Mengintip Benda Peninggalan Kuno di Pesantren Penaber Bawean

0
709 views
Museum Dhingghelan Kona di Pondok Pesantren Penaber Bawean. (Foto: BG/Abr)
Beberapa benda kuno di Museum Dhingghelan Kona, Pondok Pesantren Penaber, Bawean. (Foto: BG/Abr)

BeritaGresik.com – Berwisata ke Pulau Bawean rasanya tak lengkap jika belum singgah di Pondok Pesantren Penaber di Dusun Paginda, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik.

Selain sebagai tempat menempa ilmu agama, Pesantren ini juga dijenal getol melestarikan budaya dan tradisi peninggalan leluhur, seperti seni bela diri pencak silat Bawean, tari Samman, Dhungka, Korcak dan budaya Bawean lainnya.

Tidak hanya itu, Pesantren yang diasuh oleh Kiai Mustafa ini banyak mengoleksi beragam benda kuno atau benda peninggalan masyarakat Bawean yang dulunya digunkan sebagai perlengkapan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangghepan (Foto: BG/Abr)
Rangghepan (Foto: BG/Abr)

Setelah alat-alat tradisional itu mulai tergantikan dengan peralatan yang lebih modern, maka keberadaan alat-alat kuno tersebut saat ini menjadi barang langka yang mulai sulit ditemukan.

Misalanya saja alat untuk memanen padi, masyarakat setempat menyebutnya “Rangghepan”. Alat ini biasanya digunakan untuk memotong satu per satu batang padi ketika panen, sebelum tergantikan oleh mesin panen padi.

Ada lagi Korkoran, sejenis alat parut kelapa. Cara penggunaannya, setelah batok kelapa dibelah dua kemudian dikeruk dengan alat ini. Uniknya, Korkoran ini berbentuk seperti binatang angsa.

Korkoran (Foto: BG/Abr)
Korkoran (Foto: BG/Abr)

Untuk mengeruk kelapa dengan Korkoran, pengguna harus terleb8h dulu naik di atasnya layaknya menunggangi binatang angsa. Alat yang terbuat dari kayu itu kini tak lagi digunakan lantaran sudah tersisih dengan kehadiran mesin parut kelapa yang lebih modern.

Selain Rangghepan dan Korkoran, masih banyak lagi alat-alat peninggalan kuno yang tersimpan rapi di salah satu ruang bangunan Pesantren Penaber, seperti alat timbangan padi, Peol untuk serut bambu dan yang lainnya.

Museum Dhingghelan Kona

Seluruh peralatan kuno tersebut oleh Kiai Mustafa dikumpulkan dalam satu ruang museum yang dalam bahasa Bawean disebutnya sebagai “Dhinggelan Kona” atau alat-alat peninggalan masasyarakat terdahulu.

Peresmian Museum Dhingghelan Kona (Foto: BG/Abr)
Peresmian Museum Dhingghelan Kona (Foto: BG/Abr)

Museum tersebut diresmikan bersamaan dengan Harlah Pondok Pesantren Penaber pada Senin (11/7/2016). Museum Dhinggelan Kona diresmikan oleh Ketua Persautuan Saudagar Bawean (PSB) As’ari.

Menurut dia, keberadaan museum ini sangat penting bagi masyarakat Bawean, utamanya bagi para generasi muda, baik sebagai bahan studi maupun dalam rangka untuk melestarian peninggalan nenek moyang.

“Berbagai peninggalan kona ini pasti ada nilai filosofinya. Untuk itu, kepada Bapak Mustofa, perlu dicari tahu filosofi tersebut agar peninggalan tersebut diketahui oleh para generasi mendatang,” ujar As’ari.

Benda Kuno Mulai Langka

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Penaber Kiai Mustafa mengatakan, tidak mudah menemukan benda-benda tersebut. Pihaknya butuh waktu lama untuk mengumpulkan benda-benda peninggalan masyarakat Bawean.

“Kalau pun ada, kondisinya sudah ada yang mulai lapuk karena beberapa benda terbuat terbuat dari kayu, seperti misalnya Korkoran,” ucapnya. (abr)