Polres Amankan Penjual Mei Berformalin

0
379 views

BeritaGresik.com – Sebanyak 895 kilogram mie kuning yang mengandung formalin diamankan Satreskrim Polres Gresik, Selasa (28/4/2015).

Kasus ini terbongkar setelah polisi mendapat informasi dari masyarakat bahwa di Pasar Inpres Gresik Jalan Gubernur Suryo ada pedagang yang menjual mie kuning berformalin.

Setelah dilakukan penyelidikan polisi mengamankan satu pelaku, Tukinun (53), warga Desa Kemantren, Kecamatan Jabon, Kabupaten Malang.

Selain mengamankan pelaku, polisi juga mengamankan 179 kantong mie berformalin, dimana setiap kantongnya berisi 5 kilogram mie kuning.

Diungkapkan Tukinun, dirinya sudah 3 tahun menjual mie berformalin yang dipasarkan di Gresik, Kediri, dan Malang. “Per harinya kami memproduksi 60 sampai 70 kantong mie dengan dijual per kantongnya Rp 32 ribu di pasaran,” ujarnya.

Tukinun mengaku dirinya mencampurkan formalin ke dalam air rendaman mie. Selanjutnya, formalin tersebut bukan dicampur dengan bahan pembuatan mie.

Dengan cara itu, mie yang direndam dengan campuran formalin bisa tahan sampai tiga hari. Sedangkan mie yang tidak mengandung formalin hanya mampu bertahan dalam hitungan jam.

“Sejak menggunakan formalin, keuntungan bertambah karena mie yang diproduksi bisa awet dalam tiga hari,” kata Tukinun menutup wajahnya.

Kapolres Gresik AKBP Ady Wibowo membenarkan telah mengamankan satu pelaku yang memproduksi mie mengandung formalin.

“Penangkapan pelaku bermula ada informasi dari masyarakat, terdapat kegiatan penjualan mie basah yang berformalin. Setelah anggota saya terjun ke lapangan mendapat sampel 4 kantong mie berformalin dari pedagang, dan saat dilakukan pengecekan di laboratorium memang mengandung formalin,” ungkapnya.

Lebih lanjut AKBP Ady Wibowo menjelaskan, dari pengembangan penyelidikan. Pedagang yang menjual formalin mengaku mendapatkan mie itu dari Pasar Ngronggo Kabupaten Kediri. Dari pengembangan lagi berhasil menangkap pelaku Tukinun yang memproduksi mie kuning berformalin.

“Atas dasar perbuatannya itu kami menjerat pelaku dengan pasal 136 Undang-Undang RI nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman 7 tahun penjara,” pungkasnya. [beritajatim/ZR]