Pembatik Profesional Ajari Santri Bawean Membatik

0
12 views
Budiarti saat memberi contoh membatik kepada para santri Pondok Pesantren Penaber di Pulau Bawean. (Foto: BG/Amn)

BeritaGresik.com – Tingginya minat warga di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, untuk bisa membatik rupanya didengar oleh Siti Zunaiyah Budiarti, pembatik profesional yang juga pengurus Asosiasi Batik Jawa Timur.

Untuk itu, Budiarti ditemani sang suami menyempatkan diri berkunjung ke Pondok Pesantren Penaber Paginda, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Gresik, untuk melatih para santri yang ada di pondok tersebut supaya bisa membatik.

Budiarti yang memiliki showroom batik di kawasan Gresik Kota Baru (GKB) itu mengaku jika sebetulnya sudah lama ingin melatih santri di Bawean membatik. “Tapi baru terlaksana saat ini,” kata Budiarti ditemui di pondok Penaber Paginda pekan lalu.

Dia mengaku teringat masa kecilnya yang dibesarkan di dunia pondok pesantren. “Suasana santri yang sederhana seperti di Bawean ini membuat saya ingat masa lalu,” ujarnya di tengah kerumunan para santri.

Para santri Penaber memperlihatkan hasil membatik dengan pewarna alami. (Foto: BG/Amn)

Karena terbatasnya waktu, Budiarti yang saat ini didampingi Bambang Israwan, suaminya, hanya sempat beristirahat sebentar setibanya di Pulau Bawean. Ia pun langsung ditemui oleh Pengasuh Pondok Pesantren Penaber Kiai Mustofa.

Setelah berbincang sebentar, sekitar 10 santri yang sudah dipilih, langsung diminta untuk mengikuti Budiarti bersama Ustadzah Nana, guru di Pesantren Penaber untuk mencarai tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan sebagai pewarna batik.

Ternyata, ada banyak tumbuh-tumbuhan dan sisa-sisa akar tumbuhan, seperti daun jati, nangka, pohon maoni, serta limbah akar tanjang alias sisa-sisa akar mangrove yang dapat dijadikan bahan pewarna.

Sementara Kiai Mustofa, mengaku sangat senang ketika melihat para santrinya giat berlatih membatik. Kegiatan itu dimulai dari pagi hingga malam. “Mereka hanya istirahat makan dan sholat,” ucapnya.

Berkat ketelatenan pembatik profesional itu, dalam waktu tiga hari, 10 santri sudah bisa membatik. “Para santri juga bisa melakukan tahapan demi tahapan, mulai membuat pola, mencanting, serta pencelupan warna alami,” kata Kiai Mustofa.

Ke depan, para santri yang sudah diajari dan bisa membtaik tersebut nantinya akan diarahkan untuk membuat batik tulis khas Bawean, yakni batik yang berpola khas tentang Pulau Bawean, seperti perpaduan daun santegi, buah merah, serta rusa.

“Selain diberi pelatihan membatik oleh Budiarti, santri laki-laki dan perempuan yang terpilih dalam pelatihan tersebut juga diajari menjumput, sebuah kain di ikat dengan media lain sesuai yang di harapkan trus di beri pewarnaan alami,” kata Nana pendamping para santri.

Ahmad Sahe, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Penaber berharap kedepan para santri akan terus berkreasi, khususnya membatik. Ia mengaku sangat mengapresiasi kehadiran Budiarti ke Pulau Bawean guna mengajari santri membatik.

“Kita senang karena Budiarti bersama suaminya mau menyempatkan diri melatih santri di sini, tampa imbalan apapun. Semoga lain waktu masih mau datang ke Bawean untuk melatih santri santri membatik,” harapnya. (amn/as)