Kisah Makam Keramat Mbah Sinari di Sidayu Gresik

0
3,805 views
Makam keramat Mbah Sinari/Senari di sebelah timur Desa Ngawen, Kecamatan Sidayu, Gresik (Foto: BG)
Makam keramat Mbah Sinari/Senari di sebelah timur Desa Ngawen, Kecamatan Sidayu, Gresik (Foto: BG)

BeritaGresik.com – Makam keramat Mbah Sinari atau Senari terletak di sebelah timur Desa Ngawen, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Makam tersebut menjadi titik sentral atau berada tepat di tengah antara Dusun Asempapak, Asemanis dan Dusun Kuncen.

Makam berukuran sekitar 8 meter dengan lebar sekitar 0,8 meter ini berada dalam cungkup yang sederhana dan terlindungi oleh rumpun bambu dan pohon besar yang diyakini telah berusia ratusan tahun.

Sampai saat ini makam Mbah Sinari masih dikeramatkan oleh warga Desa Ngawen, Dusun Asemanis, Asempapak, Kuncen, dan desa di sekitarnya seperti Randuboto hingga Tajung. Itu terlihat dari kehadiran ribuan samiin dan sami’at dari beberapa desa tersebut.

Menurut penuturan Bapak Masrukhan, juru kunci sekaligus sesepuh Desa Ngawen dan sekitarnya, sosok Mbah Sinari diyakini oleh masyarakat setempat sebagai Kanjeng Sepuh Sidayu kelima yang dikenal dengan julukan “Nogosaliro”.

Mbah Sinari disebut memiliki senjata pamungkas “Tombak Cakra Tirta” sepanjang 4 jengkal (2,5 meter). Beliau juga  memiliki kuda putih yang setia menemani ke mana Mbah Sinari pergi. Konon kuda itu pandai melewati titian (Mowot).

Masrukhan menjelaskan, keberadaan makam Mbah Sinari atau Senari berasal dari rasa penasaran Kanjeng Sepuh Sidayu kedelapan kepada sosok berjubah dan bersurban yang kerap datang pertama di masjid dan orang terakhir meninggalkan Jami Sidayu.

Karena sosok tersebut tidak pernah bicara dan hanya berdzikir, Kanjeng Sepuh pun enggan untuk bertanya. Hingga akhirnya Kanjeng Sepuh menugaskan muridnya untuk memata-matai sosok misterius ini.

Dari pengamatan muridnya disampaikan, jika sosok ini ke masjid naik kuda putih dari Desa Ngawen melewati Asempapak. Setelah turun, dia mengikat kudanya di timur aloon aloon Sidayu lalu berjalan ke masjid.

Begitu pula ketika  pulang dari masjid, beliau berjalan menuju kudanya lalu bergegas ke Desa Ngawen. Ketika sampai di sebelah timur Desa Ngawen, sosok ini hilang beserta kudanya di antara rumpun bambu.

Berdasarkan laporan muridnya, akhirnya Kanjeng Sepuh Sidayu kedelapan isyaroh di tempat hilangnya sosok berjubah dan bersurban itu. Dari isyaroh itu ditemukan tombak “Cakra Tirta” yang disertai pesan agar tombak tersebut dimakamkan di tempat diketemukannya.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Muharam/Suro Jumat ketiga. Sejak saat itu haul Mbah Sinari atau Senari mulai dilaksanakan Kanjeng Sepuh Sidayu. Hingga saat ini haul Mbah Sinari selalu diperingati setiap tahun bersamaan dengan haul sesepuh Desa Ngawen.

Menurut penuturan Bapak Masrukhan, di sekitar makam Mbah Sinari juga ada makam Pejabat Sidayu sebelumnya. Diantaranya makam Tumenggung Suwargo (Kanjeng Sepuh Sidayu pertama) dan Mbah Sido Ngawen (Kanjeng Sepuh Sidayu ke dua).

Selain itu, ada juga makam Mbah Banteng (Kanjeng Sepuh Sidayu Ke tiga), makam Mbah Probolinggo (Kanjeng Sepuh Sidayu ke empat) dan makam Raden Ainul Khodz (Kanjeng Sepuh Sidayu ke enam) atau cucu dari Sunan Giri.

Sedangkan makam Kanjeng Sepuh ketujuh dan kedelapan berada di sekitar komplikasi Kami Sidayu. Lalu makam kanjeng Sepuh Sidayu ke sembilan Raden Badron berada di Jombang.

Konon pada masa pemerintahannya dihentikan oleh Belanda bersamaan kalahnya Kasunanan Giri oleh Mataram. Raden Badron dipindahkan ke Jombang, dan status Sidayu berubah menjadi Kawedanan. [Pengirim tulisan: M Samsul]