Menyusuri Sejarah Kampung Kemasan di Gresik

0
1,859 views

 

Pintu gerbang Kampung Kemasan di Gresik (Foto: BG/Wan)
Pintu gerbang Kampung Kemasan di Gresik (Foto: BG/Wan)

BeritaGresik.com – Kampung Kemasan yang terdapat di Kota Lama Gresik menyimpan kebesaran dan keindahan masa lalu. Kawasan itu bahkan sangat layak menjadi kawasan wisata ”heritage” Indonesia.

Sejumlah bangunan kuno yang dibangun lebih dari satu abad lalu itu masih tanpak berdiri kokoh dan terpelihara. Semua bangunan kuno yang terdapat di Kampung Kemasan ini syarat dengan nilai sejarah yang cukup besar.

Dari hasil penelusuran berbagai sumber, konon pada tahun 1853 di tepi sungai kecil yang menghubungkan desa Telogo Dendo yang melewati perkampungan penduduk di kota Gresik, berdiri sebuah rumah yang dibangun oleh seorang keturunan Cina bernama Bak Liong.

Dia memiliki keterampilan membuat kerajinan dari emas. Keterampilannya ini menjadikan Bak Liong terkenal, sehingga banyak penduduk yang datang untuk membuat atau memperbaiki perhiasannya. Sejak itu kawasan yang ditempatinya dinamakan Kampung Kemasan (tukang emas).

Kemudian pada 1855, H. Oemar bin Ahmad yang dikenal sebagai pedagang kulit mendirikan sebuah rumah di kawasan ini. Di samping pedagang kulit, dia membuka usaha penangkaran burung Walet. Setelah usahanya semakin maju, pada 1861 dia mendirikan dua buah rumah lagi.

Kawasan Kampung Kemasan Gresik (Foto: BG/Wan)
Kawasan Kampung Kemasan Gresik (Foto: BG/Wan)

Ketika kesehatan H.Oemar mulai menurun, tepatnya pada tahun 1896, dia menginginkan anak-anaknya untuk meneruskan usaha dagang kulit miliknya. Ketujuh anaknya tersebut diantaranya Pak Asnar, Marhabu, Abdullah, H. Djaelan, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar.

Diantara ketujuh anak H.Oemar yang tertarik untuk melanjutkan usaha perkulitan yaitu Pak Asnar, H. Djaelan, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar. Kelima anaknya itu melanjutkan usaha bapaknya, hingga mendirikan Pabrik Penyamakan Kulit di Desa Kebungson Gresik.

Dan sejak pabrik ini berdiri, usaha ini tidak hanya berhubungan dengan pengusaha kulit di Gresik dan sekitarnya, seperti Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan, tetapi sudah berhubungan dengan 22 Kabupaten di Pulau Jawa. Di antaranya Batavia, Semarang, Solo, Panarukan dan lain-lainnya.

Adanya pabrik penyamakan kulit ini telah memberikan kontribusi bagi perkembangan Gresik sebagai kota dagang. Bahkan ketika sistem kolonial tidak memberikan tempat bagi pengusaha lemah pribumi, pengusaha menengah pribumi Gresik mampu bertahan menghadapi tekanan ini.

Salah satu bangunan kuno di Kampung Kemasan Gresik (Foto: BG/Wan)
Salah satu bangunan kuno di Kampung Kemasan Gresik (Foto: BG/Wan)

Mereka mampu bersaing dengan kelas pedagang perantara yang sebagian besar dari komunitas Cina dan Arab. Bahkan, pada awal abad ke-20 Gresik sudah mampu melahirkan pengusaha-pengusaha kelas menengah pribumi yang terbilang berhasil.

Dari hasil pabrik penyamakan kulit dan hasil penjualan liur walet milik keluarga keturunan H. Oemar bin Ahmad ini berhasil mendirikan sederetan rumah di Kampung Kemasan yang saling berhadapan. Arsitektur rumah tinggal di Kampung Kemasan sangat dipengaruhi kebudayaan asing.

Pengaruh itu terlihat jelas, baik dari bentuk, ruang, elemen, ornamen maupun makna simbolik yang berada di dalamnya. Adanya ciri khas perpaduan budaya pada bangunan di Kampung Kemasan ini merupakan suatu warisan bangsa yang harus dilestarikan di tengah era globalisasi ini. [wan]