Syeikh Zainuddin Al-Baweani, Ulama Teladan dari Bawean Hingga Makkah (1)

0
759 views

BeritaGresik.com – Hampir di seluruh pelosok pulau di Nusantara memiliki catatan sejarah para ulama yang berperan besar dalam pengembangan Islam. Di antaranya adalah Syeikh Muhammad Zainuddin al-Baweani, sosok ulama tauladan dari pulau terpisah dari Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Syekh Muhammad Zainuddin al-Baweani atau Bawean adalah salah seorang ulama keturunan Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, Makkah.

Ia juga dikenal sebagai salah seorang penyebar gagasan kebangsaan Indonesia di kalangan para santri dan mahasiswa di Madrasah Darul Ulum Makkah al-Mukarramah. Syekh Muhammad Zainuddin lahir di Makkah pada tahun 1334 H/1915. Ayahnya adalah Syekh Abdullah bin Muhammad Arsyad bin Ma’ruf bin Ahmad bin Abdul Latif Bawean.

Adalah kakeknya yang pertama kali menginjakkan kaki di negeri Hijaz. Orang-orang Bawean memang banyak yang menjadi pengembara, untuk tujuan ekonomi maupun untuk menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci.

Syekh Muhammad Hasan Asy’ari (wafat sekitar tahun 1921) adalah di antara orang-orang Bawean yang berhasil jadi ulama dan juga guru besar di Makkah.

Sejak kecil, Syekh Zainuddin mengaji pertama kali sama ayahnya, lalu berguru pada ulama-ulama terkenal di Mekah dan Madinah. Di antaranya Syekh Amin al-Kurdi, Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi, Syekh Muhammad Baqir al-Jugjawi (asal Yogyakarta), dan Syekh Sayid Muhsin al-Musawa (asal Palembang).

Beliau juga nyantri dan belajar di Madrasah al-Fakhriyah, lalu di Madrasah Shaulatiyah pada tahun 1351 H/1932. Di tahun awal beliau bergabung ke madrasah favorit itu, sudah muncul konflik dan ketegangan di antara guru dan mahasiswa asal Indonesia.

Karena diyakini siapa yang ngaji di sini pasti jadi ulama besar di kampungnya. KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, hingga Syekh Musthafa Husein Purba, pendiri Pesantren Musthafawiyah, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara adalah di antara alumni Madrasah Shaulatiyah.

Tapi, suatu kali ada seorang guru Arab di Madrasah Shaulatiyah ini yang kurang beradab: menghina bahasa Melayu dan menyebut orang Nusantara bodoh sehingga gampang dijajah Belanda.

Saat itu juga para mahasiswa tersinggung dan marah mengecam perilaku guru tersebut. Lalu muncullah semangat patriotisme orang-orang Indonesia di sana untuk membela agama dan juga bela kebangsaan Indonesia sekaligus.

Tidak terkecuali Syekh Zainuddin Bawean sendiri, dimana saat itu usianya memasuki 20 tahun. Protes ini berujung pada para ulama Nusantara kumpul dan mendirikan madrasah sendiri, dan meninggalkan Madrasah Shaulatiyah pada 1934. [abr/republika]