Tradisi Unik Maulid Nabi Ala Bawean

0
865 views
Peringatan Maulid Nabi di Masjid Jami’ Tambak Bawean, Gresik. (Foto: Beny Faza)

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslim di seluruh dunia, apalagi di Indonesia. Memperingati kelahiran nabi bagi kaum muslim merupakan kebanggaan tersendiri.

Ada banyak cara masyarakat muslim dalam mangekspresikan bentuk kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW, termasuk di Pulau Bawean. Mereka punya cara tersendiri dalam memperingati Maulid Nabi, bisa dikatakan berbeda dengan di Jawa.

Meskipun mungkin dalam pelaksanaannya dianggap berfoya-foya bagi sebagian orang di luar pulau Bawean, bagi warga Bawean Maulid Nabi mempunyai nomor urutan kedua setelah Hari Raya Idul Fitri dari segi kemeriahan acaranya.

“Bherkat” Maulid Nabi di Pulau Bawean. (Foto: Beny Faza)

Jika di dataran Jawa Maulid Nabi hanya diadakan pada tanggal 12 Rabiul Awwal saja. Namun di Bawean berbeda, acaranya dimulai dari tanggal 9 s/d 30 Rabiul Awwal. Acara tersebut diadakan secara bergantian di setiap desa, sekolah, langgar, masjid, pesantren dan di tempat penting lainnya.

Dikatakan unik dan berbeda dengan lainnya, karena dalam merayakannya tidak hanya dihiasi dengan doa-doa dan membaca Diba’iyah atau Manaqiban saja, melainkan yang menjadi sangat spektakuler dalam acara Maulid Nabi adalah berkatnya atau dalam bahasa Bawean dinamakan “Angka’an Bherkat Molod”.

Berkat Maulid di Bawean bukan seperti di dataran Jawa yang kebanyakan hanya berupa nasi, lauk dan buah saja. Di Bawean berkat yang di bawa ke masjid bisa berupa berbagai macam makanan khas dan buah-buahan. Ditambah lagi dengan nasi dan lauk, alat-alat kebutuhan dapur, serta makanan ringan/snack.

Yang paling unik lagi adalah tempat untuk menyimpan semua makanan yang akan dibawa ke Masjid tersebut, yang mana tempatnya terdiri dari timba atau “baldi” yang di pinggirnya diberi pagar-pagar kecil dari bambu dan memanjang keatas, diikat dengan tali Rafia yang kemudian pagar itu di lapisi dengan kertas kado yang indah.

Semoga tradisi ini terus berlanjut hingga seterusnya, sehingga dapat menjadi inspirasi dan syiar islam untuk kaum muslimin yang ada di penjuru Nusantara. Aamiin. (Tulisan kiriman @beny_faza)