hubb). Bila sempurna, maka sang hamba akan merasa bersatu dengan Tuhannya. Demikianlah juga apa yang dipraktekkan oleh Waliyah Zainab.

Selain meneruskan ajarah Syeikh Siti Jenar, Waliyah Zainab juga menjadi pemuka agama di Pulau Bawean. Beliau meneruskan benih Islam yang telah disemai oleh Putri Condrowulan. Namun, keberadaannya di Bawean diyakini tidak lepas dari konstalasi politik yang terjadi di Jawa.

Artinya, Bawean menjadi pulau tempat pengasingan, yang kelak justru islamisasinya cukup merata, khususnya di masa Umar Mas’ud, adipati utusan kerajaan Sumenep, Madura, yang datang kemudian. Waliyah Zainab pada akhirnya wafat dan di kuburkan di Desa Diponggo, Bawean. [as]