“Apakah Cukup Usia Jaminan Menikah Bahagia?”

0
232 views

SEBAGAI ibu dan juga pendidik sangat prihatin melihat keadaan remaja saat ini. Dari pergaulan yang bebas, narkoba hingga nikah dini akibat free sex.

Seperti yang di lansir BeritaGresik.com, angka pernikahan dini di kalangan remaja Gresik masih terbilang cukup tinggi. Banyak alasan, persoalan konflik rumah tangga, resiko kesehatan saat melahirkan terjadi hanya karena belum cukup umur.

Di satu sisi, media baik cetak, televisi, sosmed (sosial media) secara massif menampilkan berita, tontonan, adegan yang menstimulasi hasrat seks generasi bangsa ini.

Artinya, kalau usia pernikahan terlalu dibatasi potensi kemaksiatan akan semakin merajalela, bukannya sudah sering tersebar di media adegan bercinta yang dilakukan oleh pelajar, bahkan oleh anak bau kencur yang masih SD.

Persoalan utamanya adalah bukan di umur semata, tetapi bagaimana peran negara membentuk kematangan, kemandirian generasi bangsa melalui piranti-piranti yang dimilikinya, sekaligus mencegah hal hal yang bisa merusak ahlak mereka.

Dengan begitu, generasi muda terhindar dari kematangan biologis, tapi lambat psikologis. Negara perlu menjamin hak-hak perempuan selayaknya kodrat yang ia miliki sebagai ratu di rumah tangga dan mengasuh anak-anak mereka dengan baik. Kalau tidak, wanita tetap akan jauh keluar rumah melampaui fitrahnya.

Kematangan menghadapi pernikahan tidak hanya dari faktor usia, tetapi seberapa banyak pendidikan mental kemandirian menghadapi hidup yang mereka terima.

Itulah yang menentukan, perhatikan saja kasus nikah cerainya para artis, mereka menikah di usia tua tapi toh tidak menjamin pernikahan tidak bermasalah. (Penulis: Retno Harsiwi, Pengajar SMAN 1 Menganti, Gresik)