Pendangkalan Sungai Penyebab Terjadinya Banjir di Bawean

0
1,084 views
Foto: Berita Gresik/Zur
Curah hujan tinggi disertai luapan air sungai membuat sejumlah desa di Bawean terendam banjir. (Foto: Berita Gresik/Zur)

BeritaGresik.com – Pendangkalan aliran sungai diduga sebagai salah satu pemicu terjadinya banjir di beberapa kawasan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Banjir di Bawean kerap terjadi saat memasuki musim penghujan seperti sekarang ini.

“Hampir keseluruhan sungai yang ada di Bawean mendangkal. Sehingga kalau ada hujan deras, air sungai akan meluap dan membanjiri daerah yang rendah,” ungkap Hakim,” warga asal Pulau Bawean yang kini tinggal di daerah Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/2/2016).

Itu dikemukakan Hakim berdasarkan hasil kunjungannya ke Bawean pada 26 Desember 2015 hingga 27 Januari 2016. Kunjungan waktu itu dikatakan dalam rangka untuk mengetahui potensi sumber mata air agar lebih potensial dan tidak terjadi banjir seperti 2014 lalu.

Selain pendangkalan sungai, ditemukan pembuangan sampah dari hulu ke hilir yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Sehingga jika curah hujan tinggi, sampah yang dibuang ke sungai menjadi salah satu penghambat aliran air di sungai.

Foto: Berita Gresik/Abr
Luapan air sungai juga membuat tanaman padi milik warga terendam. (Foto: Berita Gresik/Abr)

Kondisi tersebut diperparah lagi tidak adanya selokan, gorong-gorong, serta geluren di sepanjang jalan utama. “Sehingga kalau hujan deras datang, maka jalan utama menjadi sungai sesaat. Akibatnya, jalan lingkar Bawean mudah rusak,” papar Hakim.

Dia juga melihat maraknya penebangan pohon besar sebagai penyebab Bawean rentan banjir. Sebagian besar pohon yang tumbuh di Bawean hanya pohon berdiameter kecil. Pohon ini dikatakan tidak mampu menampung debit air hujan meski hujan deras hanya satu malam.

Sungai Harus Dikeruk

Pengerukan sungai, baik itu dilakukan Pemkab Gresik maupun pemerintah pusat, dinilai sebagai salah satu solusi agar sungai di Bawean yang saat ini sedang mengalami pendangkalan tidak meluap dan menyebabkan banjir di kawasan pemukiman penduduk.

“Karena ada dana dari Pusat untuk pengadaan irigasi atau rehabilitasi sungai untuk daerah pulau dan terpencil. Hal ini bisa di lakukan oleh dinas terkait seperti Dinas Perhubungan dan Dinas Irigasi Kabupaten Gresik dan Pusat, serta masyarakat terkait,” tuturnya.

Selain itu, Hakim memandang perlu dibangun dam air dan pintu air di setiap daerah atau desa yang dialui aliran sungai dan persawahan. Dengan begitu, nantinya dapat diberlakukan sistem buka tutup guna mengontrol ketinggian air yang mengalir di sungai-sungai yang ada.

Pengolahan Sampah Mendesak

Penyediaan lahan oleh pemerintah setempat, baik desa atau kecamatan, untuk pengelolaan sampah terpadu dirasa penting. Dengan begitu, warga tak lagi membuang sampah ke sungai. “Bukan hanya seperti sekarang yang hanya berupa himbuan saja,” ujar Hakim.

Untuk penanganan tentang sampah terpadu di tiap desa atau Kecamatan, menurut Hakim saat ini dana dari pusat sudah tersedia di Dinas Penataan Ruang, Pemukiman Bersih (Tarkimsih), Dinas Perhubungan atau dinas yang lain. (as)