Pesantren Penaber Lestarikan Pencak Silat Bawean Lewat Ekskul

0
189 views
Santri putri Pondok Pesantren Penaber saat belajar seni bela diri pencak silat Bawean. (Foto: Berita Gresik/Abr)

BeritaGresik.com – Alunan suara gendang dengan tempo cepat mulai terdengar keras di halaman Pondok Pesantren Penaber. Tak berselang lama, beberapa santri putri berseragam warna hijau bercampur putih mulai bergerak lincah memperagakan seni bela diri pencak silat khas Pulau Bawean.

Pemandangan di Pondok Pesantren yang terletak di Dusun Paginda, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak Bawean, Kabupaten Gresik, ini memang tidak biasa. Sebab, umumnya pencak silat di Pulau Bawean hanya digeluti kaum laki-laki.

Kendati begitu, atraksi yang ditampilkan santri wanita yang masih duduk dibangku sekolah MTs dan MA ini tidak kalah lihai dari pria. Mereka mampu memainkan jurus-jurus pedang silat Bawean dengan piawai, diiringi alunan gendang dan gong.

Kiai Mustofa, Pengasuh Pondok Pesantren Penaber menuturkan, pencak silat Bawean merupakan budaya warisan leluhur yang senantiasa harus dilestarikan. Ia meyakini pencak silat Bawean akan tetap lestari jika tradisi ini diajarkan kepada para pelajar.

Dijadikan Ekstrakurikuler

Santri putri Pondok Pesantren Penaber saat memainkan jurus pedang pencak silat Bawean. (Foto: Berita Gresik/Abr)

Pencak silat belakangan ini dikatakan mulai jarang digeluti oleh kalangan remaja di Pulau Bawean. Saat ini, seni bela diri itu hanya digandrungi oleh masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman saja. Kondisi tersebut membuat Kiai Mustofa prihatin.

Karena itu, ia bertekad untuk melestatikan pencak silat khas Bawean. Salah satu upaya yang dilakukan Kiai Mustofa untuk menjaga budaya itu dengan menjadikan pencak silat sebagai salah satu kegiatan ekstra di pesantren maupun di sekolah.

“Awalnya hanya terdorong karena ingin melestarikan tradisi lokal saja, dan sedikit berinovasi dengan pemain pencak putri, dan tererbukti keterampilan pencak silat putri di pesantren Penaber inu kerap kali tampil di berbagai acara,” tutur Mustofa.

Di pondok pesantren yang dikenal kuat dalam menjaga tradisi Bawean ini, latihan seni pencak silat digelar setiap seminggu sekali, yaitu hari Minggu pagi. Uniknya, mulai dari pemukul gendang dan gong banyak didominasi oleh para santri wanita.

Digemari Santri Putri

Saat ini pencak silat Bawean tak lagi hanya digeluti kaum pria, tapi juga para pelajar putri. Siti Fadilah (14), salah satu pelajar putri di pesantren Penaber mengaku sangat senang belajar pencak silat Bawean, apalagi ketika tampil dalam acara tertentu.

“Sebentar lagi saya akan tampil dalam acara lomba desa, disaksikan oleh pejabat pemerintah dari Gresik. Yang pasti ada perasaan bangga,” ucap pelajar yang masih duduk di bangku kelas 2 MTs ini.

Bagi kebanyakan warga Bawean, belajar seni bela diri pencak silat merupakan sebuah tradisi yang diajarkan secara turun-temurun, terutama bagi kaum pria. Selain sebagai bekal diri bagi warga Pulau Putri yang hendak merantau, pencak silat kerap ditampilkan dalam berbagai acara. (abr)