Penipu Jual Beli Tanah Kavling di Gresik Dituntut Tiga Tahun Penjara

Terdakwa Muis Al Fadhi dikawal petugas usai mengikuti sidang pembacaan tuntutan di PN Gresik, Kamis (9/5/2019). (Foto: BG/As)

BeritaGresik.com – Terdakwa kasus penipuan jual beli tanah kavling, Direktur (Dirut) PT Kavling Hijau (KH), Muis Al Fhadi (29), kembali duduk di kursi pesakitan ruang sidang Pengadilan Negeri Gresik, Kamis kemarin, (9/5/2019).

Pria yang tinggal di desa Munggugianti, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik itu, tanpak tertunduk lesu saat duduk dikursi panas pengadilan, terlebih ketika mendengar tuntutan yang dibacakan jaksa.

Jaksa penuntut umum (JPU), Nurul Istiana, dari Kejari Gresik menuntut terdakwa dengam hukuman penjara tiga tahun.

Dalam tuntutannya disebutkan, bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan sesuai pasal 378 dan 372 KUHP.

“Menuntut terdakwa Muis Al Fhadi dengan pidana tiga tahun penjara. Terdakwa juga sudah berkali-kali melakukan penipuan sehingga pantas di tuntut tuga tahun” kata Nurul.

Kendati demikian, Nurul menilai selama ini terdakwa kooperatif dan sopan selama menjalani proses persidangan. Kemudian, berterus terang mengakui kesalahannya. “Selanjutnya, terdakwa juga belum pernah dihukum,” ucapnya.

Majelis Hakim Eddi yang memimpin sidang memberikan waktu kepada terdakwa untuk menyampaikan pembelaan pekan depan. “Pekan depan pembelaan dibacakan di persidangan,” kata Eddi.

Sementara itu, Wagiman, kuasa hukum terdakwa Muis Al Fhadi mengatakan, bahwa kasus yang menimpa kliennya tidak masuk dalam pidana umum, melainkan masuk dalam kasus perdata.

“Klien saya sudah mengembalikan uang ke beberapa pembeli tanah kavling. Sehingga itikad baik itu tidak harus dipidanakan,” ujar Wagiman.

Keberatan tersebut menurutnya akan disampaikan dalam sidang pekan depan yang dipimpin majelis hakim Eddy. “Pekan depan akan saya sampaikan dalam sidang dengan agenda pledoi,” tutupnya.

Seperti diketahui, aksi dugaan penipuan jual beli tanah kavling itu berlangsung pada Oktober 2016. Dari transaksi itu, para pembeli tidak bisa menikmati tanah kavling yang sudah dibeli.

Jumlahnya mencapai ratusan orang, tapi yang melapor hanya sekitar 19 orang. Akhirnya para pembeli merasa tertipu dan melaporkannya ke Polisi. (as)

No Response