Karomah Sunan Bonang, Satu Orang dengan Dua Makam

0
1,712 views

BeritaGresik.com – Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.

Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang, sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Selama hidupnya Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean. Berita segera disebarkan ke seluruh tanah Jawa. Para muridnya pun berdatangan dari berbagai penjuru untuk memberikan penghormatan terakhir.

Murid Sunan Bonang yang  berada di Pulau Bawean hendak memakamkan di Pulau Bawean. Tetapi, murid yang berasal dari Madura dan Surabaya ingin jenazah beliau dimakamkan di dekat ayahnya di Surabaya.

Bahkan dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenasah pun mereka tak mau kalah. Jenasah yang sudah dibungkus dengan kain kafan milik orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan yang dibawakan dari Surabaya.

Konon pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk mengelabuhi orang-orang Bawean dan Tuban. Disaat orang sedang tertidur, jenazah Sunan Bonang dibawa ke Surabaya dengan menggunakan kapal.

Namun, karena tindakannya yang tergesa-gesa, kain kafan jenazah tertinggal satu. Sementara kapal layar segera bergerak ke arah Surabaya. Tapi ketika berada diperairan Tuban, tiba-tiba saja kapal yang ditumpangi tidak bisa bergerak hingga akhirnya jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara kain kafannya yang tertinggal di Bawean ternyata juga masih ada jenasahnya. Sehingga orang-orang Bawean pun menguburkannya di pulau itu dengan penuh khidmat.

Dengan demikian, ada dua jenasah Sunan Bonang, inilah karomah atau kelebihan yang diberikan Allah SWT, sehingga tidak ada permusuhan di antara murid-muridnya.

Sunan Bonang wafat pada 1525 M. Namun, makam yang diyakini asli adalah yang berada di Kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari berbagai penjuru tanah air.

Terkenal dalam Ilmu Kebatinan

Sunan Bonang terkenal dalam hal ilmu kebatinannya. Dia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian dia kombinasi dengan keseimbangan pernapasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu.

Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Dia ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya’. Dia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijaiyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna.

Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.

Berdakwah dengan Bonang

Sunan Bonang sering menggunakan kesenian rakyat dalam berdakwah. Hal itudilakukan untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.

Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak timbulah suara yang merdu di telinga penduduk setempat, terlebih jika Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu.

Sunan Bonang adalah seorang wali yang memiliki cita rasa seni tinggi, sehingga jika beliau membunyikan Bonang, pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya. Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang ingin mendengarnya.

Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran agama Islam kepada mereka.

Murid-murid Raden Makdum Ibrahim sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara, Surabaya maupun di Madura. Masyarakat akhirnya memberinya gelar Sunan Bonang karena beliau sering menggunakan Bonang dalam berdakwah. [Sumber: wikipipedia.org dan sumber lainnya]