Curah Hujan Tinggi di Musim Kemarau, Petani Diharap Waspada

0
842 views
Nayla Alvina Rahma
Nayla Alvina Rahma

SEPERTI yang telah kita ketahui, akibat dilewati oleh garis khatulistiwa, Indonesia termasuk dalam negara tropis dan hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Lain halnya dengan negara-negara yang letaknya jauh dari garis khatulistiwa, seperti Amerika bagian Utara, Eropa, dan Australia.

Wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa memiliki 4 musim, yaitu musim panas (summer), gugur (autumn), dingin (winter), dan semi (spring). Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan musim? Penyebab utamanya akibat rotasi bumi terhadap porosnya. Saat berputar, sumbu rotasi bumi tidak sejajar dengan sumbu revolusi bumi, namun sedikit miring sekitar 23,5°.

Kemiringan itu menyebabkan pancaran sinar matahari yang diterima oleh bumi berubah secara berkala melalui tiga zona, yaitu tropic of cancer  (daerah di bumi yang dilalui garis lintang utara 23,5 derajat), tropic of equator  (daerah di Bumi yang dilalui garis lintang 0 derajat) dan tropicof capricorn  (daerah di Bumi yang dilalui garis lintang selatan 23,5 derajat).

Ini berarti pancaran sinar matahari yang diterima di tempat yang satu dengan tempat yang lain di berbagai belahan bumi tidak sama. Akibatnya, terjadi perbedaan lamanya siang dan malam, serta terjadi perbedaan musim di berbagai daerah di dunia. Ini disebut juga dengan gerak semu tahunan matahari.

Disebut gerak semu karena sebenarnya yang bergerak bukanlah matahari, melainkan bumi. Namun terlihat seolah-olah matahari yang bergerak ke BBU (Belahan Bumi Utara)  maupun BBS (Belahan Bumi Selatan).

Fenomena La Nina

Setelah mengalami musim hujan yang dibarengi El Nino, Indonesia akan mengalami musim kemarau yang ditandai oleh dua hal, yaitu angin Monsun Timur dan berkurangnya intensitas curah hujan. Monsun Timur umumnya terjadi antara Mei hingga September, disaat matahari berada di belahan bumi utara yang menyebabkan benua Australia mengalami musim dingin sehingga tekanannya lebih tinggi dibanding benua Asia yang bertekanan rendah karena lebih panas.

Menurut hukum Buys Ballot, angin akan bertiup dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah atau dengan kata lain bergerak dari suhu yang rendah ke suhu yang tinggi (tekanan berbanding terbalik dengan suhu). Karenanya, saat tekanan di benua Asia rendah, angin membawa partikel kering dari Gurun Pasir di Benua Australia yang hanya melalui lautan sempit sehingga Indonesia akan mengalami musim kemarau dan sedikit hujan.

BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) memperkirakan kemarau tahun ini akan terjadi sekitar April hingga Oktober 2016. Akhir musim kemarau tahun ini bertepatan dengan munculnya La Nina. Kemunculan La Nina diprediksi akan terjadi pada akhir tahun, yaitu antara bulan Oktober-Desember 2016 dengan peluang 50%.

La Nina, yang dalam bahasa Spanyol berarti ‘gadis kecil’, merupakan anomali suhu permukaan laut berupa penurunan suhu muka laut (lebih dingin dari rata-ratanya) di Samudera Pasifik khususnya bagian tengah Equator. La Nina mengakibatkan curah hujan bertambah bahkan berpotensi menimbulkan banjir. Peningkatan curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas La Nina tersebut.

Mengutip pernyataan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Andi Eka Sakya, sebanyak 75 persen El Nino kuat biasanya diikuti dengan La Nina berintensitas moderat atau kuat. Mengingat El Nino tahun 2015 berintensitas kuat, dikhawatirkan intensitas La Nina 2016 juga mencapai indeks kuat.

Akibat kemunculan La Nina di musim kemarau, besar kemungkinan akan terjadinya kemarau basah di Indonesia atau musim kemarau dengan curah hujan di atas normal. Artinya, meski sudah memasuki musim kemarau, namun akan sering terjadi hujan.

Akan tetapi, akibat letak geografis Indonesia yang merupakan negara maritim, tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena La Nina. Wilayah berpotensi tinggi terpengaruh oleh La Nina yaitu di selatan khatulistiwa, terutama daerah Nusa Tenggara.

Dampak La Nina

Bagaimana cara mendeteksi La Nina? Walaupun rata-rata terjadi setiap 3-7 tahun sekali dan dapat berlangsung selama 1-3 tahun, namun ‘gadis kecil’ ini tidak mempunyai periode yang tetap sehingga kemunculannya sulit diperkirakan. Namun, secara umum terdapat 3 parameter yang dapat digunakan untuk mendeteksi La Nina. Yang pertama, SOI (Southern Oscillation Index).

SOI adalah nilai indeks yang digunakan untuk menyatakan perbedaan tekanan permukaan laut (QFF) antara Tahiti dengan Darwin, Australia. La Nina akan terdeteksi ketika nilai SOI bernilai positif minimal periode tiga bulan. El Nino/La Nina yang kuat biasanya diwakili oleh SOI yang bernilai >1.5 (negatif untuk El Nino dan positif untuk La Nina).

Kedua, Suhu Muka Laut. La Nina terutama ditandai dengan mendinginnya suhu muka laut di Pasifik Equator, selain itu penyimpangan suhu muka laut di daerah tersebut bernilai negatif. Ketiga, Angin Passat. Selama La Nina terjadi, angin passat timur akan menguat sehingga perairan di sekitar Indonesia dan Australia menjadi lembab dan basah. Jika ketiga parameter tersebut terpenuhi, maka dipastikan La Nina telah terjadi.

Kemarau dengan curah hujan tinggi akibat La Nina jelas berdampak dalam berbagai hal bagi masyarakat. Dampak negatifnya, terutama untuk para petani, akan banyak terjadi gagal panen yang akhirnya akan menurunkan produktivitas tanaman terutama tembakau, bawang, dan garam.

Selain itu, hama tanaman akan tumbuh dengan subur sehingga tanaman padi dan palawija akan diserang hama dan merugikan petani. Untuk itu, petani harus sigap untuk melakukan adaptasi dalam bercocok tanam. Dilihat dari sisi kesehatan, saat terjadi banjir nanti masyarakat akan rentan terkena penyakit seperti diare dan leptospirosis.

Namun, kemarau basah ternyata juga mempunyai dampak positif, yaitu terdapat cadangan air dibandingkan musim kemarau yang biasanya kesulitan untuk mendapatkan air. Selain itu, La Nina juga menguntungkan sektor perikanan. Saat suhu muka laut di barat Samudera Pasifik hingga Indonesia menghangat, kondisi ini mendorong ikan tuna dari Pasifik timur yang dingin bergerak masuk ke kawasan timur Indonesia yang otomatis juga menguntungkan para nelayan.

Musim panen padi tahun ini diperkirakan bersamaan dengan fenomena kemarau basah yang juga pernah terjadi pada tahun 2011. Saat itu, produksi padi turun sebanyak 1,1%, hal ini juga telah diakui secara objektif oleh pemerintah. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan antisipasi agar petani tidak semakin merugi, contohnya dengan memperbaiki penangan pascapanen dengan menyediakan alat penggilingan gabah yang mencukupi.

Di sisi lain, pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga komoditas pertanian di pasaran akibat banjir. Seringkali harga-harga melambung tinggi akibat bencana alam sebagai konsekuensi kurangnya pasokan dari petani, sehingga beberapa pedagang nakal melakukan spekulasi dan penimbunan.

Nayla Alvina Rahma
Penulis adalah Taruni Sekolah Tinggi
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika