Semangat Kebangsaan Syehk Zainuddin al-Baweani

0
756 views
Foto para ulama Indonesia pengajar di Madrasah Darul Ulum Makkah pada tahun 1375 H/1955. Duduk paling tengah Syekh Yasin Isa al-Fadani sebagai mudir atau rektornya. Duduk di samping kiri adalah Syehk Zainuddin Bawean.
Foto para ulama Indonesia pengajar di Madrasah Darul Ulum Makkah pada tahun 1375 H/1955. Duduk paling tengah Syekh Yasin Isa al-Fadani sebagai mudir atau rektornya. Duduk di samping kiri adalah Syehk Zainuddin Bawean.

BeritaGresik.com – Semangat kebangsaan Syehk Muhammad Zainuddin al-Baweani mulai muncul ketika usianya jelang 20 tahun. Semangat kecintaan terhadap Tanah Air dibuktikan dengan terlibat mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah yang sebagian besar mahasiswanya berasal dari Nusantara.

Patriotisme dan nasionalisme dalam diri Syehk Zainuddin dan pelajar asal Nusantara lainnya yang belajar di Makkah mulai muncul ketika ada seorang guru Arab di tempat ia belajar, yakni di Madrasah Shaulatiyah, melakukan tindakan yang kurang beradab dan menghina bahasa Melayu.

Guru Arab tersebut bahkan menyebut orang Nusantara bodoh sehingga gampang dijajah oleh Belanda. Kontan saat itu juga para mahasiswa tersinggung dan marah mengecam perilaku guru tersebut. Kemudian, muncul semangat patriotisme orang Indonesia di sana untuk membela agama dan bangsanya, termasuk Syekh Zainuddin Bawean.

Pada tahun 1934, para ulama Nusantara berkumpul untuk mendirikan sebuah madrasah sendiri, dan meninggalkan Madrasah Shaulatiyah. Muncullah Madrasah Darul Ulum di tahun 1353 H/1934 yang berkarakter Islam Nusantara. Rektor pertamanya adalah Syekh Muhsin al-Musawa (wafat 1935).

Syekh Yasin Isa al-Fadani, ulama terkenal dari Nusantara dan sahabat akrab Syekh Zainuddin, juga pernah menjadi rektor di sini. Seorang ulama Maghribi kenamaan dan ahli hadis dan nahwu bernama Syekh Ali bin Ibrahim al-Maliki menjadi pelindung dan guru besar di madrasah ini.

Mulai saat itu Syekh Zainuddin pun pindah dan belajar di Madrasah Darul Ulum yang menjadi kiblat baru para pelajar Indonesia untuk studi dan menuntut ilmu di Makkah. Beliau juga ikut andil dalam pendirian dan pengembangan Darul Ulum, termasuk dipercaya mengajar.

Sejak itu Madrasah Darul Ulum terus berjaya dan menelorkan banyak ulama, karena tenaga pengajarnya yang hebat dan alim. Selain untuk memperoleh sanad hadis dan kitab dari Syekh Yasin al-Fadani, para santri yang datang dari berbagai negara itu juga berniat mendalami berbagai ilmu keislaman.

Mereka juga berniat untuk mendalami sanad keilmuan dari guru-guru besar yang kebanyakan orang Indonesia. Sementara Syekh Muhammad Yasin Isa al-Fadani (wafat 1990) adalah rektor terakhir sebelum madrasah ini ditutup oleh pemerintah Arab Saudi dengan alasan tertentu.

Selain belajar dan mengajar di Madrasah Darul Ulum, Syekh Zainuddin juga ngaji atau berguru kepada beberapa ulama di dalam pengajian Masjidil Haram maupun di rumah-rumah ulama yang berada di sekitar Makkah.

Dia menikuti pengajian Syekh Muhammad Amin al-Kutbi, Syekh Habib Hasan bin Muhammad Fad’aq, serta Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi. Itu bukti ketekunan dia mencari ilmu dan berguru kepada banyak ulama di Mekah-Madinah hingga ke Yaman dan Indonesia, tempat dia sering berceramah.

Dalam berbagai lawatan di beberapa daerah, Syekh Zainuddin selalu bersilaturrahim ke para ulama dan mengambil ijazah ammah dari mereka. Ijazah ammah adalah perkenan membaca kitab atau ilmu tertentu dari seorang guru, yang diberikan secara umum dalam jamaah pengajian, dan tidak spesifik ilmu atau kitab tertentu yang harus dibaca hingga akhir.

Di antara ulama-ulama yang memberikan ijazah ammah kepada Syekh Zainuddin yakni Syekh Muhammad Ibrahim al-Mulla, Syekh Ibrahim bin Muhammad Khair bin Ibrahim al-Ghulayaini, Syekh Habib Hamid bin Abdul Hadi bin Abdullah bin Umar al-Jailani.

Selain itu, ada juga Syekh Sayyid Muhammad bin Hadi as-Saqaf, Syekh Muhammad Abdul Hayy al-Kattani, Syekh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki, Syekh Habib Alwi bin Thohir al-Haddad dan Syekh Muhammad bin Muhammad Idris Ahyad al-Bogori.

Sementara itu, di antara para ulama yang berguru pada dia dan meriwayatkan ilmunya yakni Syekh Nabil bin Hasyim Ala Ghamri dan Syekh Sayid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani (wafat 2004). Yang terakhir ini dikenal sebagai ulama Makkah berpengaruh hingga ke Nusantara, serta penulis sejumlah buku.

Salah satu bukut yang ditulis Syekh Sayid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani, yakni “Mafahim Yajib an Tushahhah” yang mengoreksi pandangan-pandangan aliran Wahabi di Arab Saudi. Dia mendapat ijazah Syekh Muhammad Zainuddin Bawean seminggu sebelum wafatnya beliau di tahun 2004.

Setelah berulang-ulang kali meminta dan memohon akhirnya Syekh Zainuddin memberikan ijazah tersebut. Sepertinya Syekh Sayid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani enggan menghembuskan nafas terakhir sebelum mendapatkan ijazah ammah dari ulama Bawean ini. [as]