Bandara Harun Thohir, Penantian Panjang Warga Bawean

0
1,633 views
Bandara Harun Thohir di Bawean. (Foto/Berita Gresik/Wan)
Bandara Harun Thohir di Bawean. (Foto/Berita Gresik/Wan)

BeritaGresik.com – Horee.. bepergian ke Pulau Bawean sekarang tidak hanya bisa dilalui dengan naik kapal laut, tapi bisa juga dengan naik pesawat terbang dari Bandar Udara Juanda Surabaya di Sidoarjo menuju Bandara Harun Thohir Bawean.

Penantian panjang warga Pulau Bawean bisa pulang ke kampung halaman dengan menaiki pesawat akhirnya terbayar juga. Itu seiring beroperasinya Bandara Harun Thohir yang diresmikan langsung oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan beberapa saat yang lalu.

Untuk rute penerbangan Surabaya-Bawean, saat ini dilayani maskapai Airfast Indonesia setiap hari Selasa dan Kamis. Harga tiket pesawat dari Juanda ke Bawean Rp 302.000, sedangkan dari Bawean ke Juanda hanya Rp 240.000.

Hal yang perlu diperhatikan ketika Anda mau ke Bawean dengan naik pesawat udara. Pertama, calon penumpang harus pergi ke Bandara Juanda. Anda masuk dari terminal 1 pintu domestik 1b, lalu calon penumpang akan melewati pintu X ray, cek in tiket dan menimbang barang bawaan.

Namun demikian, untuk pesawat tujuan Bandara Harun Thohir Bawean, tidak hanya barang bawaan yang di timbang, tapi calon penumpang juga ditimbang bersama barang bawaan. Itu dilakukan untuk mengetahui beban angkut yang akan dibawa pesawat, apakah sesuai dengan daya angkut pesawat atau lebih.

Demikian diungkapkan Hartono, petugas Airfast Indonesia bagian menimbang barang bawaan dan penumpang dari. Menurut dia, barang bawaan tidak boleh melebihi kapasitas yang ditetapkan. Itu penting uktuk keselamatan penumpang.

Mengingat pesawat yang akan dinaiki merupakan pesawat kecil, maka Anda para calon penumpang diharap maklum serta mematuhi aturan yang ada. Sebab, ini demi keselamatan semuanya. Karena itu, setiap calon penumpang maksimal hanya boleh membawa 10 kg barang.

Setelah Anda beserta barang di timbang bersamaan, maka Anda bisa langsung masuk ke ruang boording. Namun, sekali lagi Anda akan melewati pintu X ray. Tak lama kemudian, petugas akan mengarahkan Anda menuju pesawat yang akan terbang menuju pulau yang dikenal dengan sebutan pulau 99 bukit.

Semua calon penumpang akan diberi penjelasan di bawah sayap pesawat yang dilakukan oleh Bambang Dwi, salah satu pilot pesawat yang akan membawa anda terbang. Dia akan memberi pengarahan tentang keselamatan dan tata cara penggunaan alat keselamatan pesawat.

Kenapa pengarahan dilakukan di bawah sayap pesawat, kok tidak seperti pesawat udara pada umumnya yang dilakukan oleh pramugari ataupun pramugara saat dalan pesawat. Tentu saja tidak, sebab petugas akan kesulitan jika pengarahan dilakukan di dalam pesawat. Karena ruang di dalam pesawat terbatas dan bagi orang dewasa tidak cukup untuk berdiri.

Meski pengarahan diberikan di luar pesawat sebelum naik ke burung besi ukuran kecil, tentunya hal ini tak kalah istimewah karena pengarahan langsung disampaikan orang yang paling bertanggung jawab atas pesawat, yakni pilot pesawat yang gagah dan pakaian rapi.

Pengarahan di luar pesawat ini sangat mudah disampaikan pilot didampingi oleh kopilot dan satu kru pesawat. Karena jumlah penupang tak lebih dari sebelas orang, tentu saja suara pilot mudah di dengar dengan jelas walapun tidak menggunakan pengeras suara.

Ketika masuk pintu pesawat, Anda harus menunduk agar kepala tidak terbentur body pesawat. Pesawat terbang dari Juanda, tepat pukul 09.55 Wib. Selama 10 menit terbang dari Juanda, penumpang akan disuguhi pemandangan Kota Surabaya, jembatan Suramadu, serta bukit kapur yang ada di Pulau Madura.

Pesawat terus terbang rendah melintasi pinggiran Pulau Madura hingga laut Jawa. Selain bisa melihat pulau garam penumpang juga bisa melihat menara PLTU gresik serta deretan kapal-kapal yang sedang berlabuh untuk bongkar muat.

Jika cuaca langit cerah, penumpang bisa dengan jelas menikmati birunya lautan. Tak lama berselang, penumpang akan menikmati indahnya Pulau Bawean. Mulai dua dermaga pelabuhan Sangkapura hingga deretan perahu ikan serta hamparan sawah, rumah dan indahnya alam perbukitan pulau Bawean yang dipenuhi hutan tropis.

Rasa tegang Anda selama penerbangan dari Surabaya ke Bawean akan semakin hilang disaat landasan pesawat lapangan terbang Harun Thohir terlihat dari jendela pesawat buatan tahun 80-an itu.

Saat terbang ke pulau Bawean, Kamis 11 Februari lalu bersama Guslan Gumilang, fotografer Jawapos, saya sengaja memilih duduk di belakang pilot, agar bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Pilot sejak akan terbang hingga mendarat di Harun Thohir Bawean.

Awalnya, saya juga sempat deg-degan saat akan naik ke pesawat, apalagi penumpang asal Malaysia, yang bersama anaknya berkomentar, pesawatnya kok kecil. Tapi ketika melihat wajah pilot dan kopilot tenang dan menyapa dengan senyum, kontan saja rasa was-was itu mulai hilang.

Di atas laut Jawa, pesawat terbang dengan ketinggian 2.500 meter dari permukaan laut. Kemudian terbang lebih rendah setelah mendekati Pulau Bawean dengan ecepatan aksimal 303 km per jam. Total waktu jarak tempuh 205 km selama 45 menit.

Pesawat Airfast Indonesia menggunakan dua mesin kiri kanan dengan dua baling baling atau yang dikenal dengan jenis twin otter. Lamanya penerbangan dari Juanda menuju Bandara Harun Thohir Bawean seperti penerbangan dari Juanda ke Jakarta dengan pesawat yang menggunakan mesin jet.

“Baru duduk kok sudah mau sampai,” ujar warga Malaysia yang duduk di kursi 4 B. Setelah terbang 45 menit , pesawat mungil dengan cat dominam putih kombinasi kuning dandi piloti oleh Kapten Bambang Dwi, dengan mulus mendaratkan pesawat dari sisi timur landasan pacu Bandara Harun Thohir Bawean.

Maklum dia merupakan mantan pilot pesawat Bouraq. Pesawat mendarat di lapangan terbang yang memiki landasan pacu sepanjang 930 meter. Saat pesawat mendarat, ya seperti biasa banyak warga Bawean yang menonton dari luar pagar.

Berbeda dengan saat pesawat Airfast Indonesia yang mendarat pada 28 Januari yang lalu, tentu saja saat itu ratusan warga Bawean menyaksikan, apalagi saat itu merupakan penerbangan perdana pesawat Airfast mengangkut penumpang umum, yakni dua hari sebelum bandara diresmikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

Dedy Eko Purnomo, petugas dari Airnav Indonesia, yang bertugas memandu lalulintas udara di Bandara Harun Thohir pun langsung tersenyum melihat pesawat mendarat dengan sempurna.

Bandara Harun Thohir Bawean dirintis sejak 2004 silam. Dari Bandara Juanda menuju Bandara Harun Thohir, pesawat Airfast Indonesia PK-0CL terbang dengan ketinggian 6.000 kaki. Sebaliknya, jika dari Bandara Harun Thohir ke Bandara Juanda pesawat terbang di ketinggian 7.000 kaki.

Dengan beroperasinya penerbangan dari jlJuanda ke Bawean dan sebaliknya, tidak hanya membuat mudah warga Bawean yang hendak pulang ke kampung halamnnya, tetapi juga akan membuat mudah para pejabat, mulai Bupati, Gubernur, Menteri hingga Presiden untuk berkunjung ke Bawean.

Adanya penerbangan ini dirasa jauh lebih efektif ketimbang melalui jalur laut. Gubernur Jawa Timur, Soekarwo pun akhirnya bisa menginjakkan kakinya di Pulau Bawean setelah sebelumnya kerap gagal melakukan kunjungan kerja ke Bawean karen alasan transportasi. []

Mohammad Amin
Jurnalis asal Bawean yang tinggal di Gresik