Indahnya Menikmati Sunrise di Pulau Noko

0
680 views
Pulau Gili Noko Bawean
Pulau Gili Noko Bawean

JEMBATAN apung sudah di depan mata, jembatan yang unik dengan warna orange berpadu biru sebagai pijakan sebelum menaiki perahu wisata menuju Pulau Gili Noko.

Mesin perahu pun dinyalakan, dengan langkah perlahan aku menaiki perahu itu. Senja sore ini menemani perjalananku. Suasana laut yang tenang dan langit cerah serta suara gemerisik perahu seakan menjadi musik pengantar ke Pulau Gili.

Aku memulai perjalanan liburan yang indah ini, Sabtu 7 Mei 2016. Dengan sedikit action dan gaya, aku pun mengabadikan momen perjalanan ini dengan beberapa jepretan foto.
15 menit berlalu, Pulau Gili Noko semakin terlihat jelas, akhirnya tibalah kami di Pulau Gili setelah mengarungi laut selama 30 menit.

Perahu mulai bersandar di Pulau Gili yang siap memanjakan mata dengan pepohonan hijau lebat serta daratan yang masih berupa pasir. Pulau Bawean yang tadinya nampak hijau pun kini hanya terlihat seperti pegunungan biru berkabut.

Pulau Noko
Pulau Noko

Aku pun turun dari perahu dan mulai berjalan di jembatan apung yang siap menyambut kedatanganku. Ku langkahkan kakiku menuju sebuah rumah yang akan menjadi persinggahanku malam ini.

Sampailah aku di depan rumah orang tua angkat abangku. Dengan sapaan mereka yang sangat ramah, kami pun bersalam dan memasuki rumah tersebut. Rumah dengan jendela tirai biru membuatku lebih bersantai dengan duduk lesehan.

Tak lama datanglah seorang wanita yang kemudian menemani duduk di ruang tamu. Sedikit perbincangan di antara kami, lalu ia mengajakku berjalan keliling Pulau Gili, aku pun mengiyakan ajakan kak Ima, nama wanita itu yang baru ku tahu kemudian.

Suasana hening tanpa suara bising haluan motor membuatku benar-benar merasa liburan di pedesaan. Dengan jalan lambat ku nikmati teduhnya suasana pulau ini. Hari pun semakin petang, langit memerah membuat kami harus kembali ke rumah.

Sampainya di rumah, ibu Kak Ima memanggilku untuk segera makan malam bersama, aku pun keluar duduk bersama mereka ditengah-tengah sunyinya malam dengan langsung menyantap makanan yang sudah disediakan.

Pulau Noko
Pulau Noko

Setelah makan, aku dan kak Ima berjalan ke arah barat untuk membeli kebutuhan dan mencari suasana malam.

Malam yang indah, sepoi-sepoi angin berlalu lalang serta pemandangan miliaran bintang yang menghiasi langit malam Pulau Gili siap menemani kesunyian di ujung jembatan apung pinggir laut. Tak hanya dering telepon yang terdengar, suara keras mesin aliran listrik pun berpadu dengan keheningan malam ini.

Tiga jam sudah kami berada di bawah langit penuh bintang. Sekarang sudah jam 10, saatnya aliran listrik di Pulau Gili dimatikan, akibatnya pulau ini selalu melalui malam yang gelap tanpa listrik karena PLN belum memasuki pulau ini.

Aku dan Kak Ima bergegas pulang untuk segera tidur. Kami harus beristirahat karena besok pagi-pagi sekali kami akan pergi ke Pulau Noko dengan Abangku.
Huuaaahh.. Kantukku datang.

Kukuruyuukkk.. Suara kokok ayam membangunkanku saat jarum jam menunjuk angka 03.00 WIB. Pagi yang sejuk tanpa lampu, aku dan Kak Ima beranjak dari tempat tidur, kemudian bersiap-siap jalan pagi menelusuri Pulau Gili.

Berjalan ke arah laut yang mulai pasang, melihat-lihat lapangan berumput yang biasa digunakan pemuda Gili bermain sepak bola, tempat belajar Pulau Gili yang hanya ada Sekolah Dasar dan Madrasah, serta melihat Pulau Noko dari seberang lautan Gili.

Dengan semangat aku membangunkan abangku yang sudah berjanji padaku untuk menikmati sunrise di Pulau Noko. Setelah ia bangun, kami pun berjalan penuh semangat menuju perahu dan kini perahu siap meramaikan lautan Gili.

Keinginan hati menikmati sunrise dan keindahan pantai yang tenang serta hamparan pasir yang menyelimuti Pulau Noko sangatlah besar.

Pulau Noko
Pulau Noko

Pulau kecil bak padang pasir kini kian menjadi minat para wisatawan, tak hanya lokal bahkan turis mancanegara pun kerap mengunjungi Pulau Gili Noko yang juga memiliki pesona alam bawah laut yang siap menemani snorkeling maupun diving bagi Anda yang hobi menyelam.

Dengan berjarak hanya sekitar 300 meter dari Pulau Gili membuat perahu kami tak lama melintasi lautan untuk menyentuh Pulau Noko, bahkan jika air surut kita bisa pergi ke Pulau Noko hanya dengan berjalan kaki saat air laut setinggi lutut orang dewasa.

Mentari pagi mulai muncul dengan biasan cahayanya yang memerahkan langit pagi. Dengan sangat tidak sabar aku melangkah turun dari perahu, akhirnya ku pijakkan kakiku di hamparan pasir Pulau Noko untuk kali pertama.

Ku awali dengan langkah kecil, merasakan sapaan air pantai dan lembutnya pasir yang sudah membasuh kaki.

Akupun mengabadikan moment sunrise di Pulau Noko dengan langit luas memerah yang siap menjadi background. Berjalan mengelilingi Pulau Noko tak jarang membuatku mengeluarkan gaya pada banyak gambar.

Pemandangan yang indah, dari Pulau Noko kita bisa melihat 3 pulau sekaligus yaitu Pulau Bawean, Pulau Gili, dan Pulau Noko itu sendiri. Bermain pasir, bercanda tawa dengan Kak Ima, abang, dan yang lain membuat kebersamaan di Pulau Noko sangat terasa.

Tak terkira sudah tiga jam aku berada di Pulau Noko, tajamnya sinar matahari yang menyentuh seakan menahanku untuk kembali.

Ingin rasanya lebih lama di Pulau Noko, tapi aku harus segera kembali ke Pulau Gili dan lanjut pulang ke Pulau Bawean bersama orang yang hendak ke Sangkapura.

Tak lupa sebelum kembali ke Pulau Bawean, aku menyantap makanan serba laut yang telah disuguhkan, ada lobster dan bermacam-macam ikan laut yang pasti menggugah selera makan. Tak cukup mereka hanya menyuguhkan makanan serba laut, kini aku dan abangku dibekali lobster dan ikan besar untuk dibawa pulang.

Hari ini tgl 8 Mei 2016 pukul 10.00 WIB kami menaiki perahu menuju Pulau Bawean, langit cerah menemani perjalanan pulangku seakan melambaikan tangan dan berucap, “sampai jumpa”. Oke, sampai jumpa kembali Pulau Gili Noko.

30 menit sudah kami berada di lautan, perahu pun sudah menyentuh jembatan apung Pulau Bawean. Aku melangkah keluar menuju kendaraan yang kami bawa dan melanjutkan perjalanan pulang menuju sebuah perkampungan kecil di Kecamatan Tambak.

Liburan kali ini sangat membuatku puas. Ramahnya Pulau Gili Noko yang siap menyambut para wisatawan selalu membuat daya tarik bagi kami, harganya pun masih sangat bersahabat.

Penulis: Nur Aziza, Pelajar SMA YP 17 Surabaya