“Dhurung”, Bangunan Adat Bawean yang Kian Langka

0
1,075 views

BeritaGresik.com – Keberadaan Dhurung atau bangunan adat masyarakat Bawean belakangan kian sulit dijumpai. Diantara rumah warga Bawean yang kami jumpai, hanya beberapa rumah saja yang masih mempertahankan keberadaan bangunan adat itu.

Dhurung merupakan situs budaya berbentuk gubuk tanpa dinding yang biasanya terbuat dari kayu. Atapnya menggunakan rumbai yang terbuat dari daun pohon yang disebut “Dheun”.

Umumnya, Dhurung terletak di depan rumah. Dalam tradisi masyarakat Bawean, Dhurung biasa digunakan sebagai tempat istirahat untuk melepas lelah selepas pulang dari sawah atau ladang.

Dhurung juga kerap dijadikan sebagai sarana sosialisasi dengan tetangga sekitar atau dengan tetangga kampung lain. Bahkan, tidak jarang yang digunakan sebagai tempat untuk mencari jodoh.

Namun yang tidak kalah penting, pada bagian atasnya Dhurung memiliki fungsi sebagai lumbung atau tempat menyimpan hasil panen padi.

Simbol Ketahanan Pangan

Bagi masyarakat Bawean, Dhurung dapat dikatakan sebagai salah satu strategi bertahan hidup atau ketahanan pangan bagi para petani.

Karena itu, bangunan yang memiliki empat tiang itu dirancang anti tikus. Itu terlihat dari adanya lempengan bulat di setiap tiang, sehingga tikus tidak bisa memanjat ke tempat penyimpanan padi.

Keberadaan Dhurung sebagai tempat penyimpanan hasil panen padi memiliki fungsi strategis bagi ketahanan masyarakat Bawean, terutama dalam mengantisipasi terjadinya kekurangan pangan.

Apalagi pada waktu tertentu pasokan bahan kebutuhan pokok terhambat karena adanya ombak yang besar. Karena itu, “Dhurung” sangat dibutuhkan untuk menyimpan hasil panen padi.

Banyak Dijual ke Luar

Menurut penuturan salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, keberadaan Dhurung di Bawean belakangan ini mulai langka. Bahkan tidak semua warga Bawean memiliki bangunan adat itu.

Selain memang karena tingkat ketertarikan warga yang mulai menurun, keberadaan Dhurung mulai langka karena banyak yang di jual ke luar daerah, termasuk salah satunya ke Pulau Dewata Bali.

Harganya yang fantastis membuat sebagian warga menjual bangunan budaya peninggalan nenek moyang ke luar daerah. Di Bawean sendiri umumnya di jual sebesar Rp 15 juta per Dhurung.

Harganya bisa melonjak jika dijual ke luar daerah. Bahkan kabarnya bisa mencapai Rp 50 juta per buah jika dijual ke Bali. Praktik ini ditengarai sebagai pemicu milai langkanya Dhurung di Bawean,

Bangunan Dhurung memang menarik dan memiliki nilai artistic yang tinggi, di tiap sisinya terdapat ukiran menyerupai batik. Karena itu, sudah seharusnya situs budaya ini dicegah dari kepunahan. [zr]