Bermodal Semangat, Mereka Mendirikan “Bawean Foundation”

0
873 views

BAWEAN FOUNDATION – Entah bulan apa dan tanggal berapa yang pasti tahunya 2014. Sekelompok anak muda ingin bertamu ke rumah saya. Suasana dan aroma lebaran saat itu masih cukup kental. Jadi, pertemuan saat itu tidak lebih dari silaturrohim yang menjadi bagian penting bulan syawal.

Kelompok anak muda Bawean yang dalam benak saya sosok sederhana, dinamis, kreatif, dan inovatif atau apapun saja yang akan disematkan kepadanya tetaplah layak. Karena antara ide dengan aksi baginya sama dengan fakta.

Sebagai tuan rumah yang awam dengan ragam ide dan kreativitas yang menimbun di kalangan tamu-tamu muda saya, saya cukup tahu diri dan lebih memposisikan diri  sebagai pendengar aktif.

Batin saya bergumam, andaikan  Bawean punya seratus anak muda yang mau peduli terhadap tanah kelahirannya dengan aksi-aksi nyata tanpa babibu dengan teori-teori dan retorika, saya yakin Bawean akan tampak lebih memasa depan, terberdayakan, dan tercerahkan.

Bawean Foundation 1

Lazimnya kelompok aksi (agen of action) yang semuanya dimulai dengan ide, lalu ide itu dihaluskan, dibentuk, diolah agar menjadi aksi. Lalu aksi tidak berdiam menjadi kumpulan bahan diskusi tetapi terus dimaksimalkan agar mewujud menjadi fakta yang bisa dipahami, dimiliki, dan dinikmati semua orang.

Pada akhirnya ide tersebut memunculkan sebuah pernyataan pendek namun sarat pemahaman yang disertakan dengan komitmen untuk menjadi bagian di dalamnya, “Owww, ini tho, Bawean Foundation”.

Lahirnya Bawean Foundation dari kalangan anak muda bawean merupakan oase bagi kalangan tertentu  untuk dapat menikmati pendidikan berkelanjutan sebagaimana  kelompok kelas menegah atas.

Stigma pendidikan di Indonesia sebagai industri intelectual capital bukan hal  asing, melainkan realitas yang tidak dapat dihindari dikalangan dunia pendidikan, lebih-lebih  sejalan dengan ketatnya persaingan target pencapaian akademik, bonafiditas akdemik, serta–jangan terlupakan–komersialisasi akademik.

Disini anak muda Bawean dengan setumpuk idenya mencoba mencari solusi dari sekian banyak persoalan di pulaunya–setidaknya–ada satu ide  yang mengangakat harkat martabat kalangan tertentu untuk bisa duduk bersama di bangku kuliah tanpa harus terbebani masalah-masalah   yang mengikat mereka.

Melihat girroh dan semangat anak muda ini, mau tidak mau saya juga urun rembuk yang sifatnya tidak solutif melainkan memotivasi mereka dengan menyampaikan akhir dari pidato bapak proklamator, Ir. Soekarno pada peringatan 17 Agustus 1951 berikut ini :

“….Saudara-saudara…hal kemakmuran dan keadilan sosial ini, cita-cita kita, bukan cita-cita kecil. Manakala revolusi Prancis, misalnya, adalah revolusi untuk membuka pintu buat kapitalisme dan inprialisme, maka revolusi kita adalah justru untuk menjauhi kapitalis medan imprialisme. Tetapi seperti sudah puluhan, ratusan kali saya katakan. Revolusi bukan sekedar kejadian sehari, bukan sekedar satu event. Revolusi adalah suatu proses, suatu proses destruktif dan konstruktif yang gegap gempitanya kadang-kadang memakan waktu puluhan tahun. Proses destruktif kita boleh dikatakan sudah selesai, proses konstruktif kita, sekarang baru mulai. Dan ketahuilah, proses konstruktif ini memerlukan banyak waktu dan banyak pekerjaan. Ya banyak pekerjaan. Banyak pemerasan tenaga meluntur”.

Meski tak banyak yang dilakukan oleh orang tua seperti saya, setidaknya saya tidak diam dengan keinginan-keinginan besar yang akan mengupayakan menjadikan orang-orang besar—baca : sukses. Lalu urun rembuk saya ditutup dengan meminjam bahasa Michael Foucalt, seorang sosilog, “Jika semuanya dianggap tidak mungkin setidaknya masih ada yang bisa dilakukan”.

Imam Ghazali Al- Myly

(Penulis adalah salah satu masyarakat sosial yang resah dengan ketidaksamarasaan, ketidaksamarataan, dan ketidakberkeadilan)