Semen Indonesia Hadapi Pesaing Pabrik Semen Baru

0
486 views

SURABAYA, BeritaGresik.com – Selama ini, ada 3 pabrikan semen besar di Indonesia yang menguasai pasar semen nasional: PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk, dan PT Holcim Indonesia Tbk.

Masih ada beberapa pabrikan semen lainnya yang skala produksi, penetrasi pasar, market share, dan sebarannya tak besar, seperti PT Semen Baturaja di Sumsel, PT Semen Bosowa di Sulsel, PT Semen Kupang di NTT, PT Semen Puger di Jember, Jatim, dan lainnya.

Tapi, dalam 5 tahun terakhir bermunculan pabrikan semen baru di Indonesia, baik yang masih merancang dan atau membangun pabrik baru, maupun telah menjalankan operasi bisnis semen di Indonesia. Sebagian pabrikan semen baru itu ada yang dimiliki korporasi asing dan swasta nasional atau gabungan keduanya.

Realitas itu menunjukkan besarnya ceruk pasar semen di Indonesia. Pembangunan infrastruktur yang dikebut pemerintah dalam 10 tahun terakhir, di antaranya proyek berskala nasional lintas wilayah seperti MP3EI era pemerintahan Presiden SBY, dan penempatan skala prioritas tinggi pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pengairan, pelabuhan, dan lainnya di era Presiden Jokowi, membuat banyak pabrikan semen melihat pasar semen potensial dalam jangka pendek maupun panjang.

Terlebih-lebih kalau dilihat tingkat konsumsi semen per kapita di Indonesia masih kalah jauh dibanding negara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand, Tiongkok, dan negara lainnya.

Fakta itu yang mendorong sejumlah pabrikan semen mancanegara menyerbu pasar Indonesia untuk memasarkan produknya. Tentunya dengan skala harga yang bersaing bahkan njomplang.

“Kondisi makro ekonomi kurang bagus ditambah banyaknya pabrikan semen baru yang masuk ke Indonesia. Kondisi ini membuat persaingan antarpabrikan semen makin keras,” kata Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (SI), Agung Wiharto.

Selama ini, PT SI menguasai hampir 42% market share semen nasional. Pabrikan semen yang mulai operasional 7 Agustus 1957 dan berkantor pusat di Gresik, Jatim ini memiliki kapasitas produksi hampir 31,8 juta ton per tahun pada 2015. Saat ini, PT SI sedang membangun 2 unit pabrik semen baru di Kabupaten Rembang dan proyek Indarung V di Sumbar, dengan masing-masing kapasitas produksi 3 juta ton per tahun.

“Proyek Rembang dan Indarung V sangat strategis menghadapi penetrasi pabrikan semen baru yang agresif masuk ke pasar Indonesia. Karena itu, kedua proyek ini harus berjalan dan tuntas sesuai jadwal,” tambah Agung.

Setidaknya ada 10 pabrikan semen baru yang berburu ceruk pasar semen di Indonesia. Siam Cement asal Thailand sedang membangun pabrik di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Siam Cement merupakan korporasi semen terbesar di Thailand. Market share Siam Cement di Asia Tenggara digeser PT SI setelah korporasi semen asal Indonesia ini mengakuisisi Thang Long Cement di Vietnam.

Sebelum itu, Siam Cement market leader bisnis semen di kawasan Asia Tenggara. Ada Semen Merah Putih (Wilmar Grup) yang sedang membangun pabrik di Banten.

Anhui Conch Cement (Tiongkok) yang telah mulai memasarkan produknya di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Papua Barat. Anhui mendatangkan produknya dalam bentuk jadi dan siap dipasarkan ke Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan.

Penetrasi Anhui yang agresif mengakibatkan hampir semua ‘pemain lama’ di Kalimantan ketar-ketir. Sebab, persentase market share mereka digerus Anhui yang menawarkan harga sangat njomplang dibanding produk semen pabrikan yang selama ini eksisting menguasai pasar semen di Kalimantan.

“Harga semen produk Anhui jauh di bawah produk kita, sehingga menekan pasar kita di Kalimantan,” aku Agung.

Di tanah Jawa selain Siam Cement, masih ada Jui Shin Indonesia (investor dari Tiongkok) juga bakal membangun pabrik di Jabar. Di Jateng setidaknya ada 3 pemain baru yang juga berniat membangun pabrik semen di sana. Ketiganya: Pabrik semen Ultratech di Wonogiri, Semen Gombong, dan Semen Grobogan. Selama ini, hanya ada satu pabrik semen di Jateng, milik PT Holcim di Cilacap setelah pabrikan semen internasional asal Swiss ini mengakuisisi PT Semen Cibinong beberapa tahun lalu.

Bagaimana dengan Jatim? Pabrik Semen Puger di Kabupaten Jember menunjukkan geliat bisnisnya dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah pabrikan semen eksisting, seperti PT Holcim, juga membangun 2 unit pabrik semen baru di Kabupaten Tuban, dengan kapasitas produksi per unitnya 1,7 juta ton per tahun. Satu unit pabrik semen Holcim di Tuban telah mulai berproduksi. “Kita terus memperluas pangsa pasar kita di Jatim dan Indonesia Timur,” ujar sebuah sumber Holcim.

Sedangkan di Sulsel yang menjadi hub mobilitas barang dan jasa untuk kawasan lain di Indonesia Timur, kabarnya, bakal ada dua pemain baru yang masuk di bisnis semen: Semen Barru dan Semen Panasia. Selain tentunya pemain lama: Semen Bosowa terus mengembangkan kepak sayap bisnisnya di Indonesia Timur. Semen Bosowa telah membangun packing plant di Kabupaten Sorong, Papua Barat dan Kabupaten Banyuwangi, Jatim. “Memang iklim persaingannya makin keras dan ketat,” tegas Dirut PT Semen Indonesia, Ir Suparni.

“Proyek pabrik semen di Rembang sangat strategis untuk menghadang pemain baru yang akan masuk. Kami bertempur dengan pemain asing di bisnis ini,” tegas Agung Wiharto.

Pertempuran sengit antarpabrikan semen di Indonesia diperkirakan berlangsung pada 2018-2020. Saat itu, semua pabrikan semen baru di Indonesia telah menyelesaikan proyek pembangunan pabrik semen miliknya.

Kontestasi bisnis semen nasional itu bakal tambah seru jika growth perekonomian nasional sejak semester II 2015 tumbuh positif dibanding semester I 2015 dan berlangsung hingga menjelang hajatan politik nasional pada 2019.

“Periode semester I 2015, kami perkirakan pertumbuhan semen secara nasional minus 1% sampai 2%,” jelas Agung.

Jika kondisi makro dan mikro ekonomi nasional normal, tingkat growth semen nasional per tahun bergerak di level 5% sampai 7%. Realitas ekonomi itu merupakan potensi bisnis luar biasa bagi pabrikan semen eksisting maupun baru.

Agung optimistis bahwa kendati PT SI ‘dikepung’ pabrikan semen asing dan swasta nasional dari banyak arah, namun bisnis semen di bawah payung PT SI diperkirakan tetap tumbuh positif dan mampu mempertahankan posisinya sebagai market leader.

Ekspektasi bisnis itu mampu diwujudkan, kata Agung, dengan satu catatan: Belanja proyek infrastruktur pemerintah dan swasta tetap tinggi, sehingga bisnis semen tetap cerah kendati semester I tahun ini pertumbuhannya kemungkinan besar minus 1% sampai 2%. Potret bisnis semen di Indonesia pada semester I 2015 ini seperti pada tahun 1999 lalu, setahun setelah Indonesia melakukan reformasi total