Ansor Nilai Boarding School Lebih Baik dari Full Day School

0
496 views
Para santri di pondok pesantren. (Foto: Ilustrasi)
Para santri di pondok pesantren. (Foto: Ilustrasi)

BeritaGresik.com – Pengurus Pusat (PP) GP Ansor menilai model pendidikan satu hari penuh di sekolah (full day school) lebih baik ketimbang model pendidikan setengah hari yang diterapkan selama ini.

Namun demikian, Ansor berpandangan bahwa ada model lain yang justru lebih baik diterapkan di Tanah Air ketimbang full day school, yaitu model pendidikan boarding school seperti yang diterapkan di pondok pesantren selama ini.

Pendapat itu disampaikan Ketua Bidang Pendidikan dan Tenaga Kerja PP Gerakan Pemuda Ansor, Mohammad Amin, Selasa (1/11/2016), menyikapi rencana pemerintah menerapkan kebijakan pendidikan full day school.

“Bagi GP Ansor, model pendidikan terbaik di Indonesia adalah model boarding school. Jam’iyyah NU sudah mempraktekkan model boarding school ini sejak ratusan tahun lalu melalui pondok pesantren,” ungkap Amin.

Menurut dia, kualitas lulusan pondok pesantren tidak kalah unggul jika dibandingkan dengan kualitas lulusan pendidikan lain dalam rentang waktu yang sama. Utamanya soal penguasaan keilmuan, akhlak dan nasionalisme.

“Lulusan pondok pesantren yang telah menempuh pendidikan selama 12 tahun dengan lulusan pendidikan lain dalam jangka waktu yang sama, umumnya alumni pondok pesantren akan lebih unggul,” ujarnya.

Karena itu, GP Ansor mengusulkan agar model pendidikan yang diterapkan secara nasional di Indonesia adalah model pendidikan boarding school, bukan hanya model pendidikan full day school.

Jika masyarakat dianggap belum siap dengan model pendidikan boarding school, GP Ansor mengusulkan konsep full day school yang ingin diterapkan dimaksudkan sebagai sarana untuk menuju pemberlakuan boarding school.

Sementara itu, Wasekjen PP Gerakan Pemuda Ansor, Caswiyono Rusydie mengatakan, secara tidak langsung sebenarnya model pendidikan full day school sudah berjalan, terutama di kalangan masyarakat pedesaan.

“Orang tua memilih menyekolahkan anak-anaknya setelah pulang dari sekolah formal di pagi hari (07.00-13.00) untuk kembali sekolah di sekolah keagamaan (madrasah diniyyah) di sore hari (14.00-17.00),” jelasnya.

Dengan model pendidikan seperti ini, kekurangan pada pendidikan formal di sekolah pada pagi hari terjawab dengan adanya sekolah di madrasah diniyah pada sore hari. (as)