Riset: Harapan Tinggi Bisa Hancurkan Perkawinan

0
817 views
Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan

BeritaGresik.com – Hasil penelitian baru-baru ini mengungkap, bahwa memiliki standar atau harapan tinggi mengenai pasangan hidupnya tidaklah baik untuk kebahagiaan seseorang. Penelitian ini dipublikasikan dalam the Personality and Social Psychology Bulletin.

“Ada batas untuk apa yang dapat diraih oleh seseorang dalam hidup dan perkawinan,” kata James McNulty, seorang profesor di Florida State University, seperti dilansir Time.

Penelitian itu menunjukkan, memiliki standar tinggi hanya akan membuat bahagia hanya jika memiliki perkawinan yang kuat. Sedangkan memiliki standar lebih rendah itu lebih baik untuk perkawinan yang rawan.

“Biasanya orang tidak pernah ingin bertahan untuk sesuatu yang kurang dari apa yang bisa diraih, tapi kadang orang terpaksa untuk melakukan hal tersebut, dan itu lebih baik untuk meneruskan apa yang bisa diperbuat,” ujarnya.

Beda dengan penelitian sebelumnya, hasil tentang memiliki kriteria tinggi ini sangat beragam. Beberapa penelitian menemukan bahwa berharap lebih pada pasangan akan mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu yang lebih.

Namun beberapa penelitian lainnya menemukan, bahwa standar tidak terlalu tinggi lebih mudah digapai dan membuat orang merasa lebih puas akan bahagia.

McNulty menggunakan data yang ia kumpulkan dari 135 pasangan baru di Tennessee. Masing-masing diwawancara untuk mengetahui sejauh apa standar mereka dan kaitannya dengan kebahagiaan selama perkawinan.

Peneliti juga merekam diskusi antar pasangan guna memastikan tingkat perselisihan tidak langsung yang terjadi pada mereka. Perselisihan tidak langsung ini datang saat seseorang tidak langsung mengatasi masalah yang terjadi.

Selain wawancara dan merekam pola diskusi, peneliti juga meminta pasangan untuk melaporkan kebahagiaan mereka selama perkawinan. Sesi pelaporannya dua kali dalam setahun, selama empat tahun penelitian.

Hasil menunjukkan, pasangan sudah cukup bahagia dengan perkawinan mereka, juga standar yang tinggi. Namun standar yang lebih tinggi ternyata adalah hal yang buruk bagi pasangan yang tidak bersama-sama dan lebih banyak perselisihan tidak langsung.

Sebaliknya, orang dengan standar yang lebih rendah merasa lebih bahagia dengan perkawinan mereka.

“Orang yang memiliki kemampuan lebih rendah, baik karena mereka memiliki komunikasi yang buruk, hambatan eksternal, kondisi keuangan yang menekan pernikahan, atau rasa tidak percaya diri akan melakukan lebih bila mereka tidak banyak menuntut, karena mereka akan berisiko mengalami kekecewaan bila tetap menuntut,” kata McNulty.

Menurut dia, sulit untuk mengetahui cara mempertahankan paling baik untuk perkawinan. Baginya, kondisi inilah yang menantang bagi para pasangan untuk menemukan cara dan mengatasi permasalahan dalam perkawinan.

McNulty menyebut perkawinan sebagai sebuah pekerjaan, dan bagi yang tidak memiliki keinginan untuk bekerja atau waktu untuk hal tersebut lebih baik tidak terlalu menuntut terhadap pasangan.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mendorong para pasangan menghadapi masalah mereka dan dapat memecahkannya. Mungkin bagi sebagian pihak, mempertahankan perkawinan dengan standar yang tinggi dapat memotivasi mereka untuk menggapai hal tersebut.

“Bila Anda dapat memperbaiki hubungan, maka lakukanlah. Tapi bila Anda tahu bahwa Anda tidak dapat, maka lebih baik terima apa adanya,” pungkasnya. (cnn/as)