Refleksi: “Sang Makna”

0
462 views
Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

BeritaGresik.com – Ada banyak berita meruyak di media massa. Dalam laporan Harian Jawa Pos (10/2), tak kurang dari 2229 media massa tersebar di Indonesia, terdiri dari 1.031 media cetak, 378 stasiun televisi, 646 radio (non komunitas), dan 174 media online.

Dari sana kita tahu berbagai warta manusia. Yang satu mencuatkan kemajuan yang membanggakan. Seperti pembangunan bandara domestik di pulau terpencil, Bawean, resmi dioperasikan. Yang lain mencuatkan kegetiran. Seperti berita tentang wanita berprofesi pencuri. (Lihat beritagresik.com).

Tetapi, dalam samudera kehidupan, keduanya hanyalah satu dari selaksa warta manusia yang dapat kita baca, lebih dari sekedar berita. Tentu saja, karena samudera kehidupan telah dengan tegas menunjuk kita sebagai Sang Makna.

Memang terdapat banyak fakta dan peristiwa di balik satu berita. Bandara perintis Bawean misalnya. Kita tidak diberitahu perihal bagaimana keberadaannya bermula dari bisik-bisik seorang tua renta pada cucunya sambil memetik cabe di pekarangan belakang rumah mereka di senja yang hangat, setengah abad yang lalu:

“Kau akan naik pesawat terbang dari pekarangan ini suatu saat nanti, cucuku.” Tentu saja si cucu menyangkal walau mendengar.

Ketika Bandara Bawean bahkan belum menjadi gagasan di ranah pemerintahan. Hingga kemudian, seperti tiba-tiba, pesawat tempur Amerika Serikat terbang begitu rendah di perairan pulau Bawean, seperti burung nazar haus bangkai, yang oleh beberapa kalangan peristiwa ini diduga menjadi pemicu digagasnya proyek Bandara yang kemudian dinamai Harun Tahir. Suatu dugaan yang tak banyak diperhitungkan, walau juga tak layak disangkal.

Kita juga tidak diberitahu perihal seorang lelaki berkostum compang-camping yang lantang mengingatkan bahwa, Bandara Bawean merupakan area pertahanan nasional yang pengerjaannya tidak boleh serampangan.

Sambil berbulan-bulan selama proyek bandara berlangsung, ia secara langsung “mengawal” pelaksanaan pembangunan. Melakukan lebih dari sekedar mengingatkan agar pengerjaan proyek jangan sampai serampangan.

“Alhamdulillah, Menteri Perhubungan RI Igansius Jonan didampingi Gubernur Jatim Pak De Karwo akhirnya datang juga meresmikan Bandara Bawean,” ucapnya di ujung telephone sehari setelah peresmian Bandara oleh Pak Jonan.

“It’s oke, no problem, walau saya sampai sekarang belum juga dapat gaji,” lanjutnya sebelum menutup telephone.

Di topik lain, beberapa wanita terseret profesi sebagai pencuri. Kita tidak tahu bagaimana mereka memilih menjadi pencuri. Tapi kita boleh menduga satu di antara mereka, setidaknya satu di antara mereka sadar bakal terhina di hadapan hukum negara.

Tetapi bukankah ia telah rela dirinya terhina demi sebingkis boneka lucu untuk putrinya yang masih balita? Barangkali setelah sekian lama melongo menyaksikan tawa bocah-bocah kaya memenuhi mata dan telinganya, juga mata dan telinga anaknya? Barangkali mereka memang tidak mampu menjadi seperti ibu Iyah yang memasak batu demi anaknya yang kelaparan (lihat beritagresik.com).

Tentu penegak hukum mesti menghukum mereka, wanita-wanita pencuri itu, betapapun hukum negara bukanlah tempat memadai untuk derap hati manusia. Terlebih hati wanita yang kedalamannya, konon, melampaui lautan terdalam.

Memang, dalam samudera kehidupan, sebobrok apa pun berita tentang manusia, ia niscaya memberi makna. Setara dengan perihal kebanggaan mereka. Dalam samudera kehidupan kita mendapati beragam berita manusia, tenggelam dalam makna yang sama. [alif]