Buah Sekulerisme: Kebebasan Perilaku pada Generasi

0
698 views
Nur Rahmatul Lailiyah (Foto: Dokumentasi pribadi)

Gresik – Ironi, masyarakat Gresik yang dikenal dengan kebudayaan santrinya kembali dikagetkan dengan perilaku generasi mudanya. Bendungan Gerak Sembayat (BGS) kali ini menjadi saksi atas perilaku tak pantas dari salah satu gererasi muda Gresik ini.

Menyaksikan potret generasi muda kita sekarang seperti menyaksikan kehancuran bangsa kita di masa yang akan datang. Bagaimana tidak kasus narkoba, tawuran, pornoaksi, kriminalitas dan sejumlah kejahatan lainnya tumbuh bak jamur di musim hujan yang menempel pada tubuh generasi kita.

Berdiam diri bukanlah merupakan satu solusi dan nyata. Ternyata sudah banyak elemen masyarakat yang saat ini fokus menyelesaikan persoalan ini, hanya saja mayoritasnya belum mampu melihat apa yang menjadi penyebab mendasar, sehingga upaya-upaya itu berujung pada terulangnya persoalan-persoalan serupa.

Pendidikan menjadi bagaian yang sering dikambinghitamkan dalam masalah ini, baik pendidikan yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat maupun Negara. Benarkah demikian?

Persoalan Generasi adalah persoalan sistemik. Kerusakan generasi muda kita hakekatnya disebabkan beberapa faktor yang berjalin berkelindan, tak bisa dipisahkan. Bukan sekedar masalah keluarga atau pendidikan saja, melainkan juga melibatkan faktor-faktor lain seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik yang menjadi lingkungan bagi keluarga dan institusi pendidikan.

Dengan demikian kita bisa katakan bahwa persoalan generasi ini adalah persoalan sistemik, yang bila kita cermati dari tiga pilar pendidikan nampak bahwa ada benang merah yang menghubungkan ketiganya sebagai sebuah sistem. Ketiga pilar tersebut adalah sbb:

Keluarga

Sistem hidup masyarakat saat ini yang didominasi paham kapitalis telah menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan keluarga. Akibatnya, keluarga miskin visi pendidikan. Hidup mereka didominasi upaya untuk sekedar mengumpulkan harta dan bagaimana menghabiskannya untuk kesenangan sesaat. Suami dan istri sama-sama disibukkan oleh kerja dan karier. Sebagian menjadikannya sebagai tujuan hidup, dan sebagian lagi terdorong oleh kebutuhan dan keterpaksaan.

Dari sini, mulailah keluarga menjadi pincang. Peran dan kewajiban suami istri sebagaimana telah diatur oleh hukum-hukum syara’ diabaikan. Anak-anak kehilangan pegangan, kehilangan panutan dan sedikit demi sedikit lepas kontrol. Mereka mulai mencari perhatian, kasih sayang dan pengakuan di luar rumah.

Kondisi ini ditambah dengan kondisi sosial kultural yang juga rusak, didominasi oleh warna liberalisme. Bebas bersikap, bertingkah laku, berpendapat dan sebagainya. Anak bebas membantah orangtuanya. Anak bebas berkeyakinan sekalipun berbeda dengan orang tua. Istri bebas bekerja, berhias dan pergi ke manapun ia suka dengan alasan kepentingan kerja. Suami bebas bergaul dan bepergian dengan teman wanitanya, dan seterusnya. Konflik bermunculan di tengah keluarga. Pergaulan bebas, perselingkuhan, dan kadang berujung dengan perceraian.

Di sisi lain, nilai-nilai agama semakin menjauh dari keluarga terkikis oleh paham sekuler. Agama hanya dihayati sebatas ritual belaka dan kehilangan ruhnya sebagai pedoman dan peraturan hidup. Bagaimana tidak. Agama hanya dipelajari di bangku sekolah 3-4 jam per minggu. Lulus sekolah, belajar agama pun berhenti.

Maka tak heran bila keluarga kehilangan orientasi hidup yang seharusnya. Nasehat dan amar ma’ruf nahi munkar semakin langka. Anak tak mau mendengar nasehat orangtua, dan sebaliknya orangtua semakin segan menasehati anaknya karena merasa tak bisa atau tak paham. Pendidikan di tengah keluarga menjadi macet.

Dengan kondisi seperti ini, ketahanan keluarga menjadi rapuh. Sewaktu-waktu, institusi keluarga bisa hancur. Yang potensial menjadi korban lagi-lagi adalah anak. Bagaimana bisa lahir generasi berkualitas, generasi cemerlang dari pendidikan keluarga semacam ini?

Edukasi publik

Edukasi publik dijalankan di tengah masyarakat melalui media massa dan sosial media. Seharusnya edukasi publik mampu untuk mengcover materi-materi pendidikan yang tak tersampaikan di dalam keluarga dan institusi pendidikan atau memperkuat fakta-fakta kehidupan riil. Media massa semestinya menguatkan suasana keimanan dan ketaatan masyarakat terhadap Islam dan hukum-hukumnya. Namun dalam sistem kapitalis saat ini, edukasi publik justru menjadi sarana menjajakan gaya hidup materialis dan hedonis. Gaya hidup yang mengedepankan kesenangan dan kenikmatan materi ini adalah sarana bagi kaum kapitalis untuk memastikan barang-barang produksi mereka laris manis di pasaran.

Lihatlah bagaimana liciknya kaum kapitalis merekayasa keinginan menjadi kebutuhan melalui edukasi publik. Gadget, fashion, aksesoris sampai kuliner, menjadi kebutuhan umum terutama para pemuda setelah diiklankan oleh artis-artis idolanya. Apapun yang dipakai sang idola diburu tanpa pertimbangan kebutuhan lagi.

Maka diciptakan terus idola-idola baru. Kontes-kontes pencarian bakat menjamur. Remaja dan pemuda terobsesi menjadi artis kaya dan tenar. Tak peduli meski untuk meraih ambisi ini mereka harus membuka aurat, bergaul bebas dengan lawan jenis dan lain-lain yang menabrak aturan agama.

Di sini, di media massa dan sosial media yang menyasar pemuda, kebebasan adalah dewa. Fenomena dua selebgram, Awkarin dan Anya Geraldine, dua gadis muda yang rajin mengunggah foto dan video-video gaya hidupnya, termasuk gaya berpacaran dan bertingkah laku yang bebas bablas, bisa menjadi ilustrasi edukasi publik seperti apa yang saat ini berlangsung.

Masalahnya, konsumen edukasi publik ini mayoritas adalah pemuda. Mereka melahap berbagai informasi tanpa penyaringan. Tak ayal, terjadilah perusakan secara massif terhadap kepribadian mereka. Untuk bisa memenuhi biaya tinggi dalam mengikuti gaya hidup idola mereka, sebagian remaja putri tak segan melacurkan diri, sementara yang laki-laki terjun dalam dunia kriminal.

Institusi Pendidikan

Sistem pendidikan yang diterapkan dalam institusi pendidikan adalah sistem pendidikan sekuler. Kurikulum yang diterapkan merupakan kurikulum sekuler. Artinya, materi dan metode pengajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam didesain untuk menjadikan Islam sebagai pengetahuan belaka, ini di satu sisi.  Di sisi lain, jam mata pelajaran pendidikan agama dirancang sangat minimalis, tiga hingga empat jam sepekan.

Akibatnya, Allah SWT dipahami sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan Barat terhadap konsep ketuhanan. Para pelajar tidak akan sampai pada pemahaman konsep keridhoan Allah SWT sebagai standar kebahagiaan tertinggi yang harus diraih. Aspek kemashlahatan tetap menduduki posisi lebih tinggi daripada konsep halal haram dalam menstandarisasi aktivitas.

Di samping itu, Islam hanya dipahami sebagai agama yang mengatur urusan akhirat, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur dan memberikan solusi atas setiap persoalan kehidupan manusia.

Kurikulum pendidikan juga menjadi sarana untuk memasukkan paham-paham sesat arahan Barat seperti pluralisme dan liberalisme. Pada para pelajar ditanamkan pemikiran toleransi yang mengarah pada pengakuan kebenaran semua agama. Ditanamkan paham kebebasan dalam berpikir, berpendapat, kebebasan kepemilikan, berkeyakinan dan bertingkah laku.

Bila pemikiran semacam ini sudah ter-install dalam benak para pemuda, akan mudah bagi Barat untuk menancapkan hegemoni ideologinya di negeri muslim terbesar ini. Bagaimana tidak, para pemuda yang kelak akan mewarisi negeri sudah menjadikan Barat sebagai kiblat. Mereka berpikir dengan cara berpikir Barat, bertingkah laku dengan perilaku Barat, dan melangkah dengan arahan Barat. Islam hanya sekedar baju luar saja, isi dalamnya adalah pemikiran Barat.

Dari pembahasan di atas tampak betapa tiga pilar pendidikan menjadi rapuh karena masuknya ideologi kapitalis beserta anak-anaknya: liberalisme dan sekulerisme.

Selama sistem kapitalis yang mendominasi warna negara ini tidak didelete, selama itu pula semua persoalan kerusakan generasi yang terjadi tidak akan bisa terselesaikan secara tuntas.

Sudah waktunya kita berpaling dari sistem kapitalis-sekuler, kembali pada Islam yang telah Allah jadikan sebagai solusi bagi setiap permasalahan kaum muslimin. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut:
وَنَزَّلنا عَلَيكَ الكِتٰبَ تِبيٰنًا لِكُلِّ شَيءٍ وَهُدًى وَرَحمَةً وَبُشرىٰ لِلمُسلِمينَ
Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim (QS an-Nahl [16]: 89).

Menurut Al-Jazairi (II/84), frasa tibyan[an] li kulli syay[in] bermakna: menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat (Al-Jazairi, II/84). Ayat di atas juga menegaskan bahwa al-Quran merupakan petunjuk (hud[an]), rahmat (rahmat[an]) dan sumber kegembiraan (busyra) bagi umat.

#SaveGenerasiGresikWithKhilafah
#NegaraSokoGuruKetahananKeluarga
#MuslimahPeduliGenerasi
#IslamRahmatanLilAlamin

*) Nur Rahmatul Lailiyah, Kordinator Media MHTI DPD 2 Gresik