Sosok Perempuan di Balik Kesuksesan Dakwah Sunan Giri

0
408 views

BeritaGresik.com – Pencapaian besar dakwah Sunan Giri di Tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari sosok perempuan bernama Nyai Ageng Pinatih, seorang perempuan yang sangat berjasa karena dialah ibu angkat yang mengasuh dan membesarkan sekaligus mendidik Raden Paku atau Sunan Giri.

Pada zaman Majapahit, Nyai Ageng Pinatih yang juga dikenal dengan Nyai Tandes adalah seorang saudagar kaya yang sangat dihormati oleh Raja. Hal itu terbukti dari pengangkatannya sebagai Syahbandar Gresik.

Oemar Zainuddin dalam buku Kota Gresik 1896-1916 Sejarah Sosial Budaya Dan Ekonomi (Penerbit Ruas) menuliskan, Nyai Ageng Pinatih adalah perempuan pertama di Nusantara yang tugasnya pada zaman kesultanan memungut bea cukai dan mengawasi pedagang asing.

Nyai Ageng Pinatih pergi dari Keraton Blambangan karena suaminya bermaksud punya istri lagi. Kemudian dia pergi ke Majapahit untuk menemui saudara perempuannya yang jadi permaisuri Raja Brawijaya. Oleh Raja Brawijaya, beliau diberi sebidang tanah di Gresik dan menetap di Gresik sejak 1412 M.

Kemudian Nyai Ageng Pinatih mengembangkan usaha berdagangnya sehingga sangat terkenal menjadi pemilik beberapa kapal dagang. Beliau bahkan diangkat menjadi Syahbandar Gresik pada 1458 M.

Menjadi ibu angkat Sunan Giri

Konon, pada 1443 M bayi Sunan Giri, anak pasangan Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu, dibuang ke laut, tepatnya Selat Bali. Dewi Sekardadu adalah putri Prabu Menak Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit.

Kelahiran Sunan Giri dianggap membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka, Dewi Sekardadu dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu menghanyutkan anaknya itu ke Selat Bali.

Bayi tersebut lalu ditemukan para pedagang anak buah Nyai Ageng Pinatih di tengah samudera, saat kapal mereka hendak berlayar menuju Pulau Bali. Perhatian para awak kapal tertuju pada sebuah peti yang terapung-apung di tengah laut. Bahkan, kapal mereka sempat menabrak peti itu.

Mereka lalu mengangkat peti itu. Ketika dibuka, ternyata di dalam peti ada seorang bayi laki-kali. Para awak kapal anak buah Nyai Ageng Pinatih lalu memutuskan tidak jadi melanjutkan perjalanan menuju Bali. Mereka memilih kembali ke Gresik untuk melaporkan penemuan bayi ini kepada Nyai Ageng Pinatih.

Namun, ada juga versi lain tentang kembalinya kapal Nyai Ageng Pinatih tersebut. Konon, setiap kapal tersebut diarahkan menuju Bali, ternyata dengan sendirinya berputar kembali ke arah Gresik. Seolah-olah bayi yang ditemukan itu harus dibawa ke Gresik.

Melihat anak buahnya pulang lebih cepat, tentu saja Nyai Ageng Pinatih terkejut. Apalagi, anak buahnya membawa peti yang berisi bayi. Singkat cerita, Nyai Ageng Pinatih merawat bayi tersebut. Apalagi, konon dia sudah lama mendambakan kehadiran seorang anak.

Bayi tersebut diberi nama Joko Samudro, karena ditemukan di tengah samudera. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, Nyai Ageng Pinatih merawat Joko Samudro yang kelak menjadi Sunan Giri.

Mendalami Ilamu Agama di Pesantren

Sekitar tahun 1445 M, Nyai Ageng Pinatih menitipkan Joko Samudro atau Raden Pake untuk memperdalam ilmu agama di Pesantren Ampeldento Surabaya, di bawah asuhan Sunan Ampel.

Pilihan Nyai Ageng Pinatih menitipkan Joko Samudro ke Pesantren Ampeldento terbukti tepat. Joko Samudro alias Raden Paku membuktikan diri sebagai santri luar biasa. Sunan Ampel tahu betul Raden Paku memang bukan santri biasa. Akhirnya, para wali di Pulau Jawa mengangkat Raden Paku menjadi wali dengan julukan Sunan Giri.

Sunan Giri dengan gigih menyebarkan Islam di Gresik. Menurut Oemar Zainuddin, dengan kemampuan dan karisma keislamannya, Raden Paku atau Sunan Giri menjadi pemimpin masyarakat Gresik yang cukup disegani. Posisi ini diperkuat oleh ibu angkatnya, Nyai Ageng Pinatih.

Tak bisa dipungkiri, Nyai Ageng Pinatih menjadi sosok yang sangat berarti bagi Sunan Giri. Meski hanya ibu angkat, tetapi Nyai Ageng Pinatih sangat berjasa karena berhasil mencetak seorang sunan yang menjadi pejuang Islam di kawasan itu. Maka, tidak heran bila beliau juga berperan dalam perkembangan Islam di Kota Gresik, Jawa Timur.

Nyai Ageng Pinatih meninggal tahun 1478 M. Namun, Oemar Zainuddin dalam buku Kota Gresik 1896-1916 Sejarah Sosial Budaya Dan Ekonomi (Penerbit Ruas), menyebut Nyai Ageng Pinatih meninggal pada 1483 M.

Kompleks makam Nyai Ageng Pinatih terletak di Kelurahan Kebungson, Gresik, Jawa Timur, beberapa ratus meter arah utara Alun-alun Kota Gresik.

[Sumber: Wikipedia dan sumber lainnya]