Refeleksi: “Batu dan Gincu”

0
657 views

2017415Rumah-Andun780x390
BeritaGresik.com – Perempuan itu bernama Iyah, mencoba mendiamkan tangis anaknya yang kelaparan dengan memasak batu. Padahal, dunia tengah bergincu.

Pasti kita malu melontarkan pertanyaan yang membersit di benak kita, “kenapa tidak memasak nasi atau singkong saja, Ibu Iyah?” Karena kita tahu Iyah tengah menghadapi lebih dari sekedar pertanyaan, melainkan kenyataan perihal tak ada beras, singkong atau sejenisnya yang layak dimasak untuk dimakan. Hanya batu tersedia baginya.

Pasti kita juga tidak sanggup membayangkan uang dihambur-hamburkan dalam gaya hidup hedonisme sebagian kalangan, serta beras yang membusuk di gudang-gudang Bulog tidak tersalurkan.

Kelaparan jadi begitu mencengangkan justru karena, di saat yang sama, kerakusan menganga begitu saja. Kelaparan lantas menjadi lebih dari sekedar memilukan.

Parade hedonisme tak kunjung usai. Dan memang tidak akan usai sepanjang tubuh makhluk hidup tak berhenti bergetar. Secara tak semena-mena hedonisme mewarnai bumi dengan wajah penuh solek. Parade gincu yang membuat tubuh-tubuh penuh getar.

Sedemikian rupa, sehingga kemiskinan menjadi begitu berharga karenanya. Hingga kemiskinan menjadi nilai tersendiri bagi investasi-imagi pemimpin negeri ini.

Dan, jika dalam panggung dunia ada orang-orang yang berjuang memberantas kemiskinan, yang membuat mereka begitu agung dan mulia, hal itu bukan lantaran mereka mengabaikan nilai gincu untuk solek dunia. Melainkan karena mereka telah menginjak-injak hedonisme di bawah telapak kaki langkah-langkah hidupnya, sambil merelakan dunia sibuk bersolek sendiri. Mereka lebih memilih batu daripada gincu.

“Andai kemiskinan itu berupa sosok manusia, niscaya aku membunuhnya,” demikian Ali bin Abitholib menegaskan sikapnya. Ali memang akrab dengan gilingan batu miliknya untuk menggiling gandum hingga tangannya mengeras seperti batu.

Nabi Muhammad menjulukinya “Abu Turob” (Si Bapak Debu). Dan Ali rekat dengan julukan itu. Jauh dari performa gincu yang licin, juga becek. Barangkali ia hanya akan mengabaikan gincu sepanjang tidak ada ibu Iyah memasak batu.

Dalam cara modern, sikap yang sama sejatinya kita harapkan dari Revolusi Industri di Eropa. Sebuah awal untuk keasyikan ekonomi dengan semangat ekspansi besar dan sekuler, menggantikan paradigma ekonomi klasik yang dianggap tidak lagi cukup mengenyangkan perut dunia yang kian banyak menuntut. Revolusi Industri membuat tubuh bumi semakin bergetar hebat.

Maka bukanlah suatu ironi jika wajah dunia semakin marak dengan solek. Dan hedonisme dapat kita fahami sebagai langkah maju untuk dunia yang telah bergincu.

Hanya saja menjadi ironi ketika seorang ibu Iyah tak juga bergincu, dan justru memasak batu. [alif]