Nusron Wahid Berharap TKI Bisa Kontrol Keuangan

0
239 views

JAKARTA, BeritaGresik.com – Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Nusron Wahid menyayangkan masih banyaknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang memiliki pola hidup konsumtif. Hal ini menjadikan keuangan mereka saat bekerja di negeri seberang kurang terkontrol dengan baik.

“Banyak yang terjebak pola hidup konsumtif, sehingga mau pulang jadi malu,” katanya saat menghadiri pembukaan eduksi di Sekolah Republik Indonesia di Tokyo.

Para TKI itu malu untuk pulang ke tanah air, lantaran tidak memiliki uang lebih. Mereka memilih menetap lebih lama di negara tujuan tanpa memenuhi syarat administrasi sesuai hukum.

Ia mengatakan menjadi TKI, seharusnya hanya sebagai jembatan menuju sukses dalam menata masa depan. “Jangan sampai orang menjadi TKI seumur hidup,” katanya dalam kterangan tertulis, Ahad 24 Mei 2015.

Nusron  menghimbau agar uang yang sudah didapat  bisa disisihkan untuk menjadi modal usaha setelah  kembali ke Tanah Air. “ Harus mulai berusaha jadi pengusaha.”

Melihat hal demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BNP2TKI mengadakan edukasi keuangan dan kewirausahaan bagi TKI di berbagai negara, termasuk di Tokyo Jepang. Pekan lalu kegiatan serupa juga dilakukan di Hongkong bersama Bank Mandiri dan Taiwan bersama Bank BNI.

Materi yang diberikan kepada para TKI ini adalah pengenalan lembaga dan produk jasa keuangan, seperti perbankan, asuransi, pembiayaan, pasar modal dan lembaga keuangan mikro. Ada pula materi tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan.

Nusron mendukung adanya pemberian edukasi keuangan ini kepaa masyarakat Indonesia yang sedang bekerja di negeri seberang. Banyak di antara para TKI yang rela berhutang sebelum berangkat ke negara tujuannya.

“Saat kembali ke Tanah Air pun mereka malah jual tanah, karena tidak bisa mengelola keuangannya,” kata Nusron.

Di Jepang ada sekitar 30 ribu warga negara Indonesia. 14 ribu diantaranya pekerja yang dengan mekanisme kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang. Ada yang menjadi tenaga magang di perusahaan manufaktur, konstruksi, jasa dan pertanian. Ada juga yang menjadi tenaga perawat.  Gaji  mereka berkisar  120 ribu- 250 ribu yen atau setara dengan Rp 15 hingga Rp 30 juta per bulan.