Pelajar Gresik Sulap Limbah Ikan Bandeng Jadi Produk Makanan

0
921 views
Di tangan enam siswi SMA NU 2 Gresik limbah ikan bandeng bisa menjadi produk makanan. (Foto: BG/Wan)
Di tangan enam siswi SMA NU 2 Gresik limbah ikan bandeng bisa menjadi produk makanan. (Foto: BG/Wan)

BeritaGresik.com – Sebagian orang menganggap duri ikan bandeng tidak berguna dan hanya dilihat sebagai limbah. Namun, di tangan enam siswi SMA NU 2 Gresik limbah ikan bandeng itu bisa menjadi produk makanan dengan proses pengolahan yang tepat.

Keenam siswi itu adalah Sheli Viviriantini, Fadhilatun Ni’mah dan Sendra Dewi Moekti yang masih duduk di kelas 12. Sementara Nur Qomaria, Riza Umamah dan Uswatun Chasanah duduk di bangku kelas 11.

Berawal dari produk makanan bernama otak-otak yang dibuat dari bahan daging ikan bandeng, mereka mulai berpikir mengolah limbah ikan menjadi produk makanan. Selama ini hampir tidak ada yang memanfaatkan duri ikan bandeng.

(Foto: BG/Wan)
(Foto: BG/Wan)

Sebelum mengolah menjadi makanan, keenam siswi tersebut terdorong untuk meneliti kandungan yang terdapat pada duri ikan bandeng.

“Kami tahunya duri ikan bandeng saat membuat otak-otak dibuang begitu saja. Padahal, kandungan dalam duri ikan bandeng kaya akan kalsium dan protein,” ujar Sheli di laboratorium SMA NU 2 Gresik, Selasa (15/11/2016).

Dukungan dari guru pembina mendorong mereka untuk berkreasi dengan menjadikan duri ikan bandeng sebagai produk makanan yang bernilai jual dan kaya kandungan gizi.

Setidaknya ada tiga produk makanan yang dihasilkan dari olahan limbah duri ikan bandeng, yaitu bakso atau pentol, nugget dan sosis. Proses pembuatan ketiga makanan itu cukup mudah, bahannya pun sama, hanya komposisi bumbunya saja yang berbeda.

Agar duri ikan bandeng bisa diolah menjadi makanan, proses pertama yang dilakukan adalah mencuci duri hingga bersih. Proses selanjutnya melunakkan duri ikan dengan cara dipresto dengan pemberian bumbu di dalamnya.

“Saat di presto ditambahkan bumbu seperti ketumbar, kunir, daun salam, daun jeruk, bawang putih, garam, dan serai,” lanjut Sheli.

Proses presto dilakukan selama satu jam, hal ini untuk membuat duri menjadi lunak sekaligus. Selanjutnya menghaluskan duri dengan cara diblender. Sebelum diblender, disiapkan sejumlah bahan atau komposisi bumbu lagi.

Komposisi Bumbu itu, nantinya akan turut diblender bersama duri ikan. Untuk membuat bakso, komposisi bumbu yang diperlukan adalah telur, bawang putih, garam dan gula.

Sementara dalam pembuatan nugget, diperlukan bawang bombay, bawang putih, bawang pre, gula, garam, minyak wijen, dan kecap asin. Kemudian untuk sosis, adalah ketumbar, kunir, terigu, gula, garam, dan wortel. Wortel diperlukan untuk memberi warna marah atau oranye pada sosis.

Setelah diblender, duri ikan menjadi halus dan berbentuk seperti adonan. Untuk membuat bakso, adonan diberi tepung tapioka dan sedikit tepung terigu agar tekstur bakso bisa sedikit keras.

Adonan itu kemudian dilumat menggunakan tangan hingga bentuknya padat. Lalu adonan itu dibentuk bulat menjadi bakso dan direbus.

Rasa bakso duri ikan memang berbeda. Sama sekali tidak berasa seperti daging. Ada sedikit rasa ikan tetapi ada juga rasa yang berbeda di dalamnya. “Yang pasti, produk olahan dari duri ikan ini mengandung banyak protein dan kalsium,” kata Shelli.

Sementara Kepala Sekolah SMA NU 2 Gresik, Muhammad Kirom mengatakan, bahwa apa yang dikerjakan oleh siswa didiknya, sekolah akan selalu mendukung dan memfasilitasi. Setiap inovasi yang bernilai positif dan bermanfaat untuk masyarakat, akan selalu mendapat dukungan termasuk pembiayaan.

“Ini termasuk ekstra kurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang merupakan rencana kerja sekolah untuk jangka panjang. Di sini inovasi diharapkan terus berkembang. Siswa diharapkan lebih kreatif dan inovatif, sehingga tak hanya bisa bicara di kancah nasional tapi juga internasional,” kata Kirom.

Inovasi limbah duri ikan bandeng menjadi produk olahan Karya ke enam siswi ini, telah meraih juara-1 pada 3rd Airlangga Ideas Competition pada kategori Lomba Karya Tulis Ilmiah SMA/Sederajat se-Jawa Timur di Univesitas Airlangga Surabaya.

“Prestasi yang berhasil diraih oleh anak-anak setidaknya bisa di jadikan modal untuk pengembangan karya ilmiah berikutnya, dimana saat ini mereka sudah memiliki dua obyek penemuan yang masih dalam tahap penelitian,” terang Muchyiddin, Guru pembina siswa SMA NU 2 Gresik. (wan)