PSI, Kohati PBHMI dan Kowani Koreksi “Kuota Jadi” Perempuan

0
262 views

JAKARTA, BeritaGresik.com – Kuota 30 persen untuk perempuan di kepengurusan partai politik dan calon anggota legislative dinilai tidak cukup memberikan dampak kepada keterpilihan perempuan di parlemen, karena sistem suara terbanyak membuat perempuan bertarung di gelanggang yang sama dengan laki-laki. Diperlukan kebijakan khusus untuk target 30 % “kuota jadi” untuk perempuan.

“Padahal perempuan sampai hari ini masih hidup dalam ketidakadilan gender yang membuat mereka tidak punya akses dan modal sosial politik yang sama dengan laki-laki,” kata Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie dalam dialog publik  yang diadakan oleh KORPS HMI Wati Pengurus Besar HMI (KOHATI PB HMI) bekerjasama dengan KOWANI, dengan tema “Peran Strategis Perempuan Dalam Kancah Politik” di Gedung Kowani, Jakarta, Kamis (30/4).

Dalam keterangan persnya, Grace mengatakan, domestifikasi dari cara pandang yang bias gender masih terjadi di parpol, parlemen dan birokrasi.

“Sampai saat ini perempuan yang berkiprah di eksekutif, legislative dan terlebih yudikatif masih sangat kurang. PNS di 34 kementerian berjumlah 59,1 % laki-laki dan 40,9 % nya adalah perempuan, sedangkan perempuan yang menduduki jabatan eselon hanya 5,6%. Di legislative, target 30 % hanya mencapai 17, 34 %, menurun dari periode sebelumnya yang berjumlah 18 %. Secara kuantitatif perempuan ini, dan juga kualitatif komitmen anggota dewan secara umum ini berpengaruh kepada kebijakan program dan anggaran yang berfokus pada perempuan. Sampai saat ini persoalan sosial perempuan masih bercokol, kemiskinan yang berwajah perempuan, kematian ibu karena melahirkan tidak aman, kekerasan, ketenagakerjaan dan lain-lain,” terang Endah Cahya Immawati (Ketua Umum KOHATI PB HMI) yang menjadi salah satu narasumbernya.

Sekar, Wasekjend KOWANI yang juga menjadi pembicara menyampaikan apabila berbicara politik tidak un sich terkait dengan legislative atau parpol, akan tetapi berbicara kebijakan di semua lini, sampai di persoalan dapur.

“Makanya, perempuan harus partisipasi aktif, karena yang tahu persoalan perempuan adalah perempuan sendiri,” ujar Sekar.

Hadir juga dalam diskusi tersebut, Muhammad Dja’far Hafsah dari Partai Demokrat, Laila dari Partai Nasdem, dan Agung Solihin dari.

“Acara ini diakhiri dengan penandatanganan petisi perempuan Indonesia, yang berisi tentang beberapa komitmen dan tuntutan untuk mendorong kuota di segala lini dan mengefektifkan kiprah,” terang Sri Rahayu Mayasari selaku Ketua Panitia pelaksanaan Dialog Publik KOHATI PB HMI tersebut.

Acara ini dibuka oleh Ony Dja’far Hafsah, selaku Koordinator Bidang Politik  KOWANI yang mewakili Ketua Umum yang tidak berhadir karena bertugas di Jawa barat. [] EN