Jerat Pergaulan Bebas di Kota Santri Gresik

No comment 1824 views

Guru SMK Dharma Wanita Gresik dan Anggota Revowriter, Citra Yanuary Anugrah Styowati, SS. (Foto: Istimewa)

PREDIKAT Gresik sebagai kota santri, yang santun dan agamis semoga tidak bergeser dengan beberapa temuan yang dilansir media tentang pergaulan bebas remaja di kota ini. Menurut catatan Dinkes Gresik, selama 2017, tercatat ada 187 kasus hamil di luar nikah (jawapos, 13/01/2017).

Bahkan menurut Kepala Dinkes Gresik, dr Nurul Dholam penderita HIV/AIDS terus bertambah tiap tahunnya. Berdasarkan data dinas desehatan, jumlah penderita HIV/AIDS tahun 2016 mencapai 76 orang dan bertambah 90 orang di tahun 2017 (Jawapos, 1/12/2017). Dari jumlah tersebut, 50% diantaranya adalah mereka dari orientasi menyimpang, yaitu Gay atau LGBT (Radar Surabaya, 1/11/2018).

Data-data di atas tidak bisa kita anggap remeh, karena setiap tahunnya selalu meningkat secara signifikan. Bahkan data di atas bisa jadi adalah puncak gunung es, sementara data yang sebenarnya justru lebih banyak dari itu.

Banyak sebab yang menjadikan remaja jatuh pada pergaulan bebas. Mulai dari keluarga yang kurang perhatian, lingkungan pergaulan yang kurang baik, yang akhirnya tanpa sadar menyeret mereka kesana. Tapi fenomena remaja saat ini yang jatuh pada kondisi yang sama tidak hanya terjadi di kota Gresik, juga terjadi di hampir semua kota atau desa.

Jika kita bandingkan dengan keadaan 10 tahun yang lalu, keadaannya tentu jauh berbeda. Saat ini internet yang dengannya kita bisa mengakses apa saja, mencari dan menemukan apapun. Bahkan bisa menembus jarak dan ruang sebagai pembatas.

Jelaslah ada liberalisasi media yang mengkampayekan gaul bebas pada remaja. Mulai dari televisi dengan tayangan acara serta sinetronnya yang bisa diadopsi perilaku pemainnya oleh remaja. Media cetak, dan buku-buku bacaan yang kurang pantas justru dijual bebas. Kalau dulu vcd porno diburu, sekarang tanpa itupun bisa dengan mudah didapatkan di internet.

Fakta gaul bebas semakin marak. Ini bukan sekedar faktor keluarga dan lingkungan, tapi ada sebuah kampanye liberalisasi gaul bebas oleh media. Sehingga fakta ini tidak terjadi di satu atau beberapa tempat saja, tetapi dari kota sampai ke pelosok-pelosok desa.

Pemerintah disini bahkan tak mampu mengontrol tayangan-tayangan di media apalagi internet. Meski sudah ada UU ITE, tapi seolah tertangkap satu tumbuh ribuan lainnya. Sehingga kita melihat seolah solusi yang diberikan pemerintah saat ini tak efektif.

Kemana Gresik Kota Santri?
Berkaca pada kota Gresik yang seharusnya menjadi kota santri dengan kesantunan dan religiusitas warganya, ternyata memang tidak bisa menjadi ukuran kesantunan seluruh warganya. Tetapi alangkah lebih baik jika kita kembali menjadikan Islam sebagai pedoman pergaulan remaja kita.

Islam memandang secara fitrah manusia memang memiliki kecenderungan dengan lawan jenisnya. Islam juga tidak melarang adanya rasa cinta atau bahkan menghapusnya. Islam membingkai cinta dalam bingkai pernikahan yang mulia.

Selain itu ada beberapa aturan yang berkaitan dengan pergaulan antara perempuan dan laki-laki yang juga di atur dalam Islam. Diantaranya perintah menundukan pandangan, kewajiban bagi wanita menutup aurat dengan sempurna, melarang safar (melakukan perjalanan) sehari semalam tanpa mahrom bagi wanita.

Kemudian, melarang berkhalwat (berdua-duaan laki-laki dan wanita) kecuali wanitanya disertai mahrom, melarang wanita keluar rumah kecuali seizin suami, memisahkan jamaah wanita dan pria, hubungan kerjasama yang bersifat umum dalam muamalat dibolehkan sesuai dengan maksud hubungan.

Namun perlu kita sadari rasa ketertarikan antara laki-laki dan perempuan meskipun itu adalah fitrah manusia dan merupakan wujud naluri berkasih sayang yang diciptakan Allah agar manusia bisa melangsungkan pernikahan dan berketurunan. Karakter naluri ini adalah akan muncul naluri ini jika ada rangsangan dari luar atau dari pikiran-pikiran yang dihadirkan. Disinilah nanti fungsi Negara dalam mengatur agar naluri ini tidak berkembang yang akhirnya menuntut pemenuhan meskipun belum adanya pernikahan.

Negara harus mengatur agar media, baik itu televisi, media massa atau cetak, bahkan media seperti internet tidak menjadikan isinya sebagai pemicu munculnya naluri ini. Sehingga mereka yang terbangkitkan nalurinya akan menginginkan pemenuhan, meskipun itu di luar pernikahan. Karenanya, negara memiliki peran besar dalam mengatur pergaulan warganya termasuk diantaranya mengatur media dengan baik.

Pink Februari
Di bulan Februari ini, ada momentum valentine’s day yang biasanya dijadikan ajang bagi muda-mudi memadu kasih. Di balik kampanye Pink Februari ini, ada kampanye pergaulan bebas yang secara tidak sadar dikampanyekan oleh media. Tidak luput pula oleh remaja di Gresik.

Semoga setelah membaca fakta pergaulan remaja saat ini, dan efeknya dengan munculnya data-data di atas, menjadikan mereka semakin menjaga diri. Jangan jadikan moment Februari ini sebagai legalitas pergaulan bebas muda-mudi.

Kita kembalikan Gresik menjadi kota santri dengan kesantunan dan religiusitasnya. Siapapun Anda dengan berbagai profesi dengan kapasitas masing-masing untuk mencegahnya. Dengan tidak hanya mendiamkan kemungkaran terjadi di depan kita serta menjadikan saling menasehati untuk kebaikan bersama.

Citra Yanuary Anugrah Styowati, SS
(Penulis adalah Guru SMK Dharma Wanita Gresik dan Anggota Revowriter)

No Response