Menjaga Kearifan Lokal Bawean dengan Noko Son

0
72 views
Salah satu varian produk kerajinan Noko Son yang diangkat dari kearifan budaya lokal di Pulau Bawean. (Foto: BG/Ar)

BeritaGresik.com – Noko Gili merupakan salah satu tujuan ekowisata bahari andalan di Pulau Bawean. Pulau kecil berupa hamparan pasir putih yang elok nan eksotis di bagian timur Pulau Bawean ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun wiasatwan mancanegara.

Potensi Noko yang besar itu tidak disia-siakan oleh Edy Faiz. Dia membangun brand “Noko Son”, sebuah brand untuk kerajinan tangan yang diinspirasi oleh kearifan budaya lokal Pulau Bawean.

Noko Son sendiri berasal dari kata Noko dan Eson. Noko artinya pulau Noko, Son berasal dari kata Eson yang artinya adalah Saya. Nama Noko Son adalah bentuk dari rasa memiliki terhadap pulau yang terletak di desa Sidogedungbatu itu.

(Foto: BG/Ar)

Edy Faiz menceritakan, untuk memulai Noko Son ini, dirinya terlebih dahulu melakukan riset selama kurang lebih satu tahun. Dia memulai riset pada awal tahun 2016 dan mulai produksi pada bulan Desember 2016. Dari hasil risetnya tersebut, Pria lulusan kampus Malang Kucikwara ini memutuskan untuk memproduksi kerajinan tangan dari warisan budaya leluhur sebagai pelaut, sepeti miniatur perahu nelayan yang disebut penduduk setempat dengan jhukong dan kalotok. Namun saat kini produk Noko Son udah mulai mempunyai banyak varian, seperti lukisan di kayu dan taraan.

Menurut pria yang disapa Edy ini, niat awal dirinya membangun Noko Son untuk ikut memberi sumbangsih bagi kampung halamannya dan turut menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

“Saya membangun Noko Son ini agar bisa ikut memajukan kampung halaman saya. Semoga nanti bisa menjadi besar dan bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Bawean secara luas,” ujarnya.

(Foto: BG/Ar)

Dalam menjalankan usahanya ini, Edy dibantu oleh 10 orang pengrajin, 1 orang marketing, dan 1 orang di bagian painting. Untuk biaya Edy merogoh kocek sendiri. Modal awal kurang lebih sebesar Rp45 juta. Sampai saat ini belum ada dukungan dari pemerintah, baik secara moril ataupun materil.

Menurut Edy, salah satu kendala dalam mengembangkan usahanya ini adalah masih minimnya tenaga terampil yang ada di pulau Bawean. “Di sini tenaga terampil dan kreatif itu masih minim sekali. Ini sangat berpengaruh terhadap kuantitas produksi,” ungkapnya.

Setelah beberapa bulan berjalan, Edi makin bersemangat mengembangkan usahanya ini. Karena menurutnya Noko Son punya prospek yang sangat cerah ke depan. Apalagi, produk seperti Noko Son di Pulau Bawean masih belum ada.

(Foto: BG/Ar)

Ditanya soal prospek industri kreatif di Pulau Bawean, dengan yakin Edi menjawab bahwa industri kreatif di Bawean punya masa depan yang sangat cerah. “Sangat cerah sekali. Apalagi Bawean menjadi Andalan pariwisata di kabupaten Gresik bahkan di Jawa Timur. Jika perkembangan pariwisata bagus, industri kreatif dengan sendirinya bisa berkembang. Tinggal menunggu good will dari pemerintah untuk memajukan pariwisata Bawean yang sangat potensial ini,” tutupnya. (ar)