Asian Games 2018 & Masa Depan Si Atung

No comment 491 views

(Foto: Istimewa)

AGUSTUS 2018, merupakan bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Setidaknya akan ada dua pesta besar yang akan menyedot perhatian masyarakat. Selain peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, juga akan ada perhelatan akbar olahraga bangsa-bangsa Asia, yakni Asian Games 2018 yang dipusatkan di Jakarta dan Palembang.

Pembukaan perhelatan olah raga ini pun tinggal menghitung hari. Agenda bertaraf internasional ini rencananya akan dibuka langsung oleh Presiden Indonesia pada tanggal 18 Agustus (hingga 2 september 2018) di stadion Gelora Bung Karno. Aroma perhelatan akbar Asian Games bertajuk “Energy of Asia” ini pun sudah merasuk ke seluruh penjuru tanah air. Ada harapan besar dalam diri kita sebagai bangsa untuk menjadi yang terbaik sebagai pemenang. Apalagi Indonesia diuntungkan sebagai tuan rumah.

Aroma itu pun lebih terasa dan menyentuh, khususnya bagi masyarakat Bawean. Kenapa tidak? Dari ketiga maskot yang diperkenalkan oleh panitia Asian Games, salah satunya merupakan hewan endemik Pulau Bawean, yakni rusa Bawean (Hyelaphus Kuhlii) yang merepresentasikan kecepatan.

Selain rusa Bawean, kedua maskot lainnya adalah Bhin Bhin yang merupakan seekor burung Cendrawasih (Paradisaea Apoda) dari Papua yang merepresentasikan strategi. Ketiga Kaka adalah seekor badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang merepresentasikan kekuatan.

#SaveAtung

Bagi masyarakat Bawean, terpilihnya Hyelaphus Kuhlii sebagai salah satu maskot Asian Games 18th menjadi kebanggaan tersendiri. Walau bagi sebagian orang mungkin saja sedikit asing karena rusa Bawean dalam perhelatan ini dipanggil dengan nama “Atung”.

Namun demikian, setidaknya kini khalayak Nusantara dan Internasional mengetahui dan lebih mengenal Pulau Bawean dan Atung sebagai kekayaan fauna nan istimewa. Di balik gagahnya Atung sebagai salah satu maskot Asian Games, ada kondisi memprihatinkan yang patut menjadi perhatian kita semua. Saat ini populasi “Si Atung” justru terancam punah. Kabar Atung yang berada dalam zona kepunahan haruslah menjadi perhatian lebih.

Dilansir laman tirto.id (11/07/2018), dalam rentang tiga tahun (2014-2016) populasi rusa Bawean menunjukkan angka yang tidak terlalu besar, tapi jumlahnya cukup stabil.

Dalam catatan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (PDF) Provinsi Jawa Timur, populasi rusa bawean pada tahun 2014 berjumlah 275 ekor, tahun 2015 sebanyak 325 ekor dan pada tahun 2016 berjumlah 303 ekor.

Sebagai hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, sudah selayaknya Atung mendapatkan perhatian lebih besar dari semua elemen masyarakat, hususnya bagi pemerintah. Karena angka-angka tersebut di atas tidak menutup kemungkinan justru akan mengalami penurunan jumlah di masa yang akan datang. Bahkan kepunahan akan semakin cepat terjadi, apabila kehidupan Atung semakin terancam di habitatnya sendiri.

Ancaman terbesar bisa datang dari pengrusakan hutan dan perburuhan yang dilakukan oleh manusia. Bahwa pelestarian Atung tidak hanya berfokus pada pengembangbiakan Atung saja, misalkan dalam penangkaran, akan tetapi yang lebih determain adalah bagaimana habitat Atung tidak dirusak dan penyadaran masyarakat yang harus dilakukan secara terus-menerus.

Pertama, pelestarian habitat Atung. Menjaga kelestarian habitat Atung adalah tanggungjawab kita bersama. Semua elemen masyarakat harus bergandeng tangan menjaga kelestarian hutan dan lingkungan demi terjaminnya masa depan Atung hingga dapat keluar dari zona kepunahan.

Sebagai hewan endemik yang menjadi kebanggaan bersama, sudah selayaknya gagasan perlindungan terhadap Atung dilakukan secara holistik dan terencana dengan melibatkan berbagai pihak. Baik Pemerintah Daerah maupun Pusat misalkan, sudah saatnya menghentikan “wacana perlindungan” dan berfokus pada program-program kerja konservasi, pelestarian habitat Atung yang terukur. Jangan sampai Atung (dan hewan langka lainnya di Indonesia) hanya sebagai simbol kebanggaan saja, tanpa ada kontribusi nyata dalam menjaga masa depan fauna Indonesia termasuk eksistensi Atung di Pulau Bawean yang sedang terancam punah.

Kedua, yang tak kalah pentingnya dalam memastikan masa depan Atung adalah penyadaran masyarakat. Terutama sekali bagi masyarakat yang bersentuhan langsung dengan habitat Atung di Pulau Bawean. Kita memahami bahwa penyadaran masyarakat membutuhkan proses yang tidak singkat. Maka semakin cepat dilakukan akan semakin menolong Atung untuk tetap berada di habitatnya sebagai kekayaan fauna kita. Jika bukan kita siapa lagi?

Asian Games sebagai momentum Dalam perhelatan Asian Games 18th kali ini boleh jadi Atung merupakan representasi kecepatan. Namun bagi masyarakat Bawean bisa jadi kelestarian Atung merupakan simbol kearifan masyarakat Bawean dalam menjaga lingkungannya. Masih eksisnya Atung dalam belantara Pulau Bawean, setidaknya menunjukkan bahwa ada keseimbangan dalam hidup antara manusia (masyarakat) dan lingkungan sekitar selama ini. Walau keseimbangan yang dimaksud, bisa jadi sudah semakin terkikis dan mengancam keberadaan Atung.

Adanya perhelatan Asian Games dapat menjadi momentum dalam rangka memberikan perlindungan terhadap Atung dan hewan langka lainnya di Indonesia. Atung tidak sekedar simbol representasi kecepatan, akan tetapi bagian dari cita-cita kita bersama untuk melindungi satwa baik yang dilindungi undang-undang maupun tidak.

Masyarakat Bawean sebagai kelompok yang paling dekat dengan habitat Atung, tentu tidak hanya berhadapan dengan peraturan pemerintah. Mengancam keberadaan Atung berarti berhadapan dengan hukum negara, pidana.

Selain itu, sebagai masyarakat agamis (100% Muslim), menjaga kelestarian Atung untuk terhindar dari kepunahan adalah amanah agama Islam. Dilansir dari wwf.or.id bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa Nomor 14 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem. Fatwa tersebut berisi pemikiran untuk melindungi dan melestarikan satwa langka, baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi, hidup di alam bebas atau dipelihara, memiliki populasi yang kecil dan populasinya di alam menurun drastis, serta memerlukan upaya pelestarian agar mencegah kepunahan.

Rekomendasi tersebut ditujukan kepada pemerintah, badan legislatif, pemerintah daerah, pelaku usaha, tokoh agama dan masyarakat luas termasuk masyarakat Bawean untuk melestarikan Atung. Jika tidak sekarang, kapan lagi? *.*

Akhmad Fatah Yasin (Afys), 
Sekjen Persatuan Saudagar Bawean (PSB)
No Response