Pesawat ke Bawean Terlalu Kecil, Warga Tetap Pilih Naik Kapal

0
2,083 views
Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan saat meresmikan Bandara Harun Thohir di Bawean. (Foto: Dok. BG/Wan)
Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan saat meresmikan Bandara Harun Thohir di Pulau Bawean, Gresik. (Foto: Dok. BG/Wan)

BeritaGresik.com – Bandara Harun Tahir Bawean resmi beroperasi sejak 28 Januari 2016 lalu. Namun, keberadaan bandara kebanggaan warga Pulau Putri ini dinilai belum mampu menjawab kebutuhan transprortasi yang cepat dan efesien.

Penyebabnya antara lain, kapasitas penumpang yang hanya 12 orang. Selain itu, barang bawaan untuk setiap penumpang dibatasi hanya 10 kg. Demikian diungkapkan Maswadi, salah srorang pekerja jasa pengiriman barang Malaysia-Bawean, Sabtu (13/2/2016).

Menurut dia, kendati saat ini sudah ada moda transportasi udara dari Juanda Surabaya-Harun Thohir Bawean, kemungkinan warga Bawean di rantau lebih cenderung memilih transportasi kapal laut, mengingat kapasitas kargo pesawat yang sangat terbatas.

“Kalau mau naik pesawat, ongkosnya akan jadi sangat mahal, bayangkan saja, barang harus diantar dulu ke kapal di Gresik, kemudian harus kembali lagi ke Juanda Surabaya. Sementara ini tiket pesawat Airfast Ondonesia juga belum melayani secara online,” kata Maswadi.

Dia menambahkan, selama menjalani profesi jasa pengiriman barang, rata-rata warga Bawean di rantau membawa barang di atas 20 kg per orang. Karena itu, mereka diyakini lebih cenderung tetap memilih jalur transportasi kapal laut yang dipandang jauh lebih murah.

“Kalau lewat udara ongkosnya akan jauh lebih mahal, karena barang bawaan mesti dititipkan ke kapal di Pelabuhan Gresik,” tandasnya.

Pendapat serupa dikemukakan Hasan Jali, warga Bawean yang kini berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas di Kuala Lumpur, Malaysia. Menurut dia, saat ini Bandara Harun Thohir di Pulau Bawean belum menjadi moda transport yang didambakan warga, lantaran kapasitas pesawat yang terlalu kecil.

“Belum menjadi transport yang didambkan karena pesawat yang terlalu kecil, sehingga memberi batasan barang yang hanya 10 kg. Sementara orangg Bawean kebiasaannya kalau pulang itu membawa barang banyak,” ucapnya.

Kendati begitu, Hasan tidak menampik jika kahadiran transportasi udara yang ada saat ini sudah cukup membantu transportasi warga Bawean, terutama jika terjadi cuaca buruk dan gelombang tinggi.

“Tapi untuk sementara ini membantu tranpostasi laut yang selalu terkendala ombak. Pada masa depan perlu dipikirkan pesawat dengan ukuran yang lebih besar,” pungkasnya. (abr)