Divonis Bebas, Mantan Sekda Gresik dan Dua Mantan Petinggi PT Smelting Keluar dari Rutan Cerme

0
107 views
Khusnul Huluq bersama dua mantan petinggi PT Smelting sebelum keluar dari Rutan Cerme. (Foto: BG/Amn)

BeritaGresik.com – Horeee menghirup udara bebas… begitulah kira-kira apa yang diarasakan oleh Khusnul Huluq, mantan Sekretaris Daerah Gresik, bersama dua mantan petinggi PT Smelting, yakni Dukut Imam Widodo dan Syaiful Bahri, Rabu siang (12/4/2017).

Tadi siang, ketiga orang tersebut masih berada di dalam Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cerme. Lalu diluar Rutan, keluarga masing-masing menunggu dengan wajah ceria. Kustiana, istri Khusnul Huluq seperti tak pernah berhenti, dengan perasaan tidak sabar menunggu sumainya keluar dari Rutan.

Dalam sidang pengadilan Tindak Pidana  Korupsi (tipikor), Selasa kemarin (11/4/2017), Khusnul Huluq, Dukut Imam Widodo dan Syaiful Bahri diputus bebas oleh majlis hakim karena dianggap tidak terbukti melakukan korupsi dana uang sewa lahan pelabuhan.

Atas putusan itu, istri Huluq, Kustiana mengaku sangat bersyukur dan gembira karena suaminya di vonis tidak bersalah sehingga bisa kembali berkumpul dengan keluarga. “Sejak awal saya yakin suami saya tidak melakukan korupsi,” kata Kustiana.

Selama menunggu suaminya keluar dari Rutan, kustiana banyak berbicara  dengan Ummi Kulsum, aktivis perempuan yang menemani Kustiana menunggu di luar Rutan cerme.

Setelah menyelesaikan administari serta memberesi barang-barangnya, Khusnul Huluq bersama Dukut Imam Widodo serta Syaiful Bahri diperbolehkan keluar oleh petugas lapas. Mereka bertiga menyalami semua petugas lapas serta Sagiman, Kepala Rutan Cerme, sebelum keluar dari pintu besi lapas.

Mereka bertiga langsung berpelukan dengan istrinya masing-masing, serta anggota keluarga lainnya yang menunggu sejak siang di luar lapas.

Setelah bebas dari tahanan, Huluq mengaku kini dirinya akan konsentrasi untuk keluarga, serta mengajar di sebuah perguruan tinggi. Saat ditanya tentang suka dan duka menjadi tahanan, Khuluk mengaku kalau setiap peristiwa itu ada hikmahnya.

Sementara Dukut Imam Widodo, dengan senyum khasnya langsung menyapa wartawan. Ia mengaku bahwa selama lima bulan menjadi tahanan di rutan telah menyelesaikan lima buku, di antaranya buku pesanan salah satu pemerintah kabupaten.

Salah satu bukunya berjudul “Saya di Tahan” setebal 300 lembar halaman. Buku-buku itu ditulis tangan oleh Dukut. “Semua buku itu saya tulis dengan tangan. Diperkirakan tahun ini buku tersebut sudah cetak dan siap edar,” kata Dukut sambil tersenyum.

Dukut juga mengatakan bahwa dirinya selama di tahanan cukup enjoy. “Sehingga bisa menyelesaikan lima bua buku,” tegas Dukut sambil memeluk sang istri yang berdiri disampingnya.

Pemandangan lain terjadi pada Syaiful Bahri. Setelah keluar dari pintu besi rutan, Syaiful lolos dari wawancara wartawan karena langsung menuju mobil bersama istri dan keluarganya. (amn)