Dilaporkan ke Polisi, Anggota Dewan Gresik Siap Lapor Balik

0
879 views
Ketua Fraksi Gerindra di DPRD Gresik Abdullah Syafii di ruang kantornya. (Foto: BG/Wan)

BeritaGresik.com – Ketua Fraksi Gerindra di DPRD Kabupaten Gresik Abdullah Syafii menyatakan, dirinya siap melaporkan balik pihak-pihak yang telah sengaja melaporkan dirinya ke polisi dengan tuduhan penipuan.

Namun untuk saat ini, angota Komisi A DPRD Gresik itu masih menunggu itikad baik para pelapornya untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.

“Namun kalau mereka tidak merespon niat baik saya ini, maka saya akan melaporkan para pihak yang terlibat dalam pelaporan saya ke polisi beberapa waktu lalu,” kata Syafei di ruang kerjanya, Senin (16/1/2017).

Dia mengaku tak habis mengerti dengan dalil yang dipakai pelapor terhadap dirinya. Sebab, semua tertuang dalam perjanjian akta notaris. Bahkan kalaupun memang ada masalah dengan perjanjian tersebut, harusnya itu masuk dalam koridor perdata.

“Saya tidak mau berandai-andai mengenai latar belakang kasus ini. Yang jelas, saya menunggu itikad baik mereka untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau tidak, maka saya akan bergerak sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Syafii menjelaskan, kasus ini bermula sekitar tahun 2013, ketika seorang warga Perumahan Pongangan Indah, H Khozin yang memiliki tanah seluas 7800 m2 di Manyar Satelit bermaksud menjadikan lahan tersebut sebagai perumahan.

Kemudian, H Khozin bekerjasama dengan Wardah dan Gondo untuk mengelola lahan tersebut. Karena dinilai tidak sesuai keinginan, H Khozin, Gondo dan Wardah menyerahkan pengelolaan lahan kepada Syafei melalui akta perjanjian Notaris Amita Tholib.

Dalam akta notaris bernomoer 18 tahun 2015 disebutkan, dari pengelolaan tersebut H Khozin berhak mendapatkan keuntungan Rp 1,1 miliar dan Gondo Rp 800 juta. Untuk keduanya sudah dibayar lunas, sedangkan untuk Wardah masih kurang Rp 350 juta.

“Di akta terebut, tidak disebutkan batas akhir pembayaran karena memang untuk menjual tanah tidak bisa dalam waktu singkat,” ujar Syafii.

Karena itu, ketika Wardah menagih kekurangan haknya, Syafei menawarkan untuk dibangunkan rumah dengan tujuan lebih cepat dijual. Akhirnya, Wardah dan Syafei mengikat perjanjian di notaris pada 20 Desember 2016, yang berisi lima poin kesepakatan.

“Berkas itu saya serahkan ke notaris pada 3 Januari 2017, karena baru libur akhir tahun. Beberapa hari kemudian, saya dilaporkan dengan tuduhan penggelapan. Ini yang saya herankan, bukankah pelapor sudah menyepakati kesepakatan tersebut di notaris?” kata Syafei. (wan)