Pakar Ushul Fiqh Menilai Haram Tokoh Agama Mendiamkan Kasus Asyani

0
327 views

BEKASI, BeritaGresik.com – Mendengar vonis majlis hakim yang dijatuhkan terhadap Nenek Asyani, budayawan yang juga ketua Komunitas Kyai Muda Gus Wahyu NH Aly mengatakan vonis majlis hakim terhadap nenek Asyani tidak dilandasi rasa keadilan. Sehingga, menurutnya, vonis tersebut harus disikapi oleh semua pihak, termasuk tokoh agama dan masyarakat.

“Tokoh agama dan masyarakat wajib bergerak, terlebih ini soal keadilan. Dalam agama, ketidakadilan itu kasus kolektif bukan pribadi. Haram hukumnya apatis, masa bodoh dengan vonis nenek Asyani. Khususnya tokoh agama dan masyarakat Situbondo,” tegasnya dalam pengajian Al-Hikam di Bekasi, Jumat, (24/04).

Menurut pakar ushul fiqh ini, apa yang dialami nenek Asyani sudah masuk ranah kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Sehingga dikatakan, mendiamkan tanpa aksi termasuk rendahnya kualitas iman. Ia juga menjelaskan, apabila tokoh agama dan masyarakat tidak ada upaya membantu ketidakadilan yang dihadapi nenek Asyani, tokoh agama dan masyarakat Situbondo dinilai cukup parah dalam implementasi keagamaannya.

“Melihat fenomena ini dengan ushul fiqh, bagi tokoh agama pasti paham. Tapi paham saja tidak cukup, tokoh agama wajib turun tangan. Termasuk masyarakat. Ini terkait fardhu kifayah, semua memiliki hak untuk membantu. Jika satu desa belum mampu, ya se-kabupaten wajib untuk turun tangan,” tambahnya.

Ketidakadilan yang dialami nenek Asyani menurut Gus Wahyu, jika didiamkan, maka akan menyeret tokoh agama dan masyarakat dalam dosa. Dikatakan, dosa terkait pembiaran ketidakadilan tidak dapat diampuni hingga orang yang didzolimi memberi maaf terhadap semua orang, termasuk para tokoh agama dan masyarakat yang apatis.

“Jika tokoh agama dan masyarakat semua hanya menonton, semuanya bila ditinjau dari sulfik ya berdosa. Dosa terkait ketidakadilan itu tidak akan diampuni hingga orang yang mendapat ketidakadilan ini memaafkan orang-orang yang hanya menonton itu,” ujarnya.

Cucu KH Abdullah Siradj ini berharap, para tokoh agama, khususnya yang ada di Situbondo tidak sekedar mengajarkan agama dengan cuap-cuap di majlis, tapi juga dengan memberikan tauladan seperti turun langsung menyikapi ketidakadilan yang diterima nenek Asyani.

“Jangan omdo, omong doang. Saya berharap, para tokoh agama di Situbondo bisa memberikan tauladan secara nyata terkait persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, termasuk soal ketidakadilan seperti yang dialami nenek Asyani,” harapnya.

Sebelumnya di Situbondo, majelis hakim Pengadilan Negeri Situbondo, Kamis (23/4/2015), menjatuhkan vonis satu tahun penjara dengan masa percobaan 15 bulan kepada nenek Asyani, warga Dusun Krastal, Desa Jatibanteng, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Asyani adalah terdakwa kasus pencurian tujuh batang kayu milik Perum Perhutani setempat.

Selain itu, majelis hakim yang dipimpin Kadek Dedy Arcana juga menjatuhkan denda sebesar Rp 500 juta dengan subsider satu hari masa kurungan. Namun, karena pertimbangan usia dan kesehatan nenek Asyani, subsider kurungan tersebut tidak perlu dijalani oleh yang bersangkutan.

Sementara itu, penasihat hukum Asyani, Supriyono, mengaku tidak terima dengan putusan hakim tersebut. Untuk itu, dia menyatakan akan menempuh banding atas putusan bersalah terhadap Asyani. [] Fth