Dirut PDAM Gresik Siap Jika Dipanggil KPK

0
955 views

Dirut PDAM Gresik

BeritaGresik.com – Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Gresik, Muhammad mengaku siap jika dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan korupsi senilai Rp 50 miliar di perusahaan yang dipimpinnya .

“Saya siap dipanggil, bahkan kami siap audit lagi,” kata Muhammad kepada wartawan menanggapi adanya laporan ke KPK terkait dugaan praktik korupsi di PDAM Gresik, Kamis (5/11/2015).

Dia menegaskan, dirinya tidak melakukan penyalahgunaan anggaran terkait perjanjian kerjasama PDAM dengan PT Dewata Bangun Tirta pada 25 Mei 2012 untuk pemenuhan kebutuhan air dengan kapasitas 200 liter per detik.

Selain itu, Muhammad juga menampik tudingan adanya penyalahgunaan dalam perjanjian kerjasama dengan PT Drupadi Agung Lestari yang dilakukan pada 1 Oktober 2012 dengan kapasitas 400 liter per detik.

“Kami siap saja dan tidak pernah menutup-tupi. Malahan, sejak ada audit dari BPK. PDAM Gresik yang semula dinilai cukup, tapi setelah ada kerjasama dengan investor malah dinilai B plus,” terangnya.

Terkait laporan ke KPK yang dilakukan mantan Direktur Teknik PDAM Gresik Chris Hadi Susanto, Muhammad mengatakan jika perjanjian kerjasama dengan dua perusahaan swasta saat itu juga melibatkan yang bersangkutan.

Kasus ini muncul ke permukaan setelah adanya laporan ke KPK terkait dugaan korupsi di PDAM Gresik. Pelapor adalah mantan Direktur Teknik PDAM Gresik Chris Hadi Susanto Direktur Teknik PDAM Gresik Chris Hadi Susanto.

Dalam laporannya, dugaan adanya korpusi disebut berawal dari proyek pembangunan instalasi pengolahan air di Legundi, Driyorejo yang dialakukan PT Dewata Bangun Tirta (DBT). Investasi proyek tersebut sebesar Rp 46 miliar.

Hal yang sama juga dilakukan oleh PT Drupadi Agung Lestari (DAL). Perusahaan ini membangun proyek rehabilitation operation transfer di Krikilan, Driyorejo, dengan nilai investasi mencapai Rp 86 miliar.

Dalam perkembangannya,  proyek yang dikerjakan PT DBT selesai dan mampu memproduksi air baku PDAM sebanyak 200 liter per detik. Sementara PDAM Gresik hanya mampu memproduksi air 550 liter per detik, dan kurang 100 liter per detik.

Kekurangan inilah yang dicukupi PT DBT dan dipermasalahkan Chris Hadi Susanto. Sebab, PDAM membeli air dari PT DBT dua kali lipat dari harga yang diproduksi sendiri. PDAM justru menutup produksinya sebanyak 100 liter per detik.

Selain itu, harga yang harus dibeli PDAM Gresik dari PT DBT senilai Rp 2.500 meter kubik. Padahal, harga produksi air PDAM hanya Rp 1.000- Rp 1.200 meter kubik. Selisih harga ini yang dipermasalahkan Chris Hadi Susanto. [wan]