Empat Kecamatan di Gresik Mengalami Krisis Air Bersih

0
624 views

BeritaGresik.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mempercepat program distribusi (dropping) air bersih ke desa-desa terdampak. Saat ini, dropping air sudah mulai digulirkan.

Sejauh ini, barudua unit mobil tangki milik BPBD sudah mulai disiagakan.Rencananya, armada bakal ditambah dalam waktu dekat.

Data yang dihimpun menyebutkan, ada empat kecamatan yang beberapa desanya mengalami krisis air bersih parah kini masuk dalam daftar dropping. YAkni di Cerme,Benjeng, Bungah, serta Duduksampeyan.

Saat ini BPBD sudah mulai menerjunkan armadanya untuk mendistribusikan air ke daerah-daerah krisis itu. Sejak akhir pekan lalu, tiga desa di tiga kecamatan sudah mulai ditangani. Yakni di Gedangkulut (kecamatan Cerme), Kramat (kecamatan Duduksampeyan), serta Metatu (kecamatan Benjeng).

Hingga kemarin, tiga desa ini sudah mendapat distribusi air bersih masing-masing sebanyak 24 ribu liter. ”Secara bertahap, delapan desa terparah ini kita beri prioritas utama,” kata Kepala BPBD, Abu Hasan kemarin.

Tak hanya krisis air, wabah kekeringan juga sudah membuat areal pertanian mulai rusak. Pantauan taruna tanggap bencana (Tagana) di sejumlah kecamatan, areal pertanian saat ini sudah kehabisan sumber air. Seperti di lima desa di Kecamatan Benjeng, rata-rata di sana masih mengandalkan waduk tadah hujan. Sumber air dari Kali Lamong juga sudah susut.

Demikian juga di Duduksampeyan. Sejumlah irigasi untuk area pertanian di sana juga habis. ”Sebab, banyak jaringan irigasi, terutama waduk atau embung yang belum layak,” kata Koordinator Tagana, Abdul Mukid.

Dari data yang diperoleh, total ada 27 embung yang masih layak. Itupun, tak semuanya bisa mencukupi kebutuhan selama kemarau. Sementara itu, jumlah jaringan irigasi di Gresik yang sudah tak layak masih cukup banyak. Dari total luar jaringan sebanyak 16.286 meter persegi, yang kondisinya masih layak hanya 8.799 meter persegi saja alias baru  54 persen.

Di sisi lain, Pemkab belum ada solusi soal air bagi lahan  pertanian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hanya fokus menangani krisis air untuk konsumsi warga. ”Sedangkan, untuk pembuatan sumber air bagi lahan pertanian, sebenarnya saat ini berjalan. Namun harus bertahap,” kata Kepala BPBD, Abu Hasan. (wan)